BENDA MEMABUKKAN DAN SEJENISNYA

 
SOAL 301:
Apakah minuman beralkohol najis?
JAWAB:
Minuman yang memabukkan berdasarkan ihtiyath (wajib) dihukumi najis
SOAL 302:
Apa hukum anggur yang dididihkan dengan api dan dua pertiga kandungannya belum menguap meskipun tidak memabukkan?
JAWAB:
Ia haram diminum, namun tidak najis.
SOAL 303:
Dikatakan apabila sejumlah anggur mentah yang bercampur dengan beberapa atau sebiji anggur matang didihkan guna mengambil airnya, maka apa yang tersisa setelah dididihkan tersebut haram hukumnya. Benarkah keterangan ini ataukah tidak?
JAWAB:
Apabila air buah anggur itu sangat sedikit dan terserap ke dalam air anggur mentah sedemikian rupa sehingga tidak layak disebut sebagai air anggur, maka hukumnya halal. Namun, apabila buah-buah anggur yang matang tersebut dididihkan sendiri dengan api, maka hukumnya haram.
SOAL 304:
Kini alkohol yang merupakan benda memabukkan dalam kenyataannya, banyak digunakan untuk pembuatan obat-obatan terutama yang berbentuk sirup dan parfum terutama jenis cologne yang diimport dari luar negeri. Apakah Anda memperbolehkan seseorang yang mengetahui tentang hal itu dan yang tidak mengetahui memperjual belikan menyediakan, menggunakan dan memanfaatkannya dalam bentuk-bentuk yang lain terhadap benda-benda tersebut?.
JAWAB:
Alkohol yang tidak diketahui tergolong dari jenis yang semula cair dihukumi suci, meskipun memabukkan. Dan tidak ada larangan menggunakannya untuk keperluan-keperluan medis dan sebagainya, sebagaimana tidak ada masalah melakukan shalat dengan pakaian yang bersentuhan dengan alkohol semacam itu.
SOAL 305:
Bolehkah menggunakan alkohol putih untuk sterilisasi tangan dan alat-alat medis seperti termometer dan lainnya yang digunakan untuk urusan medis dan pengobatan oleh dokter atau tim dokter? Alkohol putih yang juga dapat diminum, rumusan kimianya adalah C2HOOH. Apakah boleh shalat dengan pakaian yang terkena setetes atau lebih dari alkohol itu?
JAWAB:
Alkohol yang semula tidak cair dihukumi suci meskipun memabukkan. Penggunaannya untuk keperluan medis dan lainnya tidak dilarang. Shalat dengan pakaian yang terkena alkohol demikian sah dan tidak perlu disucikan.
SOAL 306:
Terdapat suatu benda yang dinamakan kafeer dan digunakan dalam industri makanan dan obat-obatan. Selama proses fermentasi bahan tersebut menghasilkan 5% atau 8% alkohol. Alkohol yang sedikit ini tidak menyebabkant mabuk pada konsumennya. Apakah penggunaan bahan tersebut dilarang secara syariy ataukah tidak?
JAWAB:
Jika alkohol dalam produk tersebut dengan sendirinya memabukkan maka hukumnya berdasarkan ihtiyath (wajib) najis dan haram, meski tidak membuat mabuk penggunanya dikarenakan kadarnya sedikit dan bercampur dengan benda yang diproduksi. Namun jika diragukan bahwa benda itu memabukkan dengan sendirinya atau semula cair, maka hukumnya tidaklah sama.
SOAL 307:
a. Apakah alkohol jenis ethyl yang tampaknya digunakan dalam benda-benda memabukkan dan menyebabkan mabuk ini najis ataukah tidak?
b. Apakah kriteria najisnya alkohol itu?
c. Dengan cara apakah kita dapat memastikan suatu minuman memabukkan?
d. Apa yang dimaksud dengan alkohol industri?
JAWAB:
a. Semua jenis alkohol yang memabukan dan semula cair najis.
b. Apabila memabukan dan semula cair.
c. Jika seorang mukallaf sendiri tidak yakin, maka cukup pemberitahuan para ahli yang terpercaya.
d. Yang dimaksud ialah alkohol yang dipergunakan dalam pembuatan warna dan cat, sterilisasi peralatan operasi dan jarum suntik dan kegunaan serupa lainnya.
SOAL 308:
Apakah hukum mengkonsumsi minuman yang ada di pasar, antara lain minuman-minuman yang diproduksi dalam negeri, seperti coca cola, pepsi dan lain-lain, padahal dikatakan bahwa bahan-bahan dasarnya diimport dari luar negeri dan diduga mengandung alkohol?
JAWAB:
Ia dihukumi suci dan halal kecuali bila mukallaf yakin ia tercemar dengan alkohol yang memabukkan dan semula cair.
SOAL 309:
Secara prinsip, apakah ketika membeli bahan-bahan makanan perlu menyelidiki apakah tangan penjual dan pembuatnya telah menyentuhnya atau menggunakan alkohol dalam pembuatannya?
JAWAB:
Tidak perlu tanya dan menyelidiki.
SOAL 310:
Saya telah membuat spray atropine sulphate yang mana alkohol merupakan unsur esensial dalam komposisi formulasinya. Artinya, jika tidak menambahkan alkohol dalam senyawa ini, maka kita tidak bisa memproduksi spray. Dan secara ilmiah, spray tersebut merupakan senjata penangkal yang dapat melindungi pasukan Islam dari (senjata) gas syaraf dalam perang. Apakah boleh secara syariy, menurut pendapat Anda YM, menggunakan alkohol dalam pembuatan obat-obatan dengan cara yang telah kami terangkan tadi ataukah tidak?
JAWAB:
Jika alkohol tersebut memabukkan dan semula cair, maka hukumnya najis dan haram. Namun penggunaannya sebagai obat tidak dipermasalahkan (la isykal) dalam kondisi apapun.
WAS-WAS DAN TERAPINYA
SOAL 311:
Sejak beberapa tahun lalu saya menderita was-was. Masalah ini sangat menyiksa saya. Setiap hari kondisi ini kian parah hingga saya meraguakan segala sesuatu, dan kehidupan saya berdiri di atas keragu-raguan. Kebanyakan keragu-raguan saya berkenaan dengan makanan dan benda yang basah. Karena itulah saya tidak dapat berperilaku seperti orang-orang biasa lainnya. Saat memasuki suatu tempat, saya segera melepas kaos kaki karena saya membayangkannya basah oleh keringat dan akan menjadi mutanajjis karena menyentuh benda najis. Sampai-sampai saya tidak dapat duduk di atas permadani. Jika duduk di atasnya maka diri saya selalu tergerak untuk bangun agar bulu-bulu halus pada permadani tidak melekat pada pakaian saya sehingga saya terpaksa mensucikannya dengan air. Saya dulu tidak demikian. Kini saya sangat malu karena perilaku ini dan selalu terbersit keinginan untuk bertemu dengan seseorang dalam mimpi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, atau suatu mukjizat datang lalu mengubah hidup saya untuk kembali ke hidup saya yang dulu, karenanya, mohon Anda membimbing saya?
JAWAB:
Hukum-hukum tentang thaharah dan najasah adalah seperti yang telah dirincikan dalam risalah amaliyah. Secara syariy, segala sesuatu dihukumi, kecuali yang telah ditetapkan oleh Syari (Penentu syariah) sebagai najis dan diyakini demikian oeh orang yang bersangkutan. Dengan demikian, guna membebaskan diri dari was-was tidak memerlukan mimpi atau mukjizat. Namun setiap mukallaf wajib mengesampingkan selera pribadinya dan tunduk (taabbud) terhadap ajaran-ajaran suci ini dan mengimaninya, dan tidak menganggap sesuatu yang tidak diyakini kenajisannya sebagai najis. Dari mana Anda yakin bahwa pintu dinding, permadani, dan segala sesuatu yang Anda gunakan najis!. Dan bagaimana Anda bisa yakin bahwa rambut-rambut halus di permadani yang Anda lewati dan duduki najis, dan bahwa kenajisannya akan pindah ke kaos kaki, pakaian dan badan Anda?! Bagaimanapun juga, dalam kondisi seperti ini Anda tidak boleh memperdulikan was-was, tidak memberikan perhatian kepada was-was tentang najis dan berlatih untuk melakukan hal itu akan membantu Anda menyelamatklan diri dari genggaman was-was, insya Allah dan dengan taufiq dari-Nya..
SOAL 312:
Saya adalah ibu dari beberapa anak dan lulusan dari perguruan tinggi. Problem yang saya alami ialah menyangkut masalah kesucian. Saya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang taat beragama dan ingin mematuhi semua ajaran-ajaran Islam. Karena saya ibu dari beberapa anak kecil, maka saya selalu sibuk mengurusi masalah kencing dan kotoran. Saat mensucikan kencing, percikan-percikan air dari kloset berhamburan dan mengenai kaki, wajah, bahkan kepala. Setiap saat saya menghadapi masalah pensucian anggota-anggota tersebut dan hal ini menyebabkan banyak problem dalam hidup saya. Dari sisi lain, saya harus memperhatikan masalah-masalah ini, karena berkaitan dengan aqidah dan agama saya, sampai-sampai saya harus berkonsultasi dengan psikiater, namun tidak membuahkan hasil. Di samping itu, saya sering menghadapi masalah, seperti debu dari benda yang najis, atau harus selalu mengawasi tangan anak yang najis yang harus saya sucikan atau saya hindarkan agar tidak menyentuh benda-benda lain, mengingat membersihkan sesuatu yang najis merupakan pekerjaan yang sangat berat bagi saya. Meski demikian, namun pada waktu yan sama saya tidak merasa kesulitan mencuci bejana-bejana dan pakaian-pakaian yang sama jika hanya karena kotor saja. Karena itulah, saya mohon Anda YM memudahkan hidup saya dengan memberikan bimbingan-bimbingan.
JAWAB:
  • Dalam masalah thaharah dan najasah yang menjadi prinsip (al-ashl) dalam pandangan syareah yang suci adalah thaharah (kesucian). Artinya, dalam kasus apapun jika Anda ragu sekecil apa pun tentang adanya najis, maka yang wajib ialah menghukuminya sebagai tidak najis.
HUKUM ORANG KAFIR
SOAL 313:
Sebagian para fuqaha menganggap ahli kitab najis dan sebagian lain menganggap mereka suci. Apa pendapat Anda YM?
JAWAB:
Kenajisandzatiahli kitab tidak diketahui, bahkan kami berpendapat bahwa mereka diihukumi suci secara dzati.
SOAL 314:
Apakah ahli kitab yang secara intelektual mengimani kerasulan Pamungkas para nabi (saw), Namun secara praktis berprilaku sesuai cara dan adat istiadat orang tua dan nenek moyang diperlakukan secara hukum sebagai kafir dalam masalah kesucian ataukah tidak?
JAWAB:
Hanya mengakui kerasulan Pamungkas para nabi (saw) tidak cukup menjadi dasar untuk dihukumi sebagai muslim. Namun jikamereka termasuk ahli kitab maka dihukumi suci.
SOAL 315:
Saya dan sejumlah teman menyewa sebuah rumah. Kami tahu bahwa salah seoarang diantara mereka tidak shalat. Setelah diminta penjelasan ia menjawab bahwa dirinya beriman kepada Allah (swt) dengan hati namun tidak shalat. Karena kita makan bersamanya dan bergaul secara luas dengannya, apakah ia najis ataukah suci?
JAWAB:
Hanya karena meninggalkan shalat, puasa dan kewajiban-kewajiban syariy lainnya tidak menyebabkan seorang muslim menjadi murtad dan najis. Selama belum pasti kemurtadannya maka hukumnya sama dengan seluruh kaum muslimin.
SOAL 316:
Siapakah yang dimaksud dengan ahli kitab itu. Dan apa standar yang menentukan batas pergaulan dengan mereka?
JAWAB:
Yang dimaksud dengan ahli kitab adalah setiap orang yang menganut agama ilahi dan menganggap dirinya bagian dari umat salah satu nabi Allah (as), dan mempunyai kitab samawi yang diturunkan atas para nabi, seperti Yahudi, Nasrani, Zoroastra juga Ashabiun, yang berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, termasuk ahli kitab. Mereka diperlakukan secara hukum sebagai ahli kitab. Bergaul dengan mereka dengan tetap menjaga norma-norma dan etika Islam tidak dipermasalahkan (la isykal).
SOAL 317:
Terdapat sebuah sekte yang menamakan dirinya Aliyullahi yang menganggap Amirul mukminin Ali bin Abithalib (as) sebagai Tuhan dan berkeyakinan bahwa doa dan permintaan hajat pengganti dari shalat dan puasa. Apakah mereka najis?
JAWAB:
Jika meyakini bahwa Amirul mukminin Ali bin Abithalib (as) sebagai Tuhan (Allah Maha Tinggi dari apa yang mereka katakan), maka mereka dihukumi sebagai non muslim di luar ahli kitab, yakni kafir dan najis.
SOAL 318:
Terdapat sekte dengan nama Aliyullahi yang beranggapan Ali (as) bukanlah Tuhan namun tidaklah kurang dari Tuhan. Apa hukum mereka?
JAWAB:
Jika mereka tidak meyakini adanya sekutu Allah Yang Esa, Pemberi karunia dan Maha Tinggi, maka tidak dihukumi sebagai musyrik.
SOAL 319:
Apakah sah pengikut Syiah Imamiah menyerahkan nazar untuk imam Husain atau ahlul kisa (as) kepada pusat-pusat para pengikut sekte AIiyullahi yang secara langsung atau tidak mempunyai andil dalam menyemarakkannya pusat-pusat tersebut.
JAWAB:
Keyakinan akan ketuhanan Pemimpin kaum muwahhidin, Ali bin Abi Thalib (as) adalah batil dan menyebabkan orang yang meyakininya keluar dari agama Islam. Membantu menyebarkan aqidah yang rusak ini haram hukumnya. Di samping itu, mengalokasikan nazar kepada selain yang dituju tidaklah diperbolehkan.
SOAL 320:
Di pinggiran daerah kami terdapat sekte yang menyebut dirinya Ismailiyah. Mereka meyakini keimaman 6 orang dari para Imam. Namun mereka tidak mengimani satupun dari kewajiban-kewajiban agama dan tidak meyakini wilayatul faqih. Kami mohon Anda menjelaskan apakah pengikut aliran tersebut suci ataukah najis?
JAWAB:
Hanya tidak meyakini 6 Imam Maksum lainnya (as) atau tidak meyakini apa pun dari hukum-hukum sayriat selama tidak bermuara pada penolakan terhadap asal syariah dan selama tidak menjurus kepada penolakan kenabian Pamungkas para nabi (saw), tidak menyebabkan kekufuran dan kenajisan, kecuali bila mereka mencaci dan menghina salah satu dari para Imam maksum (as).
SOAL 321:
Mayoritas mutlak orang-orang di sini adalah orang-orang kafir (budha). Jika mahasiswa menyewa sebuah rumah, apa hukum thaharah dan najasahnya? Apakah harus membasuh dan mensucikan rumah tersebut atau tidak? Patut kami sebutkan, bahwa kebanyakan rumah di sini terbuat dari kayu dan tidak mungkin dicuci. Apa hukumnya berkenaan dengan hotel-hotel, perabot dan peralatan-peralatan lain di dalamnya?
JAWAB:
Sebelum dipastikan terjadinya persentuhan dengan tangan dan anggota tubuh orang kafir non-ahli kitab dengan basah yang dapat berpindah, maka ia tidak dihukumi sebagai mutanajjis. Kalaupun diyakini najis, maka tidak wajib mensucikan pintu-pintu dan dinding-dinding rumah dan hotel-hotel juga perabot dan peralatan di dalamnya. Yang wajib disucikan ialah benda yang terkena najis yang dipergunakan untuk makan, minum dan shalat.
SOAL 322:
Ada sejumlah besar orang di provinsi Khuzestan menamakan dirinya shabiah yang mengaku sebagai pengikut nabi Yahya (as) dan mengaku memiliki kitabnya. Para pakar agama-agama telah membuktikan bahwa mereka golongan ashabiun yang disebut dalam Al-Quran. Mohon Anda menjelaskan apakah mereka tergolong ahli kitab ataukah bukan?
JAWAB:
Golongan tersebut dihukumi sebagai ahli kitab.
SOAL 323:
Benarkah pendapat bahwa rumah yang dibangun oleh orang kafir menjadi mutanajjis dan makruh shalat di dalamnya.
JAWAB:
Shalat di rumah tersebut tidaklah makruh.
SOAL 324:
Apa hukum bekerja pada orang-orang Yahudi dan sekte-sekte kafir lainnya, dan apa hukum menerima gaji dari mereka?
JAWAB:
Bekerja pada dasarnya tidak dilarang selama tidak tergolong pekerjaan yang haram dan selama tidak bertentangan dengan kepentingan umum Islam dan muslimin.
SOAL 325:
Di daerah tempat menjalani wajib militer terdapat beberapa kabilah dari sebuah sekte bernama al-haq. Apakah boleh memanfaatkan susu, yogurt, dan mentega mereka?
JAWAB:
Jika mereka meyakini prinsip-prinsip Islam, maka diperlakukan secara hukum sebagaimana umat Islam lainnya berkenaan dengan masalah suci dan najis.
SOAL 326:
Penduduk desa tempat kami mengajar tidak shalat karena mereka menganut sekte al-haq. Kami terpaksa makan makanan dan roti mereka, karena kami tinggal di siang dan malam hari di sana, Apakah shalat-shalat kami bermasalah (isykal)?
JAWAB:
Jika mereka tidak menolak masalah tauhid dan kenabian dan tidak menolak salah satu dari hal-hal yang pasti dari agama (dharuriyat ad-din) serta tidak berkeyakinan bahwa risalah Muhammad kurang (tidak sempurna), maka tidak dihukumi kafir atau najis. Jika tidak demikian, maka wajib memperhatikan masalah kesucian dan najis ketika bersentuhan dengan mereka atau makan makanan mereka.
SOAL 327:
Salah satu kerabat kami komunis. Pada masa kecil sering memberi kami harta dan benda. Apa hukum pemberiannya bila masih ada pada kami sampai sekarang?
JAWAB:
Jika terbukti kafir dan murtad setelah mencapai usia balig dan sebelum menunjukkan keIslamannya, maka harta bendanya dihukumi sebagaimana harta orang kafir lainnya.
SOAL 328:
Kami mohon jawaban atas pertanyaan sebagai berikut:
JAWAB:
Semua pengikut sekte sesat Bahaiyah dihukumi najis. Jika mereka bersentuhan dengan sesuatu maka wajib memperhatikan masalah kesucian berkenaan dengan hal-hal yang mensyaratkan kesucian. Namun perlakuan para kepala sekolah, guru dan pendidik terhadap siswa siswi bahai wajib disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan dan etika Islam.
SOAL 329:
Kami mohon Anda menjelaskan tentang taklif orang-orang mukmin, lelaki dan wanita, dalam menghadapi sekte sesat Bahaiyah serta menjelaskan dampak-dampak negatif akibat dari keberadaan para penganut sekte ini di tengah masyarakat Islam?
JAWAB:
Seluruh mukmin wajib menghadang tipuan dan perusakan yang dilakukan sekte sesat Bahaiyaht dan mencegah orang lain agar tidak menyimpang dan terjerumus ke dalam sekte yang sesat ini.
SOAL 330:
Kadang kala para pengikut sekte sesat Bahaiyah memberikan hadiah berupa makanan atau lainnya. Bolehkah kami memanfaatkannya?
JAWAB:
Setiap bentuk hubungan dengan sekte sesat dan menyesatkan ini hendaknya dihindari.
SOAL 331:
Banyak dari orang-orang bahai hidup di lingkungan kami dan sering mengunjungi rumah kami. Sebagian orang menganggap bahai sebagai najis, sedangkan sebagian lain menganggapnya suci. Orang-orang bahai itu menampakkan perangai yang baik. Apakah mereka suci ataukah najis?
JAWAB:
Mereka semua najis. Dan mereka adalah musuh agama dan keimananmu. Sangat berhati-hatilah, wahai, anakku tersayang!
SOAL 332:
Apa hukum tempat duduk mobil dan kereta api yang digunakan oleh orang Islam dan kafir, padahal jumlah orang-orang kafir di sebagian tempat lebih banyak daripada orang-orang Islam. Apakah dihukumi suci, mengingat panasnya suhu udara menyebabkan keringat menetes dan basahnya berpindah?
JAWAB:
Kafir Ahli kitab dihukumi suci, dan bagaimanapun segala benda yang digunakan bersama oleh muslim dan kafir, kalau tidak diketahui najis, dihukumi suci.
SOAL 333:
Sekolah di luar negeri meniscayakan hubungan dan pergaulan dengan orang-orang kafir. Apa hukum memanfaatkan bahan-bahan makanan yang dibuat oleh tangan-tangan mereka selain benda-benda haram, seperti daging hewan yang tidak disembelih secara syariy, apabila diduga disentuh oleh tangan orang kafir yang basah.
JAWAB:
Hanya menduga tangan basah orang kafir menyentuhnya tidak cukup menyebabkan kewajiban menghindarinya, bahkan apabila tidak diyakini terjadinya persentuhan, maka ia dihukumi suci. Orang kafir dari ahli kitab tidaklah najis secara dzati, dan bersentuhan dengan tangannya yang basah tidak menyebabkan najis.
SOAL 334:
Jika meski ketersediaan seluruh kebutuhan seorang muslim yang hidup di bawah naungan pemerintahan Islam namun ia tetap bekerja dengan seorang non muslim, dan ia menjalin hubungan yang akrab dengannya, apakah boleh menjalin hubungan yang erat dan bersifat kekeluargaan dengan muslim demikian dan makan makanannya kadangkala?
JAWAB:
Hubungan orang-orang Islam dengan orang muslim semacam ini tidaklah dipermasalahkan (la isykal). Namun jika orang muslim tersebut menghawatirkan penyimpangan aqidahnya sebagai pengaruh dari non muslim yang ia bekerja untuknya, maka ia wajib menghindari perbuatan demikian, dan orang-orang lain wajib menghalanginya dari kemunkaran.
SOAL 335:
Ipar saya karena bermacam alasan dan sebab menjadi bejat dan murtad dari agama secara total sampai ia menghina sebagian pusat-pusat keagamaan yang suci. Kini setelah beberapa tahun sejak murtad, melalui surat yang dikirimnya, ia menampakkan bahwa dirinya beriman pada Islam namun tidak melakukan shalat dan puasa sama sekali. Bagaimanakah sewajibnya hubungan ibu, ayah, dan seluruh anggota keluarga dengannya? Apakah hukum kafir berlaku atasnya dan wajib menganggapnya najis?
JAWAB:
Jika terbukti ia dulu telah murtad lalu bertaubat, maka dihukumi suci, dan hubungan kedua orang tua serta seluruh anggota keluarga dengannya tidak dipermasalahkan (la isykal)?
SOAL 336:
Apakah orang yang menolak sebagian hal-hal yang pasti dalam agama (dharuriyat ad-din), seperti puasa dan lainnya dihukumi kafir ataukah tidak?
JAWAB:
Jika penolakannya terhadap salah satu dari dhaaruriyat ad-din kembali kepada sikap penolakan atas kerasulan (risalah) atau mendustakan nabi Muhammad (saw), atau menghina syariah, maka itu berarti kekufuran dan kemurtadan.
SOAL 337:
Apakah sanksi-sanksi yang ditetapkan bagi orang murtad dan orang-orang kafir harby (kafir yang memerangi) ternasuk masalah politik dan merupakan tanggungjawab pemimpin, ataukah merupakan sanksi-sanksi yang berlaku sampai hari kiamat?
JAWAB:
Ia adalah hukum syariy Ilahi.
CATATAN KAKI (untuk jawaban No.5)
1) Subyek hukum dalam fiqh terbagi dua:
Subyek murni seperti identifikasi bahwa cairan ini adalah khamr, yang merupakan tanggung jawab mukallaf.
Subyek hasil istimbath dan penyimpulan yang identifikasinya dikembalikan kepada kompetensi seorang mujtahid, seperti identifikasi bahwa lagu adalah suara yang melenakan, bukan setiap suara yang berirama tanpa melenakan.
2) Subyek-subyek mustambathah (hasil istimbath) terbagi menjadi dua: Pertama, subyek permanen, yang tidak berubah kapan dan di manapun, seperti nyanyian. Kedua, subyek yang kondisional akibat pengaruh situasi dan kondisi sekitar. Karena hukum berubah seiring dengan perubahan subyek-subyeknya dan berputar pada porosnya, maka oleh karena itulah, identifikasi subyek-subyek hukum mustambathah yang kondisional (tidak permanen) menjadi bagian dari ijtihad.
SHALAT
SYARAT-SYARAT DAN PENTINGNYA SHALAT
SOAL 338:
Apa hukum orang yang meninggalkan shalat secara sengaja atau meremehkannya?
JAWAB:
Lima shalat fardhu harian merupakan salah satu kewajiban yang sangat penting dalam syariah Islam bahkan merupakan tiang agama. Meninggalkan dan meremehkannya haram secara syariy dan menyebabkan siksa.
SOAL 339:
Apakah wajib shalat atas orang yang tidak menemukan sarana bersuci (air atau tanah untuk wudhu atau tayammum)?
JAWAB:
Berdasarkanahwathhendaklah tetap melaksanakan shalat pada waktunya dan mengqadhanya dengan wudhu atau tayammum di luar waktu.
SOAL 340:
Dalam kondisi-kondisi apakah udul (berpindah niat) dalam shalat wajib menurut Anda ?
JAWAB:
Wajib berpindah niat dalam kondisi-kondisi berikut:
  1. Dari shalat ashar ke shalat dhuhur ketika sadar saat sedang shalat (ashar) bahwa ia belum melakukan shalat dhuhur.
  2. Dari shalat isya ke maghrib ketika sadar saat sedang shalat dan sebelum melewati batas udul bahwa ia belum melakukan shalat maghrib.
  3. Apabila mempunyai tanggungan 2 shalat qadha secara berurutan dan melakukan shalat (yang) kedua karena lupa sebelum melakukan shalat qadha yang pertama.
Dimustahabkan udul dalam kondisi sebagai berikut:
  1. Dari shalat ada kepada shalat qadha wajib, jika waktu keutamaan shalat ada belum lewat.
  2. Dari shalat wajib ke shalat mustahab demi menyusul shalat jamaah.
  3. Dari shalat faridhah ke shalat nafilah pada dhuhur hari Jumat bagi orang yang lupa membaca surah al-jumuah namun membaca surah lainnya sampai setengah atau lebih. Dalam kondisi demikian dimustahabkan berpindah niat dari shalat faridhah ke shalat nafilah untuk memulai shalat faridhah lagi dengan membaca surah al-jumuah.
SOAL 341:
Apakah pelaku shalat yang ingin menggabungkan shalat Jumat dan shalat duhur di hari Jumat berniat qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) saja tanpa niat wujub (melakukan shalat wajib) dalam kedua shalat tersebut, ataukah berniat qurbah dan wujub dalam salah satu dari keduanya, sedangkan pada shalat lainnya cukup berniat qurbah saja, atau berniat qurbah dan wujub dalam kedua-duanya?
JAWAB:
Cukup meniatkan qurbah dalam kedua shalat tersebut dan tidak wajib meniatkan wujub dalam keduanya.
SOAL 342:
Jika darah dari mulut atau hidung terus mengalir sejak awal waktu faridhah hingga menjelang batas akhir waktunya, apa hukum shalat?
JAWAB:
Jika tidak mampu mensucikan badan dan khawatir waktu shalat faridhah berakhir, hendaknya melakukan shalat dalam keadaan begitu.
SOAL 343:
Apakah badan diwajibkan tenang dan tidak bergerak (istiqrar) sama sekali ketika membaca zikir-zikir mustahab dalam shalat ataukah tidak?
JAWAB:
Perihal kewajiban istiqrar dan tenang ketika sedang shalat, tidak ada perbedaan antara zikir-zikir yang wajib dan yang mustahab. Kecuali jika pembacaan dzikir dilakukan dengan niat dzikir muthlaq walaupun dibca dalam keadaan bergerak tidak bermasalah
SOAL 344:
Sebagian pasien di rumah sakit menggunakan selang saluran kencing dimana kencing akan keluar dari pasien tanpa kehendak dalam keadaan tidur atau sadar, atau ketika sedang melakukan shalat. Kami mohon jawaban atas pertanyaan sebagai berikut: Apakah melakukan shalat keadaan begitu sudah cukup ataukah wajib mengulanginya?
JAWAB:
Jika ia melakukan shalat dalam kondisi begitu sesuai tugas syariynya yang benar, maka sahlah hukumnya, dan tidak wajib mengqadha atau mengulangnya.
  • Bahkan, bagi orang-orang yang mempunyai sensitifitas kejiwaan yang tinggi berkenaan dengan maslah najis (yang dalam istilah fiqh Islam, disebut waswas), ketika mereka yakin akan terjadinya najis dalam beberapa kasus, wajib menghukumi tidak ada najis, kecuali dalam kasus-kasus najis yang mereka saksikan sendiri dengan mata kepala sedemikian rupa sehingga siapa pun melihatnya akan juga memastikan berpindahnya najasah. Hanya dalam contoh-contoh kasus demikian sajamereka wajib menghukumi najis. Hukum ini berlaku terus atas orang-orang semacam itu sampai was-wasnya lenyap secara tuntas.
  • Cukup dalam mensucikan benda atau anggota tubuh manapun yang terkena najis, dengan syarat benda najisnya (ainun najasah) hilang, dengan satu kali basuhan dengan air kran dan tidak wajib mengulanginya atau membenamkannya dalam air, jika benda yang terkena najis itu berupa kain maka cukup diperas dengan ukuran yang wajar sehingga airnya keluar.
  • Sebagai orang yang mempunyai sensitifitas yang tinggi dalam masalah najasah, ketahuilah bahwa debu najis bukanlah najis dalam segala kondisi khusus bagi Anda. Mengamati tangan anak yang suci atau najis tidaklah perlu. Dan tidak harus meneliti bahwa darah tersebut telah lenyap dari badan ataukah tidak. Hukum ini berlaku terus atas Anda sampai sensitifitas itu lenyap secara total.
  • Hukum-hukum agama Islam mudah dan lunak, serta selaras dengan fitrah manusia, maka jangan mempersulitnya atas diri Anda, dan jangan merugikan dan mengganggu fisik dan jiwa Anda karena hal itu. Kecemasan dan kegelisahan dalam kasus-kasus demikian akan membuat pahit hidup Anda. Allah Yang Maha Mulia nama-Nya tidak rela dengan penderitaan Anda dan orang-orang yang terkait dengan Anda Syukurilah nikmat berupa agama yang mudah ini. Mensyukuri nikmat ini ialah dengan melaksanakannya sesuai dengan ajaran-ajaran Allah SWT.
  • Kondisi demikian hanyalah sementara dan dapat diobati, banyak orang yang mengalami masalah ini terhindarkan darinya, setelah menjalani latihan tersebut di atas. Bertawakallah kepada Allah dan selamatkanlah diri Anda dengan tetap bertekad dan berkeinginan.
  • Apa hukum bergaul, duduk bersama, dan saling berjabat tangan antara siswa-siswa muslim dan siswa-siswa dari sekte sesat bahaiyah selama periode SD, SLTP, SMU, putra dan putri, mukallaf dan bukan mukallaf, di dalam atau di luar sekolah?
  • Bagaimana seharusnya para guru dan pendidik memperlakukan murid-murid yang menyatakan dirinya sebagai pengikut bahaiyah atau diyakini secara pasti bahwa mereka adalah kaum bahai ?
  • Apa hukumnya secara syariy menggunakan sarana-sarana yang dipakai oleh seluruh murid, seperti kran air minum, kran toilet, teko, sabun, dan sebagainya dengan pengetahuan bahwa tangan dan anggota tubuh pasti basah.