SOAL 104:

SOAL 104:
Apakah minyak yang keluar dari tubuh secara alamiyah dan menutupi rambut atau kulit dianggap sebagai penghalang (hajib, yang mengahalangi air wudhu untuk sampai ke kulit)?
JAWAB:
Tidak dianggap sebagai penghalang kecuali jika kadarnya (diyakini oleh mukallaf sebagai) dapat mencegah sampainya air ke kulit atau ke rambut.
SOAL 105:
Sejak beberapa waktu lalu saya tidak mengusap kedua kaki dari ujung jari, namun saya dulu mengusap permukaan luar kaki dan sebagian dari pangkal jari-jari. Apakah mengusap dengan cara demikian sah hukumnya? dan jika hal itu dianggap bermasalah, maka apakah wajib mengqadha shalat yang telah saya lakukan ataukah tidak?
JAWAB:
Jika usapan tidak mencakup ujung jari-jari, maka wudhunya batal dan wajib mengqadha shalat-shalatnya.
SOAL 106:
Apakah yang dimaksud dengan kab (mata kaki) yang merupakan batas akhir mengusap kaki?
JAWAB:
Yang masyhur kab (mata kaki) adalah bagian yang menonjol dari bagian atas telapak kaki sampai pergelangan kaki yang biasa disebut (dalam bahasa arab) dengan qubbah bagian atas kaki. Namun, ihtiyath yang tidak boleh ditinggalkan adalah meneruskan pengusapan hingga pergelangan kaki.
SOAL 107:
Apa hukumnya berwudhu di masjid-masjid, pos-pos perbatasan dan instansi-instansi yang dibangun oleh pemerintah di negara-negara muslim?
JAWAB:
Tidak apa-apa dan tidak ada larangan syariy.
SOAL 108:
Ada sebuah mata air yang terletak di sebuah tanah milik seseorang. Jika kami hendak menarik dan menyalurkan airnya dengan pipa ke daerah yang berjarak beberapa kilo meter dari situ, maka pipa tersebut harus melewati tanah orang itu dan tanah orang-orang lain. Jika mereka tidak tidak merelakan, apakah boleh kita menggunakan air sumber itu untuk berwudhu, mandi dan pensucian-pensucian lainnya?
JAWAB:
Apabila mata air yang ada di pinggiran tanah dan di luar milik orang lain menyumber sendiri, dan sebelum mengaliri tanah disalurkan ke pipa dan pinggir tanah yang terdapat sumber didalamnya dan pinggir tanah-tanah lain digunakan sebagai tempat lewat pipa, maka tidak masalah dalam menggunakan air tersebut , selama hal itu menurut pandangan umum (urf ) tidak termasuk pelanggaran terhadap tanah yang terdapat mata air di dalamnya dan tanah orang-orang lain juga.
SOAL 109:
Tekanan air di daerah kami sangat rendah sehingga di lantai atas bangunan alirannya sangat lemah bahkan terkadang tidak sampai. Di lantai bawah juga alirannya sangat lemah. Sebagian tetangga memasang pompa, yang ketika dinyalakan, aliran air di lantai atas terputus, adapun di lantai bawah jika tidak berhenti maka tekanannya sangat lemah hingga terkadang tidak dapat dipergunakan. Dan kesulitan makin bertambah pada saat-saat wudhu dan mandi, dimana terkadang sama sekali tidak dapat menggunakan air. Apabila pompa tidak dihidupkan, semua orang dapat mempergunakan air tersebut untuk berwudhu, mandi dan untuk melakukan shalat. Di sisi lain, perusahaan air menentang pemasangan pompa dan jika menemukannya di sebuah rumah, maka akan memperingatkan pemiliknya, lalu mengenakan denda jika tidak mencabutnya. Atas dasar itulah kami mengajukan dua pertanyaan berikut:
Apakah memasang pipa tersebut diperbolehkan menurut syareat?
Jika tidak diperbolehkan, apakah hukum berwudhu dan mandi dalam keadaan pompa menyala?
JAWAB:
Memasang pompa dan memanfaatknnya dalam kasus yang ditanyakan tidak diperbolehkan. Sedangkan (keabsahan)mandi dan berwudhu dengannya diragukan.
SOAL 110:
Apa pendapat Anda tentang berwudhu sebelum masuk waktu (shalat)? dan dalam salah satu fatwa Anda yang mengatakan, bahwa, jika jarak waktu antara wudhu dan permulaan waktu shalat dekat, maka boleh shalat dengan wudhu tersebut. Apakah yang Anda maksud dengan jarak waktu dekat dengan awal waktu shalat itu?
JAWAB:
Tolok ukurnya adalah sesuai dengan anggapan umum (urf) tentang jarak waktu yang dekat dengan tibanya waktu shalat. Maka tidak masalah kalau ia berwudhu ketika itu untuk shalat (yang belum masuk waktunya tapi dekat).
SOAL 111:
Apakah dianjurkan bagi orang yang mengusap kaki dalam berwudhu untuk mengusap bagian bawah jari, yaitu bagian yang menyentuh bumi saat berjalan?
JAWAB:
Tempat mengusap adalah bagian atas telapak kaki dari ujung jari sampai ke pergelangan kaki, dan tidak ditetapkan anjuran (istihbab) untuk mengusap bagian bawah jari-jari kaki.
SOAL 112:
Jika pelaku wudhu saat membasuh kedua tangan dan wajah dengan tujuan berwudhu membuka dan menutup kran air, maka apakah hukum (menyentuh (pipa yang basah)?
JAWAB:
Tidak masalah dan tidak mengganggu sahnya wudhu. Namun, apabila setelah selesai membasuh tangan kiri, dan sebelum mengusap dengannya ia meletakkan tangannya di atas kran yang basah maka keabsahan wudhunya diragukan, jika air wudhu di telapak tangannya bercampur dengan air luar.
SOAL 113:
Apakah untuk mengusap boleh menggunakan air selain wudhu'? Begitu juga apakah mengusap kepala harus dengan tangan kanan dan dari atas ke bawah?
JAWAB:
Mengusap kepala dan kaki diharuskan dengan sisa air wudhu' yang ada pada tangan. Jika tidak ada air yang tersisa, maka harus mengsmbil dari jenggot atau alis. Dan berdasarkan ihtiyath mengusapharus dengan tangan kanan, namun tidak harus dari atas ke bawah.
SOAL 114:
Sebagian wanita mengklaim bahwa cat kuku tidak menghalangi wudhu, dan bahwa boleh mengusap kaos kaki yang transparan (dalam wudhu). Apa pendapat Anda?
JAWAB:
Jika cat kuku itu memiliki benda, maka akan menghalangi sampainya air ke kuku dan wudhunya batal. Adapun mengusap kaos kaki meskipun transparan tidak sah.
SOAL 115:
Apakah para cedera perang yang kehilangan kontrol terhadap air seninya (beser) dikarenakan menderita putus urat saraf tulang belakang (spinal cord) diperbolehkan ikut mendengarkan khotbah Jumat serta mengikuti shalat Jumat dan Ashar dengan wudhu orang beser?
JAWAB:
Keikutsertaan dalam sholat Jum'at tidak ada masalah, namun karena mereka wajib segera memulai shalat tanpa jarak waktu, maka dari itu wudhu mereka sebelum khotbah Jumat cukup untuk melakukan shalat Jumat, jika mereka tidak mengalami hadats setelah wudhu.
SOAL 116:
Orang yang tidak mampu berwudhu bisa meminta seseorang mewakilinya untuk berwudhu, dan ia niat dan mengusap dengan tangannya sendiri, jika ia tidak mampu mengusap, maka yang mewakilinya mengambil dan mengusapkan tangannya. Jika tidak mampu melakukannya, maka wakil yang menggantikannya mengambil sisa air dari tangannya dan mengusapkannya. Jika yang diwakili tidak mempunyai tangan, apa hukumnya?
JAWAB:
Jika tidak mempunyai telapak tangan hendaknya ia mengambil sisa air dari lengan dan mengusapkannya, jika tidak mempunyai lengan, ia mengambil sisa air dari wajah dan mengusapkannya ke kepala dan kedua kakinya.
SOAL 117:
Di dekat tempat shalat Jumat terdapat tempat untuk wudhu di lingkungan masjid jami. Uang yang digunakan untuk airnya tidak dibayar dari anggaran masjid. Apakah boleh bagi jamaah shalat Jumat memanfaatkan air tempat wudhu tersebut ataukah tidak?
JAWAB:
Tidak ada masalah apabila airnya diperuntukkan untuk wudhu orang-orang yang shalat secara umum.
SOAL 118:
Apakah wudhu yang dilakukan sebelum shalat dhuhur dan ashar cukup untuk shalat maghrib dan isya, mengingat ia belum melakukan apapun yang membatalkan selama itu, ataukah wajib niat dan wudhu sendiri-sendiri untuk setiap shalat?
JAWAB:
Tidak wajib melakukan wudhu untuk setiap shalat, melainkan boleh melakukan beberapa shalat dengan satu kali wudhu selama belum batal.
SOAL 119:
Bolehkah melakukan wudhu untuk melakukan shalat fardhu sebelum masuk waktunya?
JAWAB:
Tidak ada halangan berwudhu untuk melakukan shalat fardhu jika sudah hampir memasuki waktunya.
SOAL 120:
Kedua kaki saya lumpuh, karena itu saya berjalan dengan bantuan sepatu medis dan dua tongkat kayu. Karena tidak mungkin bagi saya dengan cara apapun melepas sepatu ketika akan berwudhu, maka mohon Anda menerangkan untuk saya taklif syariy berkenaan dengan mengusap kedua kaki (dalam berwudhu)?
JAWAB:
Jika melepas sepatu untuk mengusap kaki sangat menyulitkan Anda, maka mengusapnya cukup dan sah?
SOAL 121:
Jika kami sampai di suatu tempat lalu mencari air di kejauhan beberapa farsakh dan kami temukan air yang kotor, apakah wajib bertayammum atau berwudhu dengan air itu?
JAWAB:
Jika air itu suci dan penggunaannya tidak membahayakan serta khawatir akan bahaya juga tidak ada, maka wajib berwudhu dengannya, dan dengan keberadaan air tersebut tidak boleh berpindah kepada tayammum.
SOAL 122:
Apakah wudhu itu sendiri dianjurkan (mustahab), dan sahkah berwudhu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah (qurbah) sebelum tiba waktu shalat lalu memakainya untuk shalat?
JAWAB:
Wudhu dengan tujuan berada dalam keadaan suci adalah diutamakan (rajih) secara syariy, dan boleh melakukan shalat dengan wudhu yang mustahab.
SOAL 123:
Bagaimana hukum orang yang selalu pergi ke masjid, shalat, membaca Al-Quran dan berziarah ke (pusara) para mashum (as.), sedangkan ia selalu ragu dengan wudhunya?
JAWAB:
Ragu tentang kesucian setelah melakukan wudhu tidaklah diperhitungkan. Selama seorang tidak yakin bahwa wudhunya batal maka ia diperbolehkan bershalat dan membaca Al-Quran, serta ziarah.
SOAL 124:
Apakah mengalirnya air ke setiap bagian tangan merupakan syarat bagi keabsahan wudhu ataukah cukup mengusapnya dengan tangan yang basah?
JAWAB:
Tolok ukur dalam membasuh adalah menyampaikan air ke seluruh bagian anggota meskipun dengan cara mengusap bagian tersebut dengan tangan, namun mengusap anggota wudhu' dengan tangan basah saja tidak cukup.
SOAL 125:
Apakah dalam mengusap kepala cukup dengan membasahi rambut saja, ataukah basahnya tangan wajib mengenai kulit kepala?
JAWAB:
Mengusap kulit kepala tidaklah wajib. Dengan mengusap rambut yang ada pada bagian depan kepala sudah diangap cukup.
SOAL 126:
Bagaimana orang yang mengenakan rambut pasangan mengusap kepalanya dalam wudhu' ? Dan bagaimana kewajibannya dalam hal mandi?
JAWAB:
Apabila rambut pasangan tersebut ditanam dan tidak dapat dilepas atau menghilangkannya menyulitkan dan membahayakan serta dengan keberadaannya air tidak dapat sampai kedalam kulit, maka cukup dengan mengusapnya. Hukum mandinya pun demikian.
SOAL 127:
Apa hukum memisahkan antara masing-masing anggota wudhu atau mandi dengan jarak waktu?
JAWAB:
Adanya jarak waktu (tidak berkesinambungan) dalam mandi tidak bermasalah, sedangkan dalam wudhu jika menunda penyempurnaan wudhu menyebabkan anggota yang sudah terlewati (yang sudah dibasuh atau diusap) kering, maka wudhunya batal.
SOAL 128:
Apa hukum wudhu dan shalat orang yang tidak dapat menahan angin (kentut) tapi dalam ukuran sedikit?
JAWAB:
Jika ia tidak mempunyai waktu untuk mempertahankan wudhunya sampai akhir shalat dan memperbarui wudhunya di tengah shalat menyulitkannya, maka diperbolehkan melakukan satu shalat dengan satu kali wudhu, yakni cukup dengan satu kali wudhu melakukan shalat sekali, meskipun wudhunya batal di pertengahan shalat.
SOAL 129:
Beberapa orang menempati sebuah komplek hunian, namun mereka enggan membayar biaya keamanan dan jasa-jasa lain yang mereka gunakan, seperti air dingin dan panas, air conditioning dan sebagainya. Apakah shalat dan puasa dan amal ibadah mereka yang membebankan tanggungan keuangan jasa-jasa tersebut pada tetangganya yang merasa keberatan dan tidak rela dianggap batal menurut syariah Islam?
JAWAB:
Secara syariy masing-masing dari mereka berhutang sesuatu yang wajib mereka bayar atas biaya penggunaan sarana-sarana umum. Jika mereka memang bermaksud untuk tidak membayar biaya air dan tetap menggunakannya untuk wudhu dan mandi maka keabsahan keduanya diragukan, bahkan batal.
SOAL 130:
Seseorang mandi janabah, dan 3 sampai 4 jam kemudian ia ingin melakukan shalat, namun tidak mengetahui apakah mandinya itu batal ataukah tidak. Apakah ada masalah ia berhati-hati dengan berwudhu ataukah tidak?
JAWAB:
Dengan asumsi tersebut diatas, wudhu tidaklah wajib, namun tidak ada halangan syariy untuk berhati-hati (ihtiyath).
SOAL 131:
Apakah anak kecil yang belum baligh dianggap muhdits (tidak suci) dengan hadats kecil? Bolehkah membiarkannya menyentuh tulisan Al-Quranul Karim?
JAWAB:
Ya, ia menjadi muhdits karena melakukan hal-hal yang menggugurkan wudhu, namun tidak diwajibkan atas para mukallaf melarang anak kecil menyentuh tulisan Al-Quranul Karim.
SOAL 132:
Jika salah satu anggota dalam wudhu setelah dibasuh dan sebelum selesai wudhu terkena najis, apa hukumnya?
JAWAB:
Hal itu tidak mengganggu keabsahan wudhu, meskipun wajib mensucikan anggota (yang terkena najis) tersebut demi memperoleh kesucian dari najis (khabats) untuk melakukan shalat.
SOAL 133:
Apakah adanya beberapa tetes air di kaki ketika mengusapnya mengganggu sahnya wudhu?
JAWAB:
Wajib mengeringkan bagian yang diusap dalam wudhu dari tetesan-tetesan agar anggota yang mengusap (tangan pelaku wudhu, pent.) berpengaruh pada anggota yang diusap (kaki, pent.), bukan sebaliknya.
SOAL 134:
Apakah kewajiban mengusap kaki kanan gugur jika tangan kanannya putus, misalnya?
JAWAB:
Tidak gugur, melainkan diwajibkan mengusap dengan tangan kiri.
SOAL 135:
Jika di salah satu anggota wudhu seseorang terdapat luka atau cedera patah tulang, bagaimana ia melaksanakan wudhunya ?
JAWAB:
Jika pada nggota wudhu' terdapat luka atau cedera patah tulang yang terbuka, namun air tidak membahayakan, maka bagian tersebut wajib dibasuh dengan air. Apabila penguunaan air akan membahayakannya, maka ia hanya wajib membasuh sekitarnya (anggota yang sehat saja, pent) dan jika mengusapkan tangan di atasnya tidak membahayakan, maka berdasarkan ihtiyath hendaknya mengusapkan tangan di atasnya.
SOAL 136:
Jika pada anggota wudhu' yang wajib diusap terdapat luka, maka kewajiban apa yang harus dilakukan?
JAWAB:
Jika di atas luka tidak dapat diusap dengan tangan yang basah, maka ia hrus bertayammum sebagai ganti dari wudhu', namun jika memungkinkan untuk meletakkan sehelai kain di atas yang luka dan diusap di atasnya, maka berdasarkan ihtiyath hendaknya selain tayammum ia melakukan wudhu' dengan cara demikian.
SOAL 137:
Apa hukum orang yang tidak tahu bahwa wudhunya batal dan menyadari hal itu setelah selesai?
JAWAB:
Ia wajib mengulangi wudhunya dan mengulangi semua amal ibadahnya, yang disyaratkan dengan kesucian, seperti shalat.
SOAL 138:
Jika di salah satu anggota wudhu seseorang terdapat luka yang selalu mengalirkan darah meskipun dibalut dengan pembalut, bagaimana ia melaksanakan wudhunya ?
JAWAB:
Ia wajib memilih menggunakan pembalut yang tidak tertembus oleh darah, seperti nilon.
SOAL 139:
Apakah mengeringkan air setelah wudhu makruh hukumnya, dan membiarkannya basah disunnahkan?
JAWAB:
Jika ia mengkhususkan sebuah saputangan atau sepotong kain untuk perbuatan itu, maka tidak ada masalah.
SOAL 140:
Apakah pewarna buatan (semir) yang biasa digunakan oleh para wanita mewarnai rambut dan alis mereka menghalangi air wudhu dan mandi ataukah tidak?
JAWAB:
Jika tidak berupa yang menghalangi sampainya air ke rambut dan hanya warna semata, maka wudhu dan mandinya sah.
SOAL 141:
Apakah tinta yang terdapat di tangan termasuk salah satu penghalang yang membatalkan wudhu?
JAWAB:
Jika ia berupa benda yang menghalangi sampainya air ke kulit, maka wudhunya batal, sedangkan penentuan terhadap subjek berada di tangan mukallaf .
SOAL 142:
Jika basah air yang diusapkan pada kepala menyentuh basah air pada wajah apakah membatalkan wudhu?
JAWAB:
Dikarenakan mengusap kedua kaki diharuskan dengan menggunakan air wudhu yang tersisa di kedua telapak tangan, maka ia harus tidak melebihkan usapan pada kepala sampai mengenai bagian atas dahi sehingga menyentuh basah di wajah agar sisa air di tangan yang diperlukan untuk mengusap kaki tidak bercampur dengan air yang telah dibasuhkan pada wajah.
SOAL 143:
Apa yang mesti dilakukan oleh orang yang wudhunya memakan waktu melebihi tempo wudhu yang lazim digunakan oleh orang pada umumnya agar dapat memastikan bahwa angota-anggota yang wajib dalam wudhu telah terbasuh ?
JAWAB:
Ia wajib menghindari rasa was-was. Agar setan putus asa darinya, ia harus mengabaikan was-was dan berusaha membatasi dirinya dengan melakukan sekadar yang wajib secara syariy sebagaimana orang-orang lain.
SOAL 144:
Di salah satu bagian tubuh saya terdapat tato. Orang-orang mengatakan bahwa mandi, wudhu, dan shalat saya batal dan seakan bukan shalat. Mohon bimbingan Anda tentang masalah ini?
JAWAB:
Jika tato itu hanyalah berupa warna, atau ia telah masuk di bawah kulit dan di atas permukaan kulit tidak terdapat suatu benda yang menghalangi sampainya air, maka wudhu, mandi dan shlatnya sah.
SOAL 145:
Jika cairan yang tidak dapat dipastikan sebagai kencing atau mani keluar setelah melakukan kencing, istibra dan wudhu, apa hukumnya?
JAWAB:
Dalam contoh kasus yang ditanyakan, wajib melakukan wudhu dan mandi agar memperoleh kepastian thaharah (kesucian).
SOAL 146:
Kami mohon penjelasan tentang perbedaan antara wudhu pria dan wanita?
JAWAB:
Tidak ada beda antara wanita dan pria dalam perbuatan-perbuatan dan tata cara wudhu: Hanya saja disunahkan bagi pria membasuh kedua lengan dari bagian luar, sedangkan wanita disunahkan membasuh dari bagian dalam.
MENYENTUH NAMA-NAMA ALLAH DAN AYAT SUCI
SOAL 147:
Apa hukumnya menyentuh kata ganti yang merujuk kepada Allah, Maha Pencipta, seperti dalam kalimat Dengan namaNya ( bismhi taala)?
JAWAB:
Hukum kata Allah (lafdzul jalalah) tidak berlaku atas kata gantinya.
SOAL 148:
Biasanya nama Allah ditulis dengan A ( Alif dan tiga titik), seperti tulisan ayat A atau dengan Ilah (Alif, Lam dan Ha). Apa hukumnya menyentuh kedua tulisan tersebut (Alif dan Ilah yang menggantikan kata Allah) bagi orang yang tidak berwudhu ?
JAWAB:
Hukum kata Allah (lafdzul jalalah) tidak berlaku atas huruf Hamzah dan titik-titik (A), maka dari itu boleh menyentuh kata tersebut (A...) tanpa wudhu'.
SOAL 149:
Saya bekerja di sebuah tempat dimana kata Allah ditulis dengan A (Hamzah dan tiga titik) dalam korespondensi mereka, apakah benar secara syariy menulis dengan cara demikian sebagai ganti dari lafdzul jalalah yang telah kami sebutkan?
JAWAB:
Secara syariy, tidak ada halangan.
SOAL 150:
Apakah boleh menghindari penulisan lafdzul jalalah (Allah) atau menulisnya A (Hamzah dan tiga titik) hanya karena kemungkinan disentuh oleh tangan orang yang tidak berwudhu?
JAWAB:
Tidak ada larangan.
SOAL 151:
Paratunanetra meyentuh dengan jari-jari huruf timbul (breile) untuk tujuan membaca dan menulis. Apakah orang-orang buta diharuskan dalam keadaan berwudhu (suci) ketika sedang belajar membaca Al-Quran Al-Karim dan ketika menyentuh nama-nama suci yang tertulis dengan huruf timbul ataukah tidak?
JAWAB:
Huruf-huruf timbul yang merupakan simbol dari huruf-huruf asli, secara hukum, tidak seperti huruf-huruf yang asli. Dan menyentuh huruf-huruf timbul yang digunakan sebagai simbol-simbol bagi huruf-huruf Al-Quran Al-Karim dan nama-nama suci tidak memerlukan thaharah (kesucian) dari hadats.
SOAL 152:
Apa hukum menyentuh nama-nama orang , seperti Abdullah dan Habibullah oleh orang yang tidak berwudhu?
JAWAB:
Orang yang tidak suci tidak diperkenankan menyentuh lafdzul jalalah, meskipun merupakan bagian sebuah kata majmuk.
SOAL 153:
Apakah boleh bagi wanita haaidh (dalam keadaan haidh) memakai kalung dengan ukiran nama nabi SAW?
JAWAB:
Tidak masalah mengalungkannya. Namun wajib bahwa nama tersebut tidak menyentuh tubuh.
SOAL 154:
Apakah hukum haram menyentuh tulisan Al-Quran tanpa wudhu (thaharah) hanya berlaku ketika tertera dalam Al-Mushaf asy-Syarif, ataukah mencakup yang berada di kitab lain, papan tulis atau di tembok dan yang lainnya?
JAWAB:
Tidak hanya berlaku atas tulisan Al-Quran yang ada dalam Al-Mushaf Asy-Syarif, namun mencakup semua kata dan ayat Al-Quran, meskipun dalam kitab lain, suratkabar, majalah, papan tulis atau terukir pada dinding dan lain sebagainya.
SOAL 155:
Ada keluarga yang menggunakan tempat makan nasi yang ditulisi dengan ayat-ayat Al-Quran, seperti ayat kursi dengan tujuan memperoleh kebaikan dan berkah. Apakah ada masalah dengan hal itu ataukah tidak?
JAWAB:
Tidak ada masalah, namun bagi yang tidak berwudhu diwajibkan tidak menyentuh ayat-ayat Al-Quran tersebut.
SOAL 156:
Apakah orang-orang yang menulis ismul jalalah, ayat-ayat Al-Quran dan nama-nama para mashum dengan alat tulis wajib berwudhu ketika menulisnya?
JAWAB:
Tidak disyaratkan thaharah, namun mereka tidak diperbolehkan menyentuh tulisan itu bila tidak bersuci.
SOAL 157:
Apakah lambang Republik Islam Iran dianggap sebagaiismul jalalahataukah tidak? Apakah hukum mencetaknya pada surat-surat kantor dan menggunakannya untuk korespondensi dan lainnya?
JAWAB:
Tidak ada masalah menulis dan mencetaklafdzul jalalahatau lambang Republik Islam Iran dalam surat-menyurat. Jika lambang Republik Islam Iran tergolong lafdhul Jalalah menurut pandangan umum masyarakat (urf) maka haram menyentuhnya tanpathaharah.
SOAL 158:
Apa hukum mencetak lambang R I I di bagian atas surat-surat resmi di instansi-instansi peerintah? Dan apa hukum mempergunakannya dalam surat-menyurat dan lainnya?
JAWAB:
Menulis dan mencetak lafdzul jalalah dan lambang RII tidak bermasalah. Berdasarkan ihitiyath wajib hendaknya hukum lafdzul jalalah diberlakukan pada lambang RII.
SOAL 159:
Apa hukum menggunakan perangko yang memuat tulisan ayat-ayat suci Al -Quran dan mencetak lafdzul jalalah, nama-nama Allah, ayat-ayat Al-Quran dan lambang lembaga-lembaga yang memuat ayat-ayat Al-Quran dalam surat kabar, majalah dan edaran-edaran tiap hari.
JAWAB:
Diperbolehakan mencetak dan menyebarkan ayat-ayat Al-Quran, ismul jalalah dan sebagainya, namun wajib atas yang menerimanya memperhatikan hukum-hukum syariah berkenaan dengan masalah ini, seperti tidak meremehkan dan menajiskannya, dan tidak menyentuhnya tanpa thaharah.
SOAL 160:
Pada sebagian surat kabar tertulis lafdhul jalalah atau ayt Al-Qur'an. Apakah hukum membungkus makanan dengannya, menjadikannya sebagai alas makanan, tempat duduk atau membuangnya ke tempat sampah, padahal sulit bagi kami untukmendapatkan cara yang lain?
JAWAB:
Tidak boleh hukumnya menggunakan koran-koran seperti tersebut di atas untuk keperluan yang oleh pandangan umum ('urf) dianggap sebagai pelecehan dan penghinaan. Adapun penggunaan yang tidak dianggap sebagai pelecehan dan penghinaan , maka tidak ada masalah.
SOAL 161:
Apakah boleh menyentuh tulisan yang terukir pada cincin?
JAWAB:
Jika tulisan itu termasuk yang hanya boleh disentuh dengan thaharah, maka tidak diperbolehkan menyentuhnya tanpa dengannya.
SOAL 162:
Apa hukum melemparkan dan membuang sesuatu benda yang memuat nama-nama Allah SWT di sungai dan parit? Dan apakah hal itu tergolong penghinaan?
JAWAB:
Tidak ada larangan membuangnya ke sungai atau ke parit selama menurut pandangan umum tidak termasuk penghinaan.
SOAL 163:
Apakah disyaratkan ketika membuang kertas-kertas ujian ke tempat sampah atau membakarnya memastikan tidak ada nama-nama Tuhan dan para mashum di dalamnya? Dan apakah membuang kertas yang kosong termasuk pemborosan (israf) ataukah tidak?
JAWAB:
Tidak wajib memeriksa. Jika tidak menemukan nama Allah dalam kertas tersebut, maka tidak masalah membuangnya ke tempat sampah, adapun membuang dan membakar kertas-kertas yang pada bagiannya belum digunakan untuk menulis dan masih dapat digunakan untuk menulis atau bisa digunakan untuk membuat kotak karton termasuk dalam kemungkinan pemborosan (tabdzir) dan tidak bebas dari masalah (la yakhlu min isykal).
SOAL 164:
Nama-nama mulia apakah yang wajib dihormati dan haram disentuh tanpa wudhu?
JAWAB:
Tidak diperbolehkan menyentuh nama-nama Allah dan nama sifat-sifat khusus Allah SWT tanpa wudhu. Dan, berdasarkanahwath, memasukkan nama nabi-nabi yang agung dan para imam mashum dalam nama-nama Allah SWT dalam hukum tersebut.
SOAL 165:
Apa cara-cara yang syariy untuk menghapus nama-nama mulia dan ayat-ayat Al-Quran saat diperlukan? Dan apa hukum membakar kertas-kertas yang bertuliskan ismul jalalah dan ayat-ayat Al-Quran jika terdapat alasan mendesak untuk menghapusnya demi menjaga rahasia?
JAWAB:
Tidak masalah menanamnya dalam tanah atau merubahnya menjadi adonan dengan air, sedangkan membakarnya ada masalah ( musykil), dan jika hal itu termasuk tindak pelecehan, maka tidak diperbolehkan, kecuali apabila terdesak oleh keadaan darurat dan tidak leluasa memotong ayat-ayat Al-Quran dan nama-nama mulia darinya.
SOAL 166:
Apa hukum memotong-motong nama-nama mulia dan ayat-ayat Al-Quran dalam jumlah yang banyak sehingga tidak ada dua huruf yang bersambungan dan tidak bisa lagi dibaca. Apakah cukup menghapus dan menggugurkan hukum-hukumnya dengan merubah bentuk tulisannya dengan cara merangkainya dengan huruf-huruf lain atau dengan membuang sebagian hurufnya.
JAWAB:Tidak cukup memotong-motongnya apabila tidak sampai menghapus tulisan lafdzul jalalah dan ayat-ayat Al-Quran, begitu juga tidak cukup merubah bentuk tulisan untuk menghilangkan hukum yang berlaku atas huruf-huruf yang ditorehkan dengan tujuan menulis lafdzul jalalah. Meski demikian, merubah bentuk huruf bisa menggugurkan hukum dengan menganggapnya sebagai penghapusan, meskipun, berdasarkanahwath, tetap dianjurkan (dimustahabkan) untuk menghindarinya