LAIN-LAIN SEPUTAR TAQLID

 
SOAL 46:
Apa yang dimaksud dengan jahil muqashshir ?
JAWAB:
Jahil muqashshir adalah orang yang sadar akan kebodohannya dan mengetahui cara-cara yang bisa melenyapkannya (kebodohan), namun dia tidak menempuh cara-cara tersebut.
SOAL 47:
Siapakah jahil qashir itu?
JAWAB:
Jahil qashir adalah orang yang tidak menyadari kebodohannya sama sekali, atau orang yang tidak tahu cara-cara untuk melenyapkan kebodohannya.
SOAL 48:
Apa arti ihtiyath wajib?
JAWAB:
Artinya, wajib melakukan atau wajib meninggalkan suatu perbuatan atas dasar kehati-hatian?
SOAL 49:
Apakah kata fiihi isykal (bermasalah) yang tertera dalam fatwa-fatwa menunjukkan hukum haram?
JAWAB:
Berbeda-beda sesuai konteksnya. Jika kata tersebut digunakan dalam konteks jawaz (diperbolehkannya suatu perbuatan), maka pada tingkat praktek meniscayakan hukum haram.
SOAL 50:
Apakah kata-kata berikut: fihi isykal (ada masalah), musykil (bermasalah), la yakhlu min isykal (tidak sunyi dari masalah), dan la iyskala fiihi (tidak ada masalah). merupakan fatwa ataukah ihtiyath?
JAWAB:
Semuanya adalah ihtiyath kecuali penafian isykal (la isykala fihi) yang berarti fatwa.
SOAL 51:
Apa perbedaan antara tidak diperbolehkan (adamul-jawaz) dan haram?
JAWAB:
Dalam konteks pelaksanaan, keduanya tidak berbeda.
MARJAIYAH DAN KEPEMIMPINAN
SOAL 52:
Apakah tugas syariy kaum muslimin dan apa yang wajib dilakukan ketika fatwa wali amril muslimin (pemimpin) bertentangan dengan fatwa marja lain berkenaan dengan masalah masalah sosial, politik, dan kebudayaan?. Adakah batas yang membedakan antara hukum-hukum yang ditetapkan oleh para marja dan hukum-hukum yang ditetapkan oleh wali faqih, seperti ketika pendapat seorang marja dalam masalah musik bertentangan dengan pendapat wali faqih? Manakah yang wajib diikuti dan mujzi (cukup)?
Secara garis besar, apakah hukum-hukum kenegaraan yang mana ketetapan hukum wali faqih lebih diutamakan dari pada fatwa para marja?
JAWAB:
Pendapat wali amril muslimin (pemimpin) dalam masalah-masalah yang berkenaan dengan pengaturan negara Islam dan problem-problem umum muslimin harus diikuti. Sementara setiap mukallaf boleh mengikuti marja taqlidnya masing-masing dalam masalah-masalah individual murni.
SOAL 53:
Sebagaimana Anda ketahui dalam ilmu ushulul-fiqh terdapat pembahasan tentang tema yang berjudul al-ijtihadd al-mutajazzi (ijtihadd parsial). Tidakkah pemisahan yang dilakukan oleh Imam Khomaini (qs.) antara marjaiyah dan kepemimpinan (qiyadah) dapat dianggap sebagai langkah terwujudnya tajazzi (berijtihadd secara parsial)?
JAWAB:
Pemisahan antara kepemimpinan wali faqih dan kemarjaan (qiyadah dan marjaiyah) tidak bersangkutan dengan masalah tajazzi dalam ijtihad.
SOAL 54:
Jika saya menjadi muqallid salah seorang marja, lalu wali amril muslimin mengumumkan perang atau jihad melawan orang-orang kafir dan dhalim, namun marja yang saya bertaqlid kepadanya tidak memperbolehkan saya ikutserta dalam perang tersebut. Manakah yang harus saya ikuti?
JAWAB:
Wajib menaati perintah-perintah wali amril muslimin dalam masalah-masalah umum, seperti mempertahankan (difa) Islam dan muslimin dari orang-orang kafir dan thaghut-thaghut yang agresor.
SOAL 55:
Sampai batas manakah hukum atau fatwa wali faqih dapat diterapkan? Ketika bertentangan dengan pendapat marja alam, manakah yang harus didahulukan?
JAWAB:
Mengikuti hukum wali amril muslimin wajib atas semua, dan fatwa marja taqlid lain yang berbeda tidak dapat menentangnya.
WILYATUL FAQIH DAN KEPUTUSAN PENGUASA
SOAL 56:
Apakah keyakinan akan prinsip wilayatu faqih secara konseptual dan faktual bersifat rasional (aqli) ataukah normatif (syariy)?
JAWAB:
Wilayatul faqihyang berarti kekuasaan faqih yang adil dan mengetahui agama merupakan hukum syariytaabbudiy(doktrinal) yang juga didukung oleh akal. Dan terdapat metode rasional untuk menentukan figur (mishdaq)-nya yang diterangkan dalam konstitusi Republik Islam Iran.
SOAL 57:
Apakah hukum-hukum syariah bisa diubah dan dibekukan jika pemimpin yang faqih (wali faqih) menetapkan hukum yang berbeda dengannya ketika terdapat tuntutan kemaslahatan bagi Islam dan muslimin.
JAWAB:
konteks-konteksnya berbeda.
SOAL 58:
Apakah media masa dalam pemerintahan Islam wajib berada di bawah pengawasan wali faqih atau di bawah pusat (hauzah) ilmu-ilmu agama atau lembaga lain?
JAWAB:
Ia wajib berada di bawah perintah dan pengawasan pemimpin muslimin (wali amril muslimin) dan difungsikan untuk melayani Islam dan muslimin, menyebarkan pengetahuan-pengetahuan ketuhanam yang berharga, menyelesaikan problema-problema umum masyarakat Islam dan kemajuan intelektualnya, menyatukan barisan muslimin dan menyebarkan semangat persaudaraan antar sesama mereka dan seterusnya.
SOAL 59:
Apakah orang yang tidak meyakini wewenang mutlak wali faqih dianggap muslim sejati?
JAWAB:
Tidak meyakini wewenang mutlak wali faqih pada masa kegaiban Imam Al-Hujjah (semoga jiwa-jiwa kita menjadi tebusannya), baik berdasarkan ijtihad atau taqlid tidak menyebabkan kemurtadan atau keluar dari Islam.
SOAL 60:
Apakah wali faqih memiliki wewenang dalam ciptaan (wilayah takwiniyah) yang memungkinkan ia menghapus hukum-hukum agama karena suatu alasan, seperti adanya kemaslahatan umum?
JAWAB:
Setelah wafat Rasul yang agung (saw) tidak diperbolehkan menghapus (naskh) hukum-hukum syariah Islam. Sedangkan perubahan obyek (maudhu) atau munculnya kondisi darurat dan terpaksa, atau adanya kendala temporal yang menghalangi pelaksanaan hukum bukanlah penghapusan (naskh). Adapun wilayah takwiniyah merupakan hak khusus para mashum.
SOAL 61:
Apa tugas (taklif ) kami terhadap orang-orang yang tidak meyakini wewenang faqih yang adil, kecuali dalam masalah-masalah personal (hisbiyah) saja, mengingat sebagian dari wakil-wakil mereka menyebarluaskan hal (pandangan) itu?
JAWAB:
Wewenang faqih dalam memimpin masyarakat dan mengatur masalah-masalah sosial setiap zaman merupakan salah satu dari rukun mazhab Itsna-asyariyah yang haq dan berakar dari prinsip Imamah. Seseorang yang argumentasinya mengantarkan kepada ketidakyakinan akan wewenang faqih termaafkan, namun ia tidak diperbolehkan menyebarkan perpecahan dan perselisihan.
SOAL 62:
Apakah perintah-perintah wali faqih berlaku dan mengikat seluruh muslimin ataukah hanya para muqallidnya? Apakah muqallid seorang marja yang tidak meyakini wewenang mutlak faqih (wilayah muthlaqah) wajib patuh pada wali faqih ataukah tidak?
JAWAB:
Berdasarkan fiqh mazhab Syiah, seluruh kaum muslimin wajib mematuhi perintah-perintah wilaiyah (perintah-perintah yang dikeluarkan dari posisi seseorang sebagai pemimpin,pent.) syariy yang dikeluarkan oleh pemimpin muslimin (wali amril-muslimin) dan wajib menerima sepenuhnya perintah dan larangannya, termasuk seluruh fuqaha yang agung, apalagi para muqallid mereka ! Kami meyakini bahwa keterikatan kepada wilayah faqih tidak dapat dipisahkan dari keterikatan pada Islam dan wilayah para Imam masum (wilayatul aimmah) (as).
SOAL 63:
Kata wewenang mutlak (wilayah al-mutlaqah) pada masa Rasulullah (saw) digunakan dengan maksud, bahwa jika nabi menyuruh seseorang untuk melakukan suatu perbuatan yang terberat sekalipun, maka ia wajib melakukannya, seperti apabila Nabi (saw) memerintahkan seseorang untuk bunuh diri, maka ia wajib melakukannya. Pertanyaannya adalah, apakah kata wilayah mutlaqah tetap mengandung arti yang sama, mengingat Nabi Termulia adalah pribadi yang mashum, padahal kini tidak ada pemimpin mashum?
JAWAB:
Yang dimaksud dengan wewenang mutlak (wilayah mutlaqah) bagi faqih yang memenuhi syarat-syarat ialah bahwa Islam, yang merupakan agama murni dan pemungkas agama-agama samawi dan yang kekal hingga Hari Kiamat, adalah agama yang memerintah dan mengatur masyarakat. Karenanya, harus ada penguasa, hakim syariah dan pemimpin di tengah masyarakat Islam dari semua lapisan agar dapat menjaga umat dari musuh-musuh Islam dan muslimin dan menjaga sistem mereka, menegakkan keadilan, mencegah yang kuat agar tidak menindas yang lemah, dan mengadakan sarana-sarana kebudayaan, politik, dan sosial bagi kemajuan dan perkembangan mereka.
Masalah ini dalam tingkat penerapan kadang kala bertentangan dengan keinginan-keinginan, ambisi-ambisi, kepentingan-kepentingan, dan kebebasan sebagian orang. Ketika melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan dalam acuan fiqh Islam, penguasa kaum muslimin wajib mengambil tindakan-tindakan yang dibutuhkan kapan saja ia memandang perlu hal itu.
Dan yang bertalian dengan kemaslahatan umum bagi Islam dan muslimin hendaknya keinginan dan kewenangannya mengungguli keinginan dan kewenangan orang-orang di saat terjadi pertentangan. Demikianlah sekelumit tentang wilayah al-muthlaqah.
SOAL 64:
Tetap bertaqlid kepada mujtahid yang telah wafat, berdasarkan fatwa-fatwa fuqaha, bergantung pada izin mujtahid yang masih hidup. Lalu apakah perintah-perintah dan hukum-hukum wilaiyah syariy yang ditetapkan oleh pemimpin yang telah wafat juga memerlukan izin pemimpin (qaid) yang masih hidup untuk tetap berlaku efektif, atau ia tetap berlaku dengan sendirinya?
JAWAB:
Ahkam wilaiyah (hukum-hukum yang keluar dari posisi seseorang sebagai pemimpin, pent.) dan penentuan-penentuan (tayinat) yang dikeluarkan oleh pemimmpin (wali amril muslimin), jika tidak bersifat sementara dengan batas waktu tertentu maka tetap berlaku, kecuali apabila waliul-amr yang baru memandang, maslahat untuk menggugurkannya, dan ia melakukannya.
SOAL 65:
Apakah wajib atas faqih yang hidup di Republik Islam Iran, jika tidak meyakini wewenang mutlak faqih, mentaati perintah-perintah wali faqih? Apakah jika ia menentang wali faqih dianggap fasik? Jika ada seorang faqih meyakini wewenang mutlak faqih namun mengangap dirinya lebih layak menduduki posisi tersebut, apakah jika tidak mematuhi perintah-perintah faqih yang memegang wilayah dianggap fasik?
JAWAB:
Wajib atas setiap mukallaf, termasuk faqih, mentaati perintah-perintah hukumatiyah (perintah-perintah dari posisi seseorang sebagai penguasa, pent.) wali amr muslimin, dan tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk menentang yang memegang urusan kepemimpinan karena menganggap dirinya lebih layak. Hal ini dengan catatan apabila orang yang praktis sebagai pemegang kepemimpinan (wilayah) mendapatkan tampuk wilayah melalui cara legal yang telah diketahui, jika tidak maka masalahnya sangatlah berbeda.
SOAL 66:
Apakah mujtahid yang memenuhi syarat-syarat pada masa ghaibah (ghaibnya Imam ke dua belas) mempunyai wewenang dalam menerapkan hudud (sanksi-sanksi )?
JAWAB:
Wajib melaksanakan hudud pada masa ghaibah juga. Sedangkan wewenang atas hal itu khusus ada pada pemimpin muslimin (wali amril-muslimin).
SOAL 67:
Apakah wewenang faqih (wilayah faqih) merupakan masalah taqlidi (dimana seseorang bisa mengikuti marja) ataukah masalah Iitiqadi (dimana mukallaf harus meyakininya berdasarkan nalarnya)? Dan apa hukum orang yang tidak mempercayainya?
JAWAB:
Wewenang faqih adalah salah satu aspek dari wilayah dan imamah yang merupakan salah satu prinsip mazhab. Hanya saja hukum-hukum yang berkenaan dengannya disimpulkan dari dalil-dalil syariah sebagaimana hukum-hukum fiqh lainya. Orang yang argumentasinya mengantarkan kepada penolakan terhadap hal tersebut dianggap madzur (dimaafkan).
SOAL 68:
Kami kadang kala mendengar dari sebagian pejabat tentang wewenang administratif, yang berarti mematuhi pejabat yang lebih tinggi tanpa membantah. Apa pendapat Anda dalam masalah ini? Dan apa tugas syariy kami?
JAWAB:
Perintah-perintah administratif yang diterapkan berdasarkan peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan administratif tidak boleh ditentang dan dilanggar. Meski demikian, tidak ada dalam konsep-konsep Islam sesuatu yang disebut wewenang administratif (wilayah idariyah).
SOAL 69:
Apakah wajib mematuhi ketetapan-ketetapan yang dikeluarkan oleh perwakilan wali faqih dalam kapasitasnya sebagai wakil?
JAWAB:
Jika ketetapan-ketetapannya yang mengikat (ilzami) berada dalam batas kewenangan yang dilimpahkan kepadanya oleh wali faqih, maka tidak boleh dilanggar.
THAHARAH (KESUCIAN)
AIR
SOAL 70:
Jika bagian bawah dari air sedikit (qalil) yang mengalir dari atas ke bawah tanpa tekanan terkena najasah, apakah bagian yang atas tetap suci ataukah tidak?
JAWAB:
Jika dapat dikatakan bahwa air tersebut mengalir dari atas ke bawah, maka bagian atas dari air tersebut adalah suci.
SOAL 71:
Ketika mencuci pakaian yang terkena najasah ( mutanajjis) dengan air banyak (katsir), apakah wajib memerasnya ataukah cukup bila tempat najasah terendam di dalam air tersebut setelah terlebih dahulu najasahnya dihilangkan?
JAWAB:
Cukup bila pakaian itu terendam di dalam air dan kemudian air tersebut keluar darinya, meskipun dengan digerakkan dalam air banyak (katsir), dan pemerasan tidaklah disyaratkan.
SOAL 72:
Setelah mencuci kain yang terkena najasah ( mutanajjis) dengan air yang mengalir (jari) atau air Kurr, apakah wajib memerasnya di luar air tersebut agar menjadi suci ataukah ia bisa suci dengan diperas di dalamnya?
JAWAB:
Tidak disyaratkan memeras dalam mensucikan pakaian dan sebagainya dengan air yang mengalir atau air kurr, melainkan cukup melakukan perbuatan yang menyebabkan keluarnya air di dalamnya, sekalipun hanya menggerak-gerakkannya dengan keras, misalnya.
SOAL 73:
Ketika kami hendak mencuci permadani atau karpet yang terkena najis ( mutanajjis) dengan air pipa yang bersambung ke kran, apakah ia menjadi suci begitu air pipa sampai ke tempat yang terkena najis, ataukah wajib memisahkan air bekas cucian (ghusalah) dari tempat yang tekena najis tersebut?
JAWAB:
Dalam mensucikan dengan air pipa tidak disyaratkan memisahkan air bekas cucian (ghusalah) melainkan ia menjadi suci begitu air telah mencapai tempat yang terkena najis setelah benda najisnya hilang dan air cucian itu berpindah dari tempatnya dengan cara digosok pada saat bersambung dengan (sumber).
SOAL 74:
Apa hukum berwudhu dan mandi dengan air yang kental secara alamiyah, seperti air laut yang kental dikarenakan kandungan garamnya yang banyak, danau Urumiyeh (di Iran), misalnya, atau danau lain yang lebih kental?
JAWAB:
Hanya karena kentalnya air yang disebabkan oleh kandungan garam tidak membuatnya keluar dari kategori air murni (mutlaq). Dan tolok ukur dalam memberlakukan konsekuensi-konsekuensi syariy bagi air murni (mutlaq) adalah pandangan umum (urf) yanng menganggapnya sebagai air murni (mutlaq).
SOAL 75:
Apakah untuk memberlakukan hukum-hukum air kurr wajib mengetahui dengan pasti bahwa air itu kurr atau cukup menganggapnya tetap kurr, karena sebelumnya telah diketahui demikian, seperti air di toilet kereta api dan lainnya?
JAWAB:
Jika ia telah dapat memastikan bahwa keadaan air tersebut sebelumnya telah mencapai kurr, maka ia diperbolehkan menganggapnya seperti keadaan semula.
SOAL 76:
Dalam risalah amaliyah Imam Khomaini (qs.), masalah 147, terdapat keterangan sebagai berikut: Tidak wajib memperhatikan ucapan anak kecil yang mumayyiz (sudah dapat membedakan yang baik dan buruk) berkenaan dengan thaharah dan najasah ( kesucian dan kenajisan) sampai ia mencapai usia baligh. Fatwa ini merupakan sebuah taklif yang berat karena menyebabkan, misalnya, kedua orang tua wajib mensucikan anak lelakinya setiap kali usai buang air hingga mencapai usia 15 tahun. Maka apakah tugas keagamaan berkaitan dengan masalah ini?
JAWAB:
Ucapan anak kecil yang mendekati usia baligh (murahiq) dapat diperhitungkan (mutabar).
SOAL 77:
kadang kala orang-orang menambahkan bahan-bahan tertentu kedalam air yang membuatnya berubah warna seperti susu. Apakah air ini tergolong tidak murni (mudhaf)? Dan apa hukum berwudhu dan mensucikan sesuatu dengan air tersebut?
JAWAB:
Hukum air mudhaf tidak belaku atasnya.
SOAL 78:
Apakah perbedaan antara air kurr dan air mengalir (jari) berkaitan dengan pensucian?
JAWAB:
Tidak ada beda antara keduanya dalam hal tersebut.
SOAL 79:
Jika air garam (asin) dididihkan, sahkah berwudhu dengan air yang terkumpul dari uapnya?
JAWAB:
Jika air yang disuling dari air garam itu masih dapat disebut sebagai air murni (mutlaq), maka hukum-hukum air murni (mutlaq) berlaku atasnya.
SOAL 80:
Untuk mensucikan telapak kaki atau sepatu, seseorang harus berjalan lima belas langkah. Apakah ini berlaku setelah benda najis (najasah) hilang ataukah tidak? Maka apakah telapak kaki atau sepatu menjadi suci bila benda najisnya hilang dengan berjalan lima belas langkah?
JAWAB:
Barang siapa yang telapak kakinya atau alas kakinya (sepatu/ sandal) najis karena berjalan di atas tanah, maka iaakan suci dengan berjalaan kira-kira 10 langkah di atas jlan yang kering dan suci dan benda najisnya sudah hilang.
SOAL 81:
Apakah jalan-jalan berlantai dengan aspal dan bahan-bahan lainnya tergolong dari bumi yang dapat mensucikan sehingga berjalan kaki diatasnya dapat mensucikan bagian bawah telapak kaki?
JAWAB:
Bumi yang berlantai dengan aspal tidak dapat mensucikan bagian bawah telapak kaki, atau alas pelindung kaki seperti sandal.
SOAL 82:
Apakah matahari tergolong hal yang dapat mensucikan (muthahhirah)? Jika ia tergolong muthahhirat, apa syarat-syaratnya dalam mensucikan?
JAWAB:
Bumi dan segala sesuatu yang tidak berpindah seperti bangunan, segala sesuatu yang berhubungan dengan bangunan, dan benda yang terpasang di dalamnya, seperti kayu dan pintu dan benda serupa lainnya menjadi suci bila terkena sinar matahari setelah benda najisnya (najasah) lenyap dan dengan syarat ketika terkena sinar matahari dalam keadaan basah.
SOAL 83:
Bagaimana mensucikan pakaian-pakaian yang terkena najis yang warnanya luntur dalam air ketika sedang disucikan?
JAWAB:
Jika lunturnya warna pakaian-pakaian itu tidak menyebabkan air menjadi mudhaf (tidak murni), maka pakaian tersebut menjadi suci dengan menuangkan air ke atasnya.
SOAL 84:
Ada seorang yang megisi air ke dalam sebuah bejana untuk mandi janabah. Ketika sedang mandi, air menetes dari tubuhnya ke dalam bejana tersebut, apakah air itu tetap suci dalam kondisi demikian? Dan apakah ada masalah untuk menyempurnakan mandi dengan air tersebut?
JAWAB:
Jika air menetes ke dalam bejana dari bagian tubuh yang suci, maka ia suci, dan tidak ada masalah untuk menyempurnakan mandi dengan air itu.
SOAL 85:
Apakah bisa mensucikan oven yang dibangun dari tanah liat yang dibuat dengan menggunakan air yang terkena najis ( mutanajjis)?
JAWAB:
Permukaan luarnya dapat disucikan dengan membasuh, dan cukup mensucikan permukaan luar oven yang digunakan untuk menempatkan adonan roti.
SOAL 86:
Apakah minyak najis tetap dalam kenajisannya setelah dilakukan analisis kimiawi terhadapnya sedemikian rupa, sehingga bendanya menyandang karakteristik baru, ataukah hukum istihalah (transformasi) berlaku atasnya?
JAWAB:
Hanya dengan melakukan analisis kimiawi yang bisa memberikan karakteristik baru tidak cukup untuk mensucikan dan menghalalkan benda-benda najis atau benda-benda yang diambil dari hewan yang haram.
SOAL 87:
Di desa kami ada kamar mandi umum yang atapnya datar dan rata. Tetesan-tetesan yang berasal dari uap air mandi setelah menjadi dingin mengenai kepala orang yang mandi di dalamnya. Apakah tetesan-tetesan ini suci? Apakah mandi yang dilakukan seseorang setelah kejatuhan tetesan itu sah hukumnya?
JAWAB:
Uap air kamar mandi dihukumi suci, begitu juga tetesan-tetesan yang berasal darinya, dan tetesan yang mengenai badan tidak mengganggu keabsahan mandi dan tidak menajiskan.
SOAL 88:
Sesuai hasil riset ilmiah, percampuran air minum dengan bahan-bahan mineral yang tercemar dan bakteri-bakteri menyebabkan berat jenisnya mencapai 0,1 %. Kilang penyaringan mampu mengubah air limbah dan memisahkannya dari bahan-bahan dan bakteri-bakteri tersebut melalui proses fisikal, kimiawi, dan biologis, sehingga setelah melalui beberapa penyaringan dari beberapa aspek; fisikal (warna, rasa, dan aroma), dan dari aspek kimia (bahan-bahan mineral yang tercemar) dan dari aspek higinis (bakteri-bekteri yang merugikan dan telur-telur parasit), jauh lebih bersih dari air sungai dan air danau, terutama air yang digunakan untuk irigasi.
Karena air limbah adalah air yang terkena najis ( mutanajjis), apakah ia menjadi suci melalui proses tersebut di atas, dan hukum istihalah (transformasi) berlaku atasnya, ataukah air yang dihasilkan dari proses penyaringan tersebut dihukumi najis?
JAWAB:
Istihalah (transformasi) tidak terjadi hanya dengan pemisahan bahan-bahan mineral yang tercemar dan bakteri-bakteri dari air limbah, kecuali jika proses penyaringan dilakukan dengan cara penguapan kemudian mengubah uap menjadi air kembali. Tentu, hukum ini hanya berlaku atas air limbah yang terkena najis saja, dan belum tentu air limbah itu selalu terkena najis.
TAKHALLI (BERADA DI TOILET)
SOAL 89:
Kabilah-kabilah pengembara, terutama pada hari-hari perjalanan, tidak memiliki air yang cukup untuk mensucikan tempat keluarnya air kencing. Apakah cukup mensucikannya dengan kayu dan kerikil?
JAWAB:
Selain air, tidak ada benda yang dapat mensucikan tempat keluarnya air kencing. Jika tidak dapat mensucikannya dengan air, shalatnya (tetap) sah.
SOAL 90:
Apakah hukum mensucikan tempat keluarnya air kencing dan kotoran dengan air sedikit (qalil)?
JAWAB:
Untuk membersihkan tempat keluarnya air kencing cukup dengan membasuhnya dengan air satu kali, dan untuk mensucikan tempat keluarnya kotoran wajib membasuhnya sampai benda najis dan bekas-bekasnya hilang.
SOAL 91:
Biasanya, wajib bagi orang yang akan melakukan shalat melakukan istibra setelah kencing. Karena aurat saya terluka, maka ketika sedang melakukan istibra, dan karena ditekan, darah keluar dan bercampur dengan air yang saya gunakan untuk bersuci. Akibatnya, menjadi najislah pakaian dan badan saya. Bila saya tidak melakukan istibra, maka mungkin luka saya akan sembuh. Dapat dipastikan, akibat istibra dan pengerutan aurat, luka tersebut tidak akan sembuh. Jika keadaan demikian dibiarkan terus, maka luka tidak akan sembuh kecuali setelah tiga bulan. Maka saya ingin mendapatkan penjelasan Anda, apakah saya perlu istibra ataukah tidak?
JAWAB:
Istibra tidaklah wajib, bahkan jika menyebabkan mudharat tidak diperbolehkan. Namun demikian, jika setelah buang air kecil ia tidak melakukan istibra, kemudian mengeluarkan cairan yang meragukan, maka cairan tersebut dihukumi sebagai air seni.
SOAL 92:
Setelah buang air kecil dan istibra , tanpa sengaja terkadang keluar cairan yang mirip dengan air seni. Apakah ia suci ataukah najis? Jika secara kebetulan seorang menyadari peristiwa ini setelah beberapa waktu, maka apakah hukum shalatnya yang telah lalu? Dan apakah dimasa mendatang ia diwajibkan untuk memeriksa adanya cairan yang keluar tanpa sengaja ini?
JAWAB:
Cairan yang keluar setelah melakukan istibra dan diragukan apakah air seni atau bukan, maka ia tidak dihukumi sebagai air seni melainkan dianggap suci, dan tidak diwajibkan memeriksa dan mencari dalam kasus demikian.
SOAL 93:
Jika berkenan, kami mohon Anda menjelaskan cairan yang keluar dari manusia?
JAWAB:
Cairan yang terkadang keluar sesudah air mani disebut wadziy, dan yang kadang kala keluar setelah air seni disebut wadiy, dan yang terkadang keluar setelah bercumbu antara suami isteri disebut madziy, dan semuanya suci dan tidak membatalkan kesucian.
SOAL 94:
Sebuah kursi toilet di pasang menghadap ke arah berlawanan dengan arah yang kami yakini sebagai arah kiblat, setelah beberapa waktu kami ketahui bahwa arah kursi tersebut terpaut antara 20 - 22 derajat dengan arah kiblat. Kami mohon Anda menjawab pertanyaan berikut; apakah wajib mengubah arah kursi tersebut ataukah tidak?
JAWAB:
Jika kadar penyimpangannya dari arah kiblat cukup untuk dapat disebut sebagai penyimpangan, maka tidak ada masalah dalam hal itu.
SOAL 95:
Saya punya penyakit pada saluran air seni. Setelah buang air kecil dan melakukan istibra, air seni tidak berhenti, dan saya menemukan cairan. Saya telah berkonsultasi dengan dokter dan telah melaksanakan perintahnya, namun tidak membuahkan hasil. Apa tugas saya?
JAWAB:
Keraguan akan keluarnya air seni setelah melakukan istibra tidak perlu diperhatikan, seandainya Anda meyakini yang keluar itu adalah air seni yang menetes secara terus menerus, maka Anda wajib menjalankan tugas orang beser (maslus, orang yang tidak dapat menahan kencing) sebagaimana yang disebutkan dalam risalah amaliyah Imam Khomaini (qs.), selanjutnya tidak ada sesuatu yang wajib atas diri Anda.
SOAL 96:
Bagaimana cara melakukan istibra sebelum bersuci dari buang air (istinja)?
JAWAB:
Tidak ada beda antara istibra yang dilakukan sebelum dan sesudah istinja dan mensucikan tempat keluarnya kotoran.
SOAL 97:
Untuk bekerja di sebagian perusahaan dan yayasan, seseorang diharuskan menjalani pemeriksaan-pemeriksaan kesehatan, diantaranya dengan membuka aurat. Apakah hal itu diperbolehkan ketika seseorang membutuhkan pekerjaan?
JAWAB:
Tidak boleh bagi seorang mukallaf menyingkap auratnya di hadapan penonton yang terhormat, meskipun kekaryawanannya bergantung pada hal itu, kecuali jika meninggalkan pekerjaan adalah sulit baginya dan ia terpaksa harus mendapatkannya.
SOAL 98:
Tempat keluarnya kencing menjadi suci dengan berapa kali cucian?
JAWAB:
Tempat keluarnya kencing agar dianggap suci berdasarkan ihtiyath wajib, hendaknya dibasuh dua kali dengan air sedikit.
SOAL 99:
Bagaimana cara penyuciannya tempat keluarnya kotoran belakang?
JAWAB:
Tempat kotoraang belakang dapat disucikan dengan dua cara:
a. Disiram dengan air sehingga benda najisnya hilang, dan setelah itu tidak ada kewajiban membasuhnya lagi.
b. Benda najis dihilangkan dengan tiga batu yang suci, kain, atau sejenisnya. Jika dengan tiga batu benda najisnya belum hilang maka harus dihilangkan dengan batu yang lain sehingga benar-benar bersih (benda najisnya hilang). Boleh juga tiga batu/kain diganti dengan satu batu/kain, namun dilakukan pengusapan pada tiga sisi yang berbeda.
WUDHU
SOAL 100:
Saya berwudhu dengan niat bersuci untuk shalat maghrib, apakah saya boleh menyentuh Al-Quran dan melakukan shalat isya?
JAWAB:
Setelah melaksanakan wudhu yang sah dan selama belum batal ia diperbolehkan melakukan sesuatu yang memerlukan kesucian (thaharah).
SOAL 101:
Seorang lelaki memasang rambut palsu di kepalanya. Jika dilepas, akan menyulitkan. Apakah saat berwudhu, ia boleh mengusap rambut palsunya itu?
JAWAB:
Tidak boleh mengusap rambut palsu, melainkan wajib melepasnya agar dapat mengusap kulit kepala, kecuali apabila menyulitkan dan memberatkan yang biasanya tidak dapat ditanggung.
SOAL 102:
Seorang berkata, bahwa ketika berwudhu diharuskan menuangkan air ke wajah sebanyak 2 gayung saja, sedangkan gayung yang ketiga membatalkan wudhu. Apakah ini benar?
JAWAB:
Kewajiban membasuh anggota wudhu' kali pertama hukumnya wajib,kali ke dua boleh, dan lebih dari itu tidak boleh (tidak masyru') Namun ukuran banyaknya basuhan tergantung niat si pelaku wudhu' itu sendiri, maka dari itu jika meniatkan basuhan pertama tidak ada masalah menuangkan air beberapa gayung.
SOAL 103:
Apakah boleh dalam wudhu dengan irtimas (memasukkan anggota wudhu ke dalam air) memasukkan tangan dan wajah ke dalam air beberapa kali, ataukah hanya dua kali?
JAWAB:
Diperbolehkan memasukkan wajah dan tangan ke dalam air dua kali; Kali pertama untuk pembasuhan wajib, dan yang ke dua boleh (ja iz). Namun wajib meniatkan pembasuhan kedua tangan ketika mengeluarkannya dari air agar dapat menggunakan air (sisa) wudhu untuk mengusap (mash).