Ayatullah Sayid Ali Khamanei:

Kehancuran Israel dengan Upaya Bangsa-Bangsa Muslim

Tanggal Posting:28/03/1397
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan dengan pejabat tinggi Iran, dan para duta besar dari negara-negara Muslim, serta masyarakat Iran, Jumat pagi (15/6) bertepatan dengan hari Idul Fitri mengatakan, rezim Zionis adalah penyebab utama perselisihan di kawasan dan di antara negara-negara Islam.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan dengan pejabat tinggi Iran, dan para duta besar dari negara-negara Muslim, serta masyarakat Iran, Jumat pagi (15/6) bertepatan dengan hari Idul Fitri mengatakan, rezim Zionis adalah penyebab utama perselisihan di kawasan dan di antara negara-negara Islam.
 
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan ini menganggap salah satu faktor dan elemen terpenting dari martabat dan kehormatan masyarakat Islam adalah persatuan dan penyelesaian perselisihan serta menyatakan, masalah utama rezim Zionis adalah ketiadaan legitimasi dan berdiri di atas fondasi yang salah. Oleh karena itu, dengan taufik ilahi dan tekad kuat bangsa-bangsa Muslim, maka Israel pasti akan binasa. Rahbar mengatakan, pengalaman historis menunjukkan bahwa agresor semacam rezim Zionis tidak akan pernah abadi, karena memiliki masalah ketiadaan legitimasi.
 
Setelah benih buruk rezim Zionis ditanam di kawasan Asia Barat dengan bantuan fitnah Inggris, dunia Islam menghadapi kesengsaraan dan rezim penjajah ini menjadi pondasi perselisihan dan konflik antara negara-negara Islam. Rezim Israel dibentuk di tanah air Palestina berdasarkan kebohongan dan hal ini menyebabkan imigrasi paksa bagi warga Palestina, penjajahan, kejahatan sehari-hari dan perselisihan antara negara-negara Islam. Pendudukan tanah Quds sebagai kiblat pertama umat Islam dilakukan dengan tujuan menciptakan friksi di antara umat Islam. Bahkan setelah berlalu tujuh puluh tahun, kehidupan rezim Zionis terus berlanjut dengan berbagai cara.
 
Rezim Zionis telah dibentuk atas dasar kekerasan, ancaman, pembunuhan dan pengusiran suatu bangsa dari tanahnya sendiri. Dalam kondisi yang demikian, tidak mungkin melegitimasi rezim ini dengan kekerasan dan pembunuhan. Kelanjutan dari perlawanan Palestina dan kegagalan proses normalisasi adalah indikasi bahwa rezim Israel tidak dapat bertahan hidup. Upaya menormalisasi sejumlah negara Arab dengan Israel di bawah rencana "Transaksi Abad" bertujuan untuk melegitimasi rezim Israel. Sebuah rezim yang tidak memiliki hubungan historis dengan kawasan itu tidak dapat mengubah geografi Palestina dengan kekerasan dan pembunuhan. Dalam ucapan Rahbar, peta Palestina tidak dapat dihapus dari geografi historis dunia.
 
Yisroel Dovid Weiss, Jurubicara Komunitas Yahudi Internasional Neturei Karta hari Rabu (13/6) kepada Press TV menekankan, keberadaan Israel adalah ilegal dan bertentangan dengan Taurat. Pada dasarnya, pendudukan Palestina bertentangan dengan perintah ilahi dan melawan Taurat. Dovid Weiss kemudian mendukung perlawanan rakyat tertindas Palestina dan mengecam kejahatan rezim Zionis. Menurutnya, Israel bukan hanya entitas ilegal, tetapi menindas rakyat dan membunuh orang Palestina.
 
Keberadaan rezim Israel tergantung pada pembunuhan orang-orang Palestina dan kejahatan ini telah mengambil dimensi baru di balik kejahatan sebagian negara-negara Arab akhir-akhir ini. Pada saat yang sama dengan pendudukan rezim Zionis dan genosida orang-orang Palestina di Jalur Gaza, beberapa orang Arab lemah mendukung pemindahan kedutaan besar Amerika ke Quds dengan dukungan Amerika dan menjalin hubungan dengan Israel. Kompromi negara-negara Arab dengan Israel dan pemindahan kedutaan Amerika ke Quds berada dalam kerangka "Transaksi Abad" berusaha merealisasikan fitnah baru yang tidak kurang dampaknya dari Hari Nakba dan itu adalah melupakan masalah Palestina dan Quds serta memberi legitimasi bagi rezim palsu Israel.
 
Shimrit Meir, orientalis Israel soal peran Arab Saudi dalam proses "Transaksi Abad" meyakini, Transaksi Abad merupakan program khusus Donald Trump, Presiden Amerika dan Mohamed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi menjadi pihak penting untuk merealisasikannya.
 
Tapi, sebagaimana ditekankan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, kebijakan arogansi saat ini di kawasan adalah menciptakan friksi dan perpecahan di antara umat Islam dan di antara rakyat negara-negara Islam. Satu-satunya cara untuk menghadapi kebijakan Amerika dan kejahatan Zionis adalah mengenali rencana musuh dan melawannya. Dalam upaya ini, tekad dan upaya semua bangsa-bangsa Islam sangat penting dan suara tunggal dalam masalah Palestina adalah akhir dari rezim Zionis.
 
Sumber: Parstoday