HUKUM MASJID

SOAL 389:
Mengingat bahwa setiap orang dianjurkan shalat di masjid kampungnya, maka apakah ada masalah (isykal) jika mengosongkan masjid kampung dan pergi ke masjid jami di kota untuk melaksanakan shalat jamaah ataukah tidak?
JAWAB:
Jika meninggalkan masjid kampung untuk melakukan shalat jamaah di masjid lain, terutama di masjid jami kota, maka tidak ada masalah.
SOAL 390:
Apa hukum shalat di masjid yang diklaim oleh sebagian orang yang ikut membangunnya bahwa mereka membangunnya untuk mereka sendiri dan sukunya.
JAWAB:
Masjid yang sudah dibangun sebagai masjid tidak bisa menjadi tempat khusus bagi suatu masyarakat, marga, suku atau individu-individu, melainkan seluruh muslimin boleh menggunakannya.
SOAL 391:
Apakah wanita lebih baik shalat di rumah ataukah di masjid?
JAWAB:
keutamaan melakukan shalat di masjid bukan khusus bagi kaum pria.
SOAL 392:
Sekarang di antara Masjidul Haram dan tempat sai (Sofa Marwa) terdapat dinding kira-kira setinggi setengah meter dan lebarnya satu meter. Dinding tersebut merupakan tempat gabungan antara Masjidul Haram dan tempat sai, apakah orang-orang perempuan pada hari-hari haid boleh duduk di dinding tersebut karena mereka tidak diperbolehkan memasuki masjid?
JAWAB:
Tidak ada masalah (la isykal), kecuali bila meyakini dinding tersebut merupakan bagian dari masjid.
SOAL 393:
Apakah boleh melakukan olah raga atau tidur di masjid kampung? Dan apa hukumnya melakukan hal itu di masjid-masjid lain?
JAWAB:
Masjid bukanlah tempat berolahraga. Sedangkan tidur di dalamnya makruh hukumnya.
SOAL 394:
Apakah boleh menggunakan halaman masjid untuk memberikan kuliah tentang pemikiran, budaya, ideologi dan kemiliteran untuk para pemuda? Apakah hukumnya secara syariy melakukan kegiatan tersebut di salah satu balkon (iywaan) masjid yang tidak termanfaatkan mengingat tempat yang khusus disediakan untuk itu sangat sedikit?
JAWAB:
Hal itu bergantung pada cara pewakafan halaman masjid dan balkon (iywaan)-nya. Wajib meminta pendapat dari imam jamaah dan badan pengawas masjid itu. Perlu diingingatkan, bahwa keberadaan para pemuda di masjid-masjid dan penyelenggaraan pengajian agama, dengan persetujuan imam jamaah dan badan pengawas masjid, merupakan sesuatu yang baik dan dianjurkan.
SOAL 395:
Di daerah-daerah terutama di desa-desa, orang-orang mengadakan resepsi perkawinan di masjid-masjid. Artinya mereka mengadakan acara tari-tarian dan nyanyian di rumah sedangkan acara menikmati jamuan di masjid. Apakah hal ini boleh secara syariy ataukah tidak?
JAWAB:
Memberi makanan para undangan di masjid pada dasarnya tidak ada masalah (la isykal).
SOAL 396:
Perusahaan-perusahaan koperasi rakyat membangun perumahan-perumahan. Sejak semula disepakati, bahwa perumahan tersebut akan memiliki tempat-tempat umum seperti masjid. Kini karena unit-unit rumah itu telah diserahkan kepada para pemilik saham dalam perusahaan, apakah sebagian pemilik saham berhak berpaling kesepakatan awal dan mengatakan bahwa mereka tidak setuju dibangun masjid?
JAWAB:
Jika perusahaan telah melaksanakan pembangunan masjid setelah mendapatkan persetujuan seluruh anggota perusahaan dan telah rampung pembangunannya dan masjidnya telah diwakafkan, maka pembatalan kesepakatan yang dilakukan oleh sebagian anggota tidak berpengaruh. Namun, jika sebagian anggota berpaling dari kesepakatan awal sebelum masjid diwakafkan, maka pembangunan masjid dengan harta anggota perusahaan di atas tanah milik semua anggota perusahaan dan tanpa persetujuan dari mereka tidak diperbolehkan. Lain halnya bila seluruh anggota perusahaan telah dikenakan syarat dalam sebuah akad yang mengikat, bahwa sebagian tanah milik perusahaan akan dikhususkan untuk pembangunan masjid, dan mereka mengikat diri dengan syarat tersebut, maka mereka tidak berhak untuk berpaling, dan jika mereka berpaling maka tidak berpengaruh.
SOAL 397:
Untuk menghadapi serangan budaya, kami kumpulkan di masjid sekitar 30 siswa dari SD dan SLTP dalam satu kelompok kasidah (nasyid). Para anggota kelompok ini mendapatkan pelajaran Al-Quran, hukum, akhlak sesuai dengan umur dan strata pemikiran mereka. Apa hukum melakukan hal ini? Apa hukumnya bila kelompok ini menggunakan alat musik organ? Apa hukumnya melakukan latihan dengan organ di dalam masjid dengan tetap menjunjung tinggi norma-norma syariah dan mematuhi peraturan-peraturan yang ditetapkan dan berlaku di televisi dan radio dan kementrian bimbingan Islam di Iran?
JAWAB:
Mengajar Al-Quran, hukum-hukum, pendidikan akhlaq, latihan lagu-lagu revolusi dan keagamaan di mesjid tidakbermasalh, namun dalam semua keadaan wajib memperhatikan kesucian dan keagungan mesjid, serta tidak boleh mengganggu orang yang sedang melaksanakan sholat.
SOAL 398:
Apakah ada masalah secara syariy menayangkan film-film sinema yang disebarkan oleh Departemen Bimbingan Islam Iran di masjid untuk orang-orang yang menghadiri pengajian-pengajian Al-Quran?
JAWAB:
Tidak diperbolehkan mengubah masjid menjadi tempat penayangan film-film sinema. Namun tidak ada larangan untuk menayangkan film-film pada saat-saat tertentu sesuai keperluan dan sesuai pandangan imam masjid.
SOAL 399:
Apakah ada masalah (isykal) secara syariy menyiarkan musik yang mengembirakan dari masjid dalam rangka memeriahkan hari lahir para imam maksum (as)?
JAWAB:
Jelas, masjid memiliki kedudukan syariy yang istimewa. Menyiarkan musik yang tidak sesuai dengan kedudukan masjid hukumnya haram, meskipun musiknya tidak melenakan (muthrib).
SOAL 400:
Kapan boleh menggunakan pengeras suara di masjid-masjid yang dapat didengar suaranya dari luar? Dan apa hukum memperdengarkan lagu-lagu perjuangan atau Al-Quran sebelum adzan?
JAWAB:
Jika diperdengarkan pada saat-saat yang tidak mengganggu dan tidak mengejutkan para tetangga dan penduduk kampung, maka tidak ada masalah (isykal) memperdengarkan bacaan-bacaan Al-Quran beberapa menit sebelum adzan.
SOAL 401:
Apa definisi masjid jami?
JAWAB:
Yaitu masjid yang dibangun di kota untuk berkumpulnya kebanyakan penduduk di dalamnya tanpa pembatasan bagi suku tertentu atau penghuni pasar.
SOAL 402:
Bagian yang ber-atap dari sebuah masjid telah dibiarkan dan tidak dipakai untuk shalat sejak 30 tahun dan telah rusak, dan sebagian darinya telah dijadikan gudang. Akhir-akhir ini direnovasi oleh personil tentara sukarelawan yang menempati di bagian yang ber-atap itu sejak 15 th. Alasan dilakukannya pembenahan ialah kondisi bangunan yang tidak layak lagi terutama atapnya yang nyaris roboh. Karena teman-teman dari pasukan sukarelawan tidak mengetahui hukum-hukum syariah mengenai masjid dan orang-orang yang mengetahui tidak memberikan bimbingan, mereka membangun sejumlah kamar di salah satu bagian dari masjid tersebut. Hal ini menuntut biaya yang sangat besar. Proses pembangunan kini hampir selesai. Kami mohon penjelasan hukum syariy tentang hal-hal sebagai berikut:
Apabila mereka yang melakukan pekerjaan ini dan anggota badan pengawas masjid tidak mengetahui hukum masalah ini, maka apakah mereka dianggap sebagai yang bertanggungjawab secara syariy atas biaya-biaya yang dikeluarkan dari baitul mal? Dan apakah mereka berdosa ataukah tidak?
Mengingat biaya-biaya tersebut diambil dari baitul mal, apakah Anda memperbolehkan -selama masjid tidak memerlukan tempat ini dan shalat tidak diadakan di dalamnya-, kamar-kamar dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan pendidikan seperti pelajaran Al-Quran dan hukum-hukum syariah dengan tetap menjaga sepenuhnya hukum-hukum dan batas-batas syariy masjid-, dan menggunakannya untuk urusan masjid? Ataukah kita wajib membongkar kamar-kamar tersebut?
JAWAB:
Mereka wajib mengembalikan keadaan bagian masjid yang beratap kepada keadaan semula dengan menghancurkan kamar-kamar yang telah dibangun di dalamnya. Sedangkan biaya-biayanya jika tidak ada tindakan yang melampaui batas dan keteledoran maupun unsur kesengajaan dan kesalahan, maka tidak pasti bahwa ia harus diganti oleh seseorang.
Penggunaan bagian masjid yang beratap untuk menyelenggarakan kelompok-kelompok pengajian al-Quran, pendidikan hukum-hukum syariah, pengetahuan-pengetahuan Islam dan seluruh upacara keagamaan dan kemazhaban yang tidak sampai mengganggu jamaah shalat dan berada di bawah pengawasan imam jamaah masjid, tidak dipermasalahkan (la isykal). Imam jamaah, personil pasukan sukarelawan dan para pengurus masjid lainnya wajib bekerja sama untuk mempertahankan keberadaan pasukan sukarelawan di masjid dan agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan fungsi ibadah masjid, seperti shalat dan lainnya.
SOAL 403:
Dalam proyek perluasan salah satu jalan besar terdapat sejumlah masjid yang tercakup dalam proyek tersebut sehingga sebagian masjid harus dibongkar seluruhnya, dan sebagian masjid lain dibongkar sebagian demi memudahkan lalu lintas kendaraan. Kami mohon penjelasan pendapat Anda?
JAWAB:
Tida diperbolehkan merobohkan masjid atau membongkar sebagiannya, kecuali jika terdapat maslahat yang tidak bisa diabaikan atau ditinggalkan.
SOAL 404:
Apakah boleh menggunakan air yang ada di masjid-masjid yang dikhususkan untuk wudhu masyarakat untuk keperluan pribadi dan dalam jumlah yang sedikit, seperti para pemilik toko yang mengambilnya untuk minum atau memasak teh, atau untuk keperluan mobil, mengingat bahwa masjid ini tidak memiliki satu orang pewakaf (waqif), sehingga ia bisa melarangnya?
JAWAB:
Jika tidak diketahui bahwa air itu diwakafkan khusus untuk wudhu orang-orang yang akan shalat dan sudah umum di daerah sekitar masjid bahwa para tetangga masjid dan para pemakai jalan, menggunakan air itu, maka hal itu tidak dipermasalahkan (la isykal), meskipun berihtiyath (berhati-hati) dalam hal ini dianjurkan.
SOAL 405:
Terdapat sebuah masjid di dekat perkuburan. Ketika sebagian orang-orang mukmin datang untuk ziarah kubur, mereka mengambil air dari masjid untuk menyiram kuburan keluarganya, padahal kami tidak tahu apakah air itu diwakafkan hanya untuk masjid ataukah dibebaskan untuk umum. Jika kita tahu bahwa air tersebut tidak diwakafkan untuk masjid namun dikhususkan untuk wudhu dan buang air saja, apakah boleh penggunaan air sebagaimana disebutkan di atas?
JAWAB:
Jika mengambil air dari masjid untuk disiramkan ke kuburan di luar masjid menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat dan tidak menimbulkan penentangan dari mereka di samping tidak ada dalil yang memastikan bahwa ia diwakafkan khusus untuk wudhu dan bersuci, maka tidak dilarang (la basa).
SOAL 406:
Jika masjid memerlukan pembenahan, apakah wajib meminta izin kepada hakim syariy atau wakilnya?
JAWAB:
Untuk membenahi masjid secara sukarela dengan biaya sendiri atau dari para penyumbang yang dermawan tidak diperlukan izin dari hakim syariy.
SOAL 407:
Apakah saya boleh berwasiat agar kelak bila saya mati dikuburkan di masjid kampung dimana saya telah menyumbangkan jerih payah saya untuknya, karena saya suka dikuburkan di bagian dalam maupun di halamannya?
JAWAB:
Jika ketika mengucapkan lafald (shighah) wakaf tidak ada pengecualian penguburan jenazah di dalam masjid, maka tidak diperbolehkan menguburkan jenazah di dalamnya. Sedangkan wasiat Anda dalam kasus ini tidaklah berarti.
SOAL 408:
Ada sebuah masjid yang didirikan sekitar 20 th silam dan telah dihiasi dengan nama Shahibuzzaman (afs) yang diberkati. Tidak diketahui secara pasti bahwa nama itu disebutkan di dalam lafald (shighah) pewakafan masjid. Apakah hukum mengganti nama masjid Shahibuzzaman dengan nama masjid jami?
JAWAB:
Hanya sekedar mengubah nama masjid tidak ada masalah.
SOAL 409:
Terdapat kebiasaan yang populer di masjid-masjid kampung, sejak dahulu kala nazar-nazar diberikan kepada masjid untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di bulan Muharram, Safar, Ramadhan dan hari-hari besar lainnya, akhir-akhir ini masjid-masjid telah dilengkapi dengan listrik dan mesin penghangat. Uacara pembacaan Alfatihah sering diselenggarakan di masjid bila salah seorang dari penduduk kampung meninggal dengan menggunakan sarana listrik dan pemanasnya, padahal para penyelenggaranya tidak membiayainya. Apakah hal ini diperbolehkan secara syariy ataukah tidak?
JAWAB:
Boleh tidaknya menggunakan sarana-sarana masjid untuk acara-acara peringatan kematian yang khusus dan lainnya ditentukan oleh bentuk wakaf atau nazar sarana-sarana yang diserahkan untuk masjid tersebut.
SOAL 410:
Di sebuah desa telah dibangun masjid baru (yang dibangun di atas bekas masjid lama). Di salah satu sudut masjid itu yang mana tanahnya merupakan bagian dari masjid lama, karena tidak mengetahui hukum, telah dibangunlah sebuah ruangan untuk memasak teh dan sebagainya dan dibangun sebuah perpustakaan di atas loteng teras yang berada di dalam masjid. Kami mohon pendapat Anda tentang masalah ini ?
JAWAB:
Membangun ruangan untuk membuat teh tidak dibenarkan dan wajib mengembalikannya ke keadaan masjid semula, sedangkan bagian atap (loteng) masjid secara hukum adalah masjid, dan semua hukum dan pengaruh-pengaruh syariy berlaku atasnya. Namun peletakan rak-rak buku di dalamnya dan menempati tempat itu untuk menelaah dan membaca buku selama tidak mengganggu para pelaku shalat tidaklah dipermasalahkan.
SOAL 411:
Terdapat sebuah masjid yang nyaris roboh di sebuah desa dan tidak ada alasan untuk merobohkannya karena tidak mengganggu jalan. Apakah boleh merobohkan masjid secara total ? Disamping itu, masjid ini juga mempunyai beberapa perabot dan sejumlah uang, kepada siapa harus diberikan?
JAWAB:
Tidak diperbolehkan merobohkan masjid dan menghancurkannya. Secara umum, kerusakan sebuah masjid tidak berarti masjid itu lenyap. Sedangkan perabot dan sarana-sarana masjid yang tidak diperlukan untuk dipergunakan di masjid itu, maka tidak ada masalah memindahkannya ke masjid-masjid lain untuk digunakan.
SOAL 412:
Apakah boleh secara syariy membangun museum di sudut halaman masjid tanpa mencampuri dan merobah bangunan masjid, seperti perpustakaan yang merupakan bagian dari bangunan masjid?
JAWAB:
Tidak diperbolehkan mendirikan museum atau perpustakaan di salah satu sudut halaman masjid jika bertentangan dengan bentuk pewakafan tanah masjid atau jika menyebabkan perobahan bentuk bangunan masjid. Untuk tujuan tersebut anda bisa membangun sebuah tempat di samping masjid.
SOAL 413:
Ada sebuah tempat yang diwakafkan dan dibangun masjid, madrasah dan perpustakaan umum di dalamnya, semuanya berfungsi dan aktif. Namun tempat ini kini berada dalam peta tempat-tempat yang harus dirobohkan oleh pihak Pemerintah Kota. Apakah hukumnya bekerja sama dengan Pemerintah Kota untuk merobohkan dan mengambil sarananya untuk digantikan dengan bangunan yang lebih baik?
JAWAB:
Jika Pemerintah Kota telah merobohkan masjid tersebut dan memberikan ganti rugi, maka menerimanya tidak ada masalah (la isykal), Namun merobohkan masjid dan madrasah yang telah diwakafkan tanpa maslahat yang penting tidaklah diperbolehkan.
SOAL 414:
Demi memperluas masjid jami, diperlukan mencabut beberap pohon dari halamannya. Apakah hal ini boleh, mengingat halaman masjidnya sangat besar dan pohon-pohon lainnya sangat banyak?
JAWAB:
Jika pekerjaan tersebut tidak dianggap sebagai tindakan merobah dan mengganti wakaf, maka tidak ada masalah (la isykal).
SOAL 415:
Apa hukum tanah yang semula merupakan bagian beratap masjid dan telah berubah menjadi jalan umum setelah masjid terkena proyek pembangunan Pemerintah Kota dan beberapa bagiannya telah dirobohkan secara terpaksa?
JAWAB:
Jika kemungkinannya jauh untuk mengembalikannya ke keadaan semula sebagai masjid, maka pengaruh-pengaruh syariy bagi masjid tidak diketahui masih berlaku atasnya ataukah tidak.
SOAL 416:
Ada sebuah masjid yang sudah rusak dan bekasnya pun sudah mulai punah atau sudah mnjadi bangunan lain, harapan untuk kembali seperti semula pun tidak ada, misalnya perkampungan sudah dihancurkan dan pindah ke tempat lain, apakah haram hukumnya menajiskan tempat tersebut dan mensucikannya hukumnya wajib?
JAWAB:
Pada kasus yang ditanyakan tidak jelas apakah haram menajiskannya, namun ihtiyath nya hendaklah jangan menajiskannya!
SOAL 417:
Sejak beberapa waktu lalu saya mendirikan shalat berjamaah di salah satu masjid. Dan saya tidak mengetahui bentuk pewakafan masjid tersebut. Menyadari bahwa masjid ini menghadapi problem biaya, maka apakah boleh menyewakan ruangan bawah tanah masjid untuk sebuah pekerjaan yang layak?
JAWAB:
Jika ruangan bawah tanah tersebut bukan masjid dan bukan merupakan bagian yang diperlukan masjid, maka diperbolehkan.
SOAL 418:
Sebuah masjid tidak memiliki aset yang dapat dijadikan sebagai sumber pengelolaan. Sedangkan badan pengawasnya berkeinginan menggali ruangan bawah tanah di bawah bagian masjid yang beratap guna membangun sebuah tempat pabrik untuk melayani keperluan masjid. Apakah hal ini diperbolehkan atau tidak?
JAWAB:
Menggali tanah ruangan beratap masjid untuk mendirikan tempat produksi dan sebagainya tidak diperbolehkan.
SOAL 419:
Apakah boleh secara mutlak orang-orang kafir masuk ke masjid umat Islam, meskipun untuk menyaksikan peninggalan-peninggalan sejarah?
JAWAB:
Pada dasarnya tidak ada larangan memasuki masjid bagi orang-orang kafir selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kecuali bila menyebabkan masjid terkena najis, atau kehormatannya ternoda, atau menyebabkan orang yang junub berada di dalamnya.
SOAL 420:
Apakah boleh shalat di masjid yang dibangun oleh tangan orang-orang kafir?
JAWAB:
Tidak ada masalah shalat di dalamnya.
SOAL 421:
Jika seorang kafir menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid atau menyerahkan bantuan lain apakah boleh menerimanya?
JAWAB:
Tidak ada masalah (la isykal).
SOAL 422:
Jika seorang datang ke masjid pada malam hari lalu tidur di dalamnya dan mengalami mimpi basah (ihtilam). Saat terjaga ia tidak bisa keluar dari masjid. Apa taklifnya?
JAWAB:
Jika tidak bisa keluar dari masjid dan pergi ke tempat lain, maka ia wajib segera bertayammum agar diperbolehkan tetap berada di masjid.
HUKUM TEMPAT-TEMPAT KEAGAMAAN LAIN
SOAL 423:
Apakah boleh secara syariy memberi nama husainiyah dengan nama orang-orang tertentu, dan jika orang-orang yang turut membangun amal kebaikan ini tidak rela, apa hukumnya?
JAWAB:
Husainiyah yang diwakafkan untuk penyelenggaraan majlis-majlis keagamaan tidak perlu ditulis dengan nama orang-orang tertentu, dan jika ditulis dengan nama sebagian orang, maka wajib dengan izin semua orang yang turut membangunnya.
SOAL 424:
Dalam sejumlah risalah amaliyah disebutkan bahwa orang yang junub dan wanita yang haid tidak diperbolehkan memasuki haram para Imam (as). Kami mohon penjelasan apakah haram ialah ruangan yang berada di bawah kubah saja, ataukah meliputi semua bangunannya?
JAWAB:
Yang dimaksud dengan haram ialah yang berada di bawah kubah yang diberkati dan yang dianggap oleh pandangan umum masyarakat (urf) sebagai haram dan masyhad. Sedangkan bangunan yang dihubungkan dan beranda (arwiqah), maka tidak diperlakukan secara hukum sebagai haram. Maka tidak ada masalah bagi orang yang sedang junub atau haidh masuk ke dalamnya, kecuali bagian tempat tersebut yang merupakan masjid.
SOAL 425:
Sebuah husainiyah telah didirikan di samping sebuah masjid kuno. Kini masjid tersebut tidak mampu menampung jamaah shalat. Apakah boleh menggabungkan huseiniyah tersebut dengan masjid dan menggunakannya sebagai masjid?
JAWAB:
Shalat di husainiyah tidak dipermasalahkan (la isykal). Namun huseiniyah yang telah diwakafkan dengan cara yang benar menurut syariah sebagai husainiyah tidak boleh dirobah menjadi masjid atau digabungkan dengan masjid yang bersebelahan dengannya sebagai masjid.
SOAL 426:
Apa hukum menggunakan permadani dan benda-benda yang telah dinazarkan untuk makam putra salah satu dari para Imam di masjid-masjid kampung?
JAWAB:
Tidak ada larangan jika barang-barang tersebut telah melebihi keperluan makam putra para imam dan para penziarah.
SOAL 427:
Apakah takiyyah (diwaniyah) yang didirikan dengan nama Abul Fadhl (as) dan lainnya diperlakukan secara hukum sebagai masjid? Kami mohon penjelasan hukum-hukumnya?
JAWAB:
Takiyyah dan husainiyah tidak memiliki hukum masjid.
SEPUTAR PAKAIAN PELAKU SHALAT
SOAL 428:
Jika saya ragu tentang keternajisan pakaian saya, apakah jika saya shalat dengan pakaian tersebut hukumnya batal ataukah tidak?
JAWAB:
Pakaian yang diragukan terkena najis dihukumi suci, dan shalat dengannya sah.
SOAL 429:
Saya telah membeli ikat pinggang kulit dari Jerman. Apakah shalat dengan menggunakannya bermasalah secara syariy (isykal syariy), jika saya ragu apakah ia kulit asli ataukah kulit buatan, dan apakah ia kulit hewan yang disembelih secara syariy ataukah tidak? Dan apakah hukum shalat-shalat yang telah saya lakukan dengan menggunakannya?
JAWAB:
Jika ragu apakah ia kulit asli atau buatan, maka shalat dengan memakainya tidak bermasalah (la isykal). Namun, bila ragu, setelah mendapatkan kepastian bahwa ia memang kulit asli, apakah ia dari hewan yang disembelih secara syariy ataukah tidak, maka ia seperti bangkai dalam hukum keharaman dan tidak sah shalat dengan menggunakannya, meskipun dihukumi suci. Adapun shalat-shalat yang telah dilakukan dihukumi sah.
SOAL 430:
Jika seorang mushalli mengetahui bahwa tidak ada najis di tubuh dan pakaiannya lalu melakukan shalat, setelah itu terbukti bahwa tubuh atau pakaiannya terkena najis, apakah shalatnya batal ataukah tidak? Jika menyadari hal itu dipertengahan shalat apakah hukumnya?
JAWAB:
Jika tidak mengetahui sama sekali bahwa tubuh atau pakaiannya terkena najis lalu mengetahuinya setelah shalat, maka shalatnya sah, dan ia tidak wajib mengulang atau mengqadhanya. Namun, jika ia menyadarinya ketika sedang shalat, maka, jika ia dapat melenyapkan najis tanpa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan shalat, maka wajib dilakukannya dan wajib menyempurnakan shalatnya. Namun, bila tidak dapat menghilangkan najis dengan tetap mempertahankan bentuk shalat, dan waktunya leluasa, maka ia wajib menghentikan shalatnya dan memulainya lagi setelah menghilangkan najis.
SOAL 431:
Salah seorang yang bertaqlid kepada seorang marja melakukan shalat selama beberapa waktu dengan mengenakan sesuatu dari kulit binatang yang diragukan penyembelihannya secara syariy yang tidak sah digunakan dalam shalat. Menurut marjanya, jika seseorang membawa sesuatu dari binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya, maka berdasarkan ihtiyath wujubi harus mengulang shalatnya. Apakah hukum binatang yang diragukan penyembelihannya sama dengan binatang yang yang tidak boleh dimakan dagingnya?
JAWAB:
Binatang yang diragukan penyembelihannya dihukumi sebagai bangkai berkenaan dengan hukum haramnya dimakan dan tidak sah shalat dengannya, namun ia dihukumi suci.
SOAL 432:
Apakah seorang wanita yang ketika shalat melihat sebagian rambutnya terbuka lalu segera menutupnya wajib mengulangi shalatnya ataukah tidak?
JAWAB:
Dalam kasus yang ditanyakan, tidak wajib mengulang shalat.
SOAL 433:
Seseorang terpaksa menyucikan tempat keluarnya kencing dengan batu atau kayu atau benda lain dan menyucikannya dengan air setelah sampai di rumah. Apakah ia wajib mengganti atau mensucikan pakaian dalamnya ketika hendak shalat?
JAWAB:
Jika pakaiannya tidak terkena najis oleh basah kencing organ, maka ia tidak wajib mensucikan pakaiannya.
SOAL 434:
Menghidupkan sebagian alat-alat industri import biasanya dengan bantuan para tenaga ahli asing yang, menurut fiqh Islam, kafir dan najis. Karena mengoperasikan alat-alat tersebut dengan meletakkan minyak dan bahan-bahan lain melalui tangan, maka selanjutnya alat-alat tersebut tidak bisa suci. Mengingat bahwa pakaian dan tubuh para pekerja bersentuhan dengan alat-alat ini dan mereka tidak punya waktu untuk menyucikan pakaian dan badan secara sempurna pada waktu-waktu kerja, maka apa taklifnya berkenaan dengan shalat.
JAWAB:
Dengan adanya dugaan bahwa orang kafir yang menghidupkan mesin dan alat-alat tersebut dari kalangan ahlul kitab yang dihukumi suci, atau ketika bekerja ia mengenakan kaos tangan, maka tidak terdapat kepaspastian bahwa mesin dan alat-alat tersebut terkena najis hanya karena yang menghidupkannya orang kafir. Jika ada kepastian bahwa alat, tubuh dan pakaian saat bekerja terkena najis, maka wajib menyucikan tubuh dan menyucikan pakaian atau menggantinya untuk shalat.
SOAL 435:
Batalkah shalat seseorang yang membawa saputangan dan sejenisnya yang terkena najis darah atau meletakkannya dalam saku?
JAWAB:
Tidak ada masalah (la isykal) jika saputangan itu berukuran kecil sehingga tidak dapat berfungsi sebagai penutup aurat.
SOAL 436:
Apakah sah shalat menggunakan pakaian yang diberi parfum yang mengandung alkohol?
JAWAB:
Tidak ada masalah dengan shalatnya selama tidak mengetahui secara pasti bahwa parfum terebut najis.
SOAL 437:
Apa yang wajib ditutupi oleh wanita ketika sedang melakukan shalat dan apakah ada masalah (isykal) jika ia hanya mengenakan pakaian dengan lengan pendek dan tidak memakai kaos kaki?
JAWAB:
Tolok ukurnya ialah pakaiannya harus menutupi seluruh anggota tubuh kecuali wajah yang wajib dibasuh dalam wudhu, kedua telapak tangan sampai pergelangan dan kedua telapak kaki sampai pergelangan, meskipun kain penutup yang digunakan seperti cadur (abaya wanita di Iran.
SOAL 438:
Apakah wajib wanita menutupi kedua kaki ketika sedang shalat, ataukah tidak?
JAWAB:
Menutup kedua kaki sampai pergelangan, pada saat tidak ada non muhrim, tidak wajib.
SOAL 439:
Apakah wajib menutupi dagu ketika mengenakan hijab (jilbab) dan ketika sedang shalat secara sempurna, ataukah cukup menutupi bagian bawahnya saja atauakah wajib menutupi dagu karena ia merupakan awal bagi upaya menutup wajah yang wajib secara syariy?
JAWAB:
wajib menutup bagian bawah dagu, bukan dagu yang merupakan bagian dari wajah.
SOAL 440:
Apakah hukum tentang benda yang terkena najis (mutanajjis) yang tidak dapat menutup aurat dalam sholat hanya berlaku jika seseorang shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu tentang hukum masalah tersebut atau tentang subyeknya, ataukah hukum tersebut mencakup kedua kondisi; ketidakpastian subyek (syubhah maudhuiyah) dan ketidak pastian (syubhah hukmiyah)?
JAWAB:
Hukum tersebut tidak khusus dalam keadaan lupa atau tidak tahu, melainkan diperbolehkan shalat dengan benda yang terkena najis yang tidak dapat menutup aurat sholat, meskipun dalam keadaan mengetahui dan menyadarinya.
SOAL 441:
Apakah bulu atau liur kucing pada pakaian pelaku shalat membatalkan shalat?
JAWAB:
Ia membatalkan shalat.
MEMAKAI DAN MENGGUNAKAN EMAS DAN PERAK
SOAL 442:
Apa hukumnya lelaki memakai cincin emas terutama saat shalat?
JAWAB:
Lelaki tidak diperbolehkan memakai cincin emas dan shalat dengannya berdasarkan ihtiyath (wajib) batal.
SOAL 443:
Apa hukum lelaki memakai emas putih?
JAWAB:
Jika yang disebut emas putih itu adalah emas kuning itu sendiri yang menjadi putih karena campuran warna, maka hukumnya haram, namun jika terbuat dari unsur emas yang sangat sedikit sehingga menurut pandangan umum (urf) tidak disebut emas, maka tidak ada masalah. Dan Platina juga tidak bermasalah.
SOAL 444:
Apakah bermasalah (isykal) secara syariy menggunakan emas jika tidak untuk berhias dan tidak tampak bagi orang lain?
JAWAB:
Memakai emas bagi lelaki secara mutlak haram hukumnya, meskipun tidak untuk berhias atau tersembunyi dari pandangan orang lain.
SOAL 445:
Apa hukum lelaki memakai emas, karena kita menemukan sebagian orang mengaku bahwa memakai emas dalam waktu yang singkat, seperti detik-detik akad nikah tidak bermasalah?
JAWAB:
Diharamkan lelaki memakai emas, tanpa membedakan ukuran waktu yang pendek atau yang panjang.
SOAL 446:
Dengan menyadari hukum-hukum tentang pakaian orang yang shalat dan bahwa haram bagi lelaki berhias dengan emas, kami mohon jawaban atas dua pertanyaan berikut:
1.   Apakah yang dimaksud berhias dengan emas mencakup seluruh bentuk penggunaan emas bagi lelaki meskipun dalam operasi bedah tulang atau gigi pasangan?
2.   Mengingat bahwa salah satu tradisi negara kami ialah, bahwa para pemuda yang baru kawin mengenakan cincin tunangan terbuat dari emas kuning dan hal ini oleh masyarakat umum sama sekali tidak dianggap sebagi hiasan bagi lelaki, namun hanyalah sebagai simbul permulaan kehidupan rumah tangga seseorang, maka apa pendapat Anda tentang masalah ini?
JAWAB:
  1. Kriteria haramnya lelaki memakai emas bukanlah karena untuk perhiasan, namun penggunaan emas dengan cara dan maksud apapun, maka haram hukumnya meskipun ia berupa cincin, gelang, atau kalung dan sebagainya, sedangkan penggunaan emas bagi lelaki dalam operasi bedah dan dalam gigi pasangan tidaklah dipermasalahkan.
  2. Haram secara umum lelaki menggunakan cincin tunangan dari emas kuning.
SOAL 447:
Apa hukum menjual dan membuat perhiasan-perhiasan emas yang khusus bagi kaum lelaki yang tidak digunakan oleh kaum wanita?
JAWAB:
Membuat perhiasan emas jika untuk dipakai kaum lelaki haram hukumnya dan tidak boleh menjual dan membelinya.
SOAL 448:
Ketika bertamu terkadang kami disuguhi manisan dan kue di tempat yang terbuat dari perak. Apakah hal ini sama dengan makan dari bejana terbuat dari perak dan apa hukumnya?
JAWAB:
Diharamkan mengambil makanan dan sejenisnya dari bejana terbuat dari perak jika dengan tujuan untuk dimakan.
SOAL 449::
Apakah ada masalah melapisi gigi dengan emas dan apa hukumnya melapisi gigi dengan platina?
JAWAB:
Tidak ada larangan melapisi gigi dengan emas atau platina, namun melapisi gigi depan dengan emas, jika dengan tujuan berhias tidak bebas dari masalah.
AZAN DAN IQAMAH
SOAL 450:
Di desa kami juru adzan selalu mengumandangkan adzan subuh pada bulan Ramadhan beberapa menit sebelum memasuki waktu agar orang-orang dapat makan dan minum sampai pertengahan adzan atau usainya. Apakah benar perbuatan demikian?
JAWAB:
Jika adzan tersebut tidak membuat masyarakat salah menduga dan bukan sebagai pengumuman terbitnya fajar, maka tidak dipermasalahkan (la isykal).
SOAL 451:
Sebagian orang demi melaksanakan tugas amar maruf dan nahi munkar mengumandangkan adzan bersama-sama di jalan-jalan umum, alhamdulillah kegiatan ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menghalangi kerusakan yang dilakukan secara terbuka di lingkungan daerah dan mengarahkan orang-orang terutama para pemuda untuk melaksanakan shalat pada awal waktu, namun seseorang menyebutkan bahwa perbuatan ini tidak ada dalam syariah Islam dan merupakan perbuatan bidah. Pendapat ini menimbulkan kebingungan. Apa pendapat Anda tentang hal ini?
JAWAB:
Mengumandangkan adzan sebagai pemberitahuan untuk shalat pada awal waktu-waktu shalat faridhah harian dan mengeraskan suara saat membacanya serta mengikuti bacaan adzan bagi yang mendengarnya tergolong hal-hal yang sangat dianjurkan (al-mustahabbah al-akidah). Mengumandangkan adzan secara bersama-sama di sekitar jalan-jalan diperbolehkan selama tidak menyebabkan pelecehan, menutup jalan dan mengganggu orang.
SOAL 452:
Karena mengumandangkan adzan merupakan perbuatan ritual-politis dan mengandung pahala yang besar, orang-orang mukmin bertekad mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara dari atas loteng rumah-rumah mereka setiap kali tiba waktu shalat fardhu, terutama shalat subuh. Pertanyaannya, apa hukum melakukan hal itu apabila sebagian tetangga menentangnya?
JAWAB:
Mengumandangkan adzan dengan cara yang lazim dari atas loteng tidak ada masalah (la isykal)
SOAL 453:
Apa hukumnya menyiarkan acara-acara khusus saat sahur bulan Ramadhan, kecuali adzan subuh, melalui pengeras suara di masjid agar seluruh masyarakat dapat mendengarnya?
JAWAB:
Bila itu dilakukan di tempat-tempat yang sebagian besar warganya tidak tidur di malam hari bulan suci Ramadhan untuk membaca Al-Quran, doa-doa dan mengikuti upacara-upacara keagamaan dan sebagainya, maka diperbolehkan (la isykal). Namun, bila mengganggu tetangga, maka hal itu tidak diperbolehkan.
SOAL 454:
Apakah diperbolehkan menyiarkan ayat-yat Al-Quran di masjid-masjid dan pusat-pusat keagamaan sebelum tiba waktu subuh dan menyiarkan doa-doa setelah subuh dengan suara yang keras sekali sehingga mencapai jarak beberapa kilometer padahal hal itu terkadang berlangsung lebih dari setengah jam?
JAWAB:
Boleh menyiarkan adzan secara wajar sebagai pengumuman akan masuknya waktu shalat fardhu subuh melalui pengeras suara. Namun, bila penyiaran ayat-ayat Al-Quran, doa dan lainnya pada waktu kapan pun melalui pengeras suara di masjid menggangu tetangga, maka hal itu tidak memiliki pembenaran secara syariy, bahkan bermasalah. (fihi isykal).
SOAL 455:
Apakah boleh lelaki mencukupkan dirinya dengan adzan wanita untuk shalat?
JAWAB:
Mencukupkan diri dengan adzan wanita bagi orang laki-laki bermasalah (mahallu isykal)
SOAL 456:
Apa pendapat Anda tentang syahadah (kesaksian) ke tiga atas kepemimpinan danwilayahsang penghulu parawashiy(as) dalam adzan daniqamahuntuk shalat fardhu?
JAWAB:
Mengucapkan "Asyhadu anna 'Aliyyan Waliyyullah" sebagai syiar dan lambang tasyayyu' adalah baik dan penting serta harus dengan niat mendekatkan diri secara muthlaq, namun bukan bagian dari adzan dan iqamah
SOAL 457:
Selama beberapa waktu saya merasa kesulitan dengan sakit pinggang yang menimpa saya, bahkan kadang-kadang saya merasakan sangat sakit, sehingga tidak memungkinkan untuk sholat dengan berdiri. Dengan memperhatikan masalah tersebut apakah boleh saya sholat di awal waktu dengan duduk,padahal kalau saya bersabar sampai akhir waktu mungkin saya dapat melakukannya dengan berdiri, apa tugas saya?
JAWAB:Jika Anda memberikan kemungkinan, bahwa pada akhir waktu akan dapat melakukan sholat dengan berdiri, maka berdasarkan ihtiyath Anda wajib bersabar, namun jika pada awal waktu disebabkan alasan tersebut Anda melakukan sholat dengan duduk, kemudian sampai akhir waktu alasan (sakit/udzur) tersebut belum hilang, maka sholat yang telah Anda lakukan dihukumi sah dan tidak perlu diulang. Lain halnya jika Anda dari awal waktu mengira,bahwa udzur Anda akan berlangsung sampai akhir waktu dan Anda lakukan sholat dengan duduk, lalu udzur Anda hilang sebelum akhir waktu, maka Anda harus mengulang sholat dengan berdiri.