SHALAT QADHA

 
SOAL 524:
Sampai menginjak usia 17 tahun saya tidak tahu tentangihtilam(mimpi basah),ghusl(mandi) dan sebagainya dan saya tidak pernah mendengar tentang hal-hal tersebut dari seseorang. Saya semula tidak mengerti arti janabah dan kewajiban mandi. Karena itulah, shalat dan puasa saya hingga usia itu bermasalah. Kami mohon Anda berkenan menerangkan taklif yang wajib saya laksanakan?
JAWAB:
Seluruh shalat yang telah anda lakukan dalam keadaan janabah wajib diqadha. Sedangkan puasa yang anda lakukan dalam keadaan janabah karena tidak mengetahui (kejadian) janabah itu sendiri, sah dan cukup, serta tidak wajib diqadha.
SOAL 525:
Sangat disesalkan saya dulu melakukan onani yang nista karena kebodohan dan lemah dalam mengendalikan keinginan. Karena itulah, terkadang saya tidak shalat, namun saya tidak mengetahui seberapa lama saya tidak melakukan shalat. Saya tidak meninggalkan shalat secara berurutan melainkan saat janabah dan belum mandi. Perkiraan saya itu berjalan selama enam bulan. Kini saya bertekad untuk mengqadha shalat dalam jangka waktu tersebut. Apakah wajib mengqadha shalat itu ataukah tidak?
JAWAB:
Sejumlah shalat harian yang anda ketahui belum anda laksanakan atau telah anda lakukan dalam keadaanhadatswajib diqadha.
SOAL 526:
Seseorang yang tidak tahu bahwa dirinya menanggung kewajiban (dzimmah) shalat qadha. Apakah shalat mustahabbah atau nafilah yang ia lakukan dihitung sebagai shalat qadha jika akhirnya mengetahui bahwa ia wajib melakukan shalat qadha?
JAWAB:
Shalat nafilah dan mustahabbah tidak dihitung sebagai shalat qadha. Jika ia menanggung kewajiban (dzimmah) shalat qadha, maka ia wajib melakukan shalat dengan niat qadha.
SOAL 527:
Sejak sekitar 7 bulan saya mencapai usia takif (akil baligh). Beberapa minggu menjelang usia taklif saya beranggapan bahwa satu-satunya tanda ke-baligh-an adalah dengan mencapai usia 15 th sesuai kalender Hijriyah Qamariah. Hanya saja sekarang saya telah membaca sebuah buku yang membahas tentang tanda-tanda ke-baliqh-an bagi lelaki, dan saya temukan ada tanda-tanda lain bagi ke-baligh-an dan itu ada pada diri saya, hanya saja saya tidak tahu tanggal kejadiannya. Apakah saya menanggung kewajiban (dzimmah) qadha shalat dan puasa, karena kadang kala saya melakukan sha1at, pada bulan Ramadhan yang lalu saya melakukan puasa sebulan penuh. Apa hukum masalah ini?
JAWAB:
Anda wajib mengqadha shalat dan puasa yang anda yakini telah anda tinggalkan sesudah mencapai usia taklif syariy.
SOAL 528:
Seseorang pada bulan Ramadhan mandi janabah tiga kali, umpamanya ia mandi pada hari ke 20, hari ke 25 dan pada hari ke 27. Setelah itu ia yakin bahwa salah satu dari tiga mandi tersebut batal. Apa hukum shalat dan puasanya?
JAWAB:
Puasanya sah. Namun wajib mengqadha shalat sampai ia yakin bahwa dirinya sudah bebas dari tanggungan.
SOAL 529:
Ada seseorang sejak beberapa waktu lalu tidak memperhatikan urutan dalam mandi karena ketidaktahuan. Apa hukum shalat dan puasa yang telah dikerjakannya dahulu?
JAWAB:
Jika perbuatan tidak memperhatikan urutan dalam mandi sedemikian rupa sehingga menyebabkan mandinya batal, seperti mendahulukan basuhan sisi kanan tubuh sebelum membasuh kepala dan leher, atau membasuh sisi kiri sebelum sisi kanan, maka ia wajib mengqadha seluruh shalat yang dikerjakannya dalam keadaanhadatsbesar. Sedangkan puasanya dihukumi sah jika dulu ia yakin akan keabsahan mandinya.
SOAL 530:
Apa yang wajib dilakukan orang yang hendak mengqadha shalat selama satu tahun?
JAWAB:
Ia boleh memulai dengan salah satu shalat kemudian ia lakukan sebagaimana ia melakukan lima shalat harian (fardhu).
SOAL 531:
Jika seseorang mempunyai tanggungan qadha sejumlah shalat, apakah ia boleh melakukan qadha dengan urutan sebagai berikut:
  1. Shalat subuh 20 kali, misalnya.
  2. Shalat duhur dan ashar masing-masing 20 kali.
  3. Shalat magrib dan isya masing-masing 20 kali, dan begitulah seterusnya selama satu tahun.
JAWAB:
Boleh melakukan qadha shalat dengan cara yang disebutkan.
SOAL 532:
Seseorang mengalami cedera di kepala dan mengenai sebagian otaknya. Akibatnya, tangan, kaki kiri, dan lidahnya mengalami kelumpuhan. Ia juga lupa cara shalat dan tidak mampu mempelajarinya. Namun, ia dapat membedakan bagian-bagian shalat dengan cara membaca buku atau dengan cara mendengarkan kaset. Kini ia menghadapi dua problema berkaitan dengan shalat. Problema pertama, ia tidak mampu menyucikan tempat kencing dan tidak dapat berwudhu. Problem kedua, berkenaan dengan bacaan dalam shalat. Apa hukumnya? Begitu juga, apa hukumnya dengan shalat yang tidak dilakukannya selama enam bulan?
JAWAB:
Najisnya badan tidak merusak keabsahan shalatnya jika memang tidak bisa untuk membersihkannya. Jika mampu- meski dengan bantuan orang lain- berwudhu atau bertayammum, maka wajib shalat dengan cara yang mampu dilakukannya, meskipun dengan bantuan mendengarkan kaset, atau dengan melihat tulisan dan sebagainya. Shalat-shalat yang telah dilewatkan, wajib mengqadhanya, kecuali shalat yang tidak dikerjakan akibat dari ketidaksadaran yang menelan semua waktu shalat.
SOAL 533:
Ketika masih muda saya telah mengqadha shalat duhur dan ashar lebih banyak dari pada mengqadha shalat maghrib, isya dan subuh, namun saya tidak tahu runtut, urutan dan jumlahnya. Apakah dalam kasus demikianshalat daurberlaku? Apakahshalat dauritu? Kami mohon Anda menjelaskan hal itu?
JAWAB:
Anda tidak wajib memperhatikan urutan. Cukup mengqadha sejumlah shalat yang anda yakini tidak anda kerjakan. Anda tidak wajib melakukandaurdan mengulangi shalat demi memastikan bahwa anda telah mengerjakannya secara berurutan.
SOAL 533:
Setelah kawin, kadang kala keluar dari kemaluan saya cairan. Saya yakin bahwa itu najis. Karenanya, saya mandi dengan niat mandi janabah. Kemudian saya shalat tanpa wudhu. Cairan ini dalamrisalah amaliyahdisebutmadzi. Kini saya tidak tahu apakah hukum shalat-shalat yang dulu telah saya lakukan dengan mandi janabah tanpa mengalami janabah dan tanpa berwudhu?
JAWAB:
Seluruh shalat yang telah anda lakukan tanpa wudhu dengan mandi janabah setelah keluarnya cairan tersebut wajib diqadha.
SOAL 535:
Jika seseorang yang kafir masuk Islam setelah beberapa waktu. Apakah wajib mengqadha shalat-shalat dan puasa yang tidak dilaksanakannya ataukah tidak?
JAWAB:
Tidak wajib.
SOAL 536:
Sejumlah orang -akibat informasi yang menyesatkan- meninggalkan shalat dan kewajiban-kewajiban mereka selama beberapa tahun. Namun setelah membacarisalahImam Khomaini (ra), mereka taubat dan kembali ke (jalan) Allah swt. Namun sekarang mereka tidak mampu mengqadha shalat-shalat yang ditinggalkan. Apa hukumnya?
JAWAB:
Mereka wajib mengqadha shalat-shalat yang telah lewat sebatas yang memungkinkan.
SOAL 537:
Ada seorang mati dan ia menanggung qadha puasa Ramadhan dan shalat. Ia meninggalkan sejumlah harta, jika uang tersebut digunakan untuk mengqadha puasa Ramadhan, maka akan tetap tanggungan qadha shalatnya, begitu pula sebaliknya. Dalam situasi demikian manakah yang harus didahulukan?
JAWAB:
Tidak ada yang diutamakan antara shalat dan puasa. Selama masih hidup, maka ia sendiri wajib mengqadha shalat dan puasa. Jika tidak melakukannya sendiri, maka harus berwasiat pada akhir hidupnya untuk menyewa seseorang untuk mengqadha shalat dan puasanya sejumlah yang dapat dibayar dari sepertiga harta peninggalannya dan (biayanya) diambilkan dari sepertiga harta yang ditinggalkan.
SOAL 538:
Dulu saya sering shalat dan mengqadha sebagian shalat yang terlewatkan, karena tidur pada waktu shalat atau karena badan dan pakaian dalam keadaan najis ketika saya malas mensucikannya. Bagaimanakah saya menghitung jumlah tanggungan saya berupa qadha shalat-shalat harian, shalat ayat dan shalatqashr?
JAWAB:
Anda cukup mengqadha sejumlah shalat yang diyakini telah anda tinggalkan. Dan yang anda yakini dari jumlah tersebut sebagai shalatqashratau shalat ayat itulah yang harus anda lakukan sesuai keyakinan anda. Sedangkan sisanya anda lakukan sebagai qadha shalat-shalat harian secara sempurna (tamam/ bukanqashr). Anda tidak menanggung kewajiban apapun lebih dari itu.
SHALAT QADHA PUTRA SULUNG
SOAL 539:
Ayah saya mengalami stroke otak dan menderita sakit selama dua tahun. Akibatnya, ia tidak mampu membedakan antara baik dan buruk. Artinya, kemampuan berfikir dan bernalarnya telah lenyap. Selama dua tahun ia tidak melakukan shalat dan puasa sedangkan saya adalah putra terbesar dalam keluarga. Apakah saya wajib mengqadha shalat dan puasanya. Tentu, saya tahu bahwa jika ia waras, maka saya wajib mengqadhanya. Saya mengharap Anda membimbing saya dalam masalah ini?
JAWAB:
Jika kelemahan daya berfikirnya tidak mencapai batas kegilaan, dan ia tidak mengalami ketidaksadaran selama waktu-waktu shalat maka ia wajib mengqadha shalat-shalat yang telah dilewatkannya.
SOAL 540:
Jika seseorang mati, siapa yang wajib melunasikaffarah(denda) puasanya? Apakah putrai-putrinya wajib membayarkaffarah, atau orang lain boleh membayarnya?
JAWAB:
Kaffarahpuasa yang tadinya menjadi tanggungan ayah, jika bersifatmukhayyarah(boleh memilih), seperti bila ia mampu berpuasa dan memberi makan, maka jika biaya pembayarannya bisa diambil dari harta peninggalannya maka wajib dilakukan demikian. Jika tidak, maka anak lelaki tertua, berdasarkanahwath, wajib berpuasa.
SOAL 541:
Ada lelaki lanjut usia yang telah meninggalkan keluarganya karena alasan tertentu dan tidak dapat berhubungan dengan mereka. Sedangkan ia merupakan anak lelaki tertua dalam keluarganya. Ayahnya telah wafat dalam waktu itu. Ia tidak tahu jumlah shalat qadha dan lainnya. Ia juga tidak memiliki harta yang cukup untuk menyewa orang melakukan sholatijarah, dan tidak mampu mengqadha sendiri karena usianya yang sudah lanjut. Apa yang harus dikerjakannya?
JAWAB:
Tidak wajib mengqadha shalat-shalat ayah kecuali yang diketahui telah ditinggalakan. Putra tertua wajib mengqadha shalat-shalat ayahnya dengan cara yang dapat dilakukannya. Jika tidak mampu, maka ia dimaafkan (madzur).
SOAL 542:
Jika anak tertua orang yang mati adalah wanita, sedangkan anak keduanya laki-laki, apakah ia (anak laki) wajib mengqadha shalat-shalat dan puasa-puasa ayah dan ibunya?
JAWAB:
Tolok ukurnya ialah bahwa anak lelaki itu merupakan anak tertua di antara semua anak lelaki, kalau ia memang mempunyai anak-anak lelaki. Dalam kasus yang ditanyakan, qadha shalat dan puasa ayah beserta ibu wajib dilakukan oleh anak lelaki yang merupakan anak kedua.
SOAL 543:
Jika putra tertua -baligh atau tidak- mati sebelum ayahnya, apakah kewajiban mengqadha shalat ayah gugur dari anak-anak yang lain ataukah tidak?
JAWAB:
Taklif (kewajiban) megqadha shalat dan puasa ayahnya berlaku atas putra tertua yang masih hidup saat sang ayah meninggal meskipun ia bukan anak pertama atau putra pertama bagi ayahnya.
SOAL 544:
Saya adalah putra tertua dalam keluarga. Apakah saya wajib demi melakukan qadha atas shalat-shalat fardhu ayah, memastikan hal itu ketika ia masih hidup? Atau apakah ia wajib memberi tahu saya tentang jumlah shalat yang dilewatkan? Jika ia tidak memberitahu, apa tugas saya?
JAWAB:
Anda tidak wajib menyelidiki dan menanyakan hal itu namun, dalam konteks ini seorang ayah wajib berwasiat. Yang jelas, putra tertua diantara anak-anak lelaki berkewajiban -setelah wafat ayahnya- mengqadha jumlah shalat dan puasa yang diyakini telah ditinggalkan ayahnya.
SOAL 545:
Jika seseorang mati dan harta peninggalannya hanya sebuah rumah yang kini ditempati oleh anak-anaknya. Ia mempunyai tanggungan shalat dan puasa. Sedangkan anak lelaki tertuanya tidak mampu mengqadha dua kewajiban tersebut karena kesibukan harian. Apakah mereka wajib menjual rumah itu dan mengqadha shalat dan puasanya?
JAWAB:
Bagaimanapun anak lelaki tertua berkewajiban mengqadha shalat dan puasa yang dilewatkan oleh ayahnya. Kecuali jika ayahnya telah berwasiat menyewa seseorang untuk melakukannya dengan biaya dari sepertiga harta peninggalannya, dan harta tersebut cukup untuk membiayai pelaksanaan semua kewajiban shalat dan puasa, maka wajib menggunakan sepertiga harta peninggalannya untuk hal itu.
SOAL 546:
Apabila putra tertua yang berkewajiban mengqadha shalat ayahnya mati, apakah pewaris putra tertua menanggung qadhanya, ataukah kewajiban mengqadha tersebut berpindah kepada putra ke dua (dari anak-anak) kakek?
JAWAB:
Kewajiban mengqadha shalat dan puasa ayah atas putra lelaki tertua tidak berlaku atas anaknya, sebagaimana juga tidak berlaku atas saudaranya.
SOAL 547:
Jika ayah tidak pernah shalat sama sekali, apakah semua shalat-shalatnya harus diqadha dan wajib dilakukan oleh anak laki tertua?
JAWAB:
Dalam kasus yang demikian pun, berdasarkanahwathwajib mengqadhanya.
SOAL 548:
Apakah anak lelaki tertua wajib mengqadha seluruh shalat dan puasa ayahnya yang meninggalkan semua amal ibadah selama 50 th dengan sengaja?
JAWAB:
Tidak wajib atas anak lelaki tertua mengqadha apa yang dilewatkan oleh ayahnya karena sikap penentangan. Namun, dianjurkan, berdasarkan ihtiyath mengqadhanya dalam kasus demikian.
SOAL 549:
Jika seorang saudara laki-laki tertua memiliki tanggungan sholat dan puasa (sendiri) kemudian dia memiliki tanggungan sholat dan puasa ayahnya, mana yang harus didahulukan?
JAWAB:
Dia bebas memilih mana yang akan dilakukan terlebih dahulu. Yang mana saja ia lakukan terlebih dahulu, sah.
SOAL 550:
Ayah saya mempunyai tanggungan sejumlah shalat qadha, namun ia tidak mampu mengqadhanya. Sedangkan saya adalah anak lelaki tertua dalam keluarga. Apakah saya boleh mengqadha shalat-shalat yang dilewatkan ayah saya atau menyewa seseorang untuk mengqadhanya, padahal ia masih hidup?
JAWAB:
Tidak sah menggantikan seseorang yang masih hidup untuk melaksanakan qadha puasa dan shalat.
SHALAT JAMAAH
SOAL 551:
Apa niat imam shalat jamaah? Apakah ia berniat berjamaah atau perorangan?
JAWAB:
Jika ingin memperoleh keutamaan jamaah, maka ia wajib niat menjadi imam dan jamaah. Jika melakukan shalat tanpa niat sebagai imam, maka shalatnya dan keikutsertaan orang-orang lain dengannya (iqtida) tidak bermasalah (la isykal).
SOAL 552:
Di daerah-daerah militer saat shalat jamaah dilaksanakan -pada jam kerja- terdapat sejumlah orang tidak bergabung dalam shalat jamaah karena kondisi pekerjaan, padahal pekerjaan itu dapat dilakukan setelah jam kerja atau pada hari berikutnya. Apakah perbuatan ini dianggap sebagai meremehkan shalat jamaah?
JAWAB:
Ikut-serta dalam shalat jamaah tidak wajib pada dasarnya. Namun pada saat yang sama bergabung dengan jamaah itu lebih utama. Sebagaimana untuk memeperoleh keutamaan shalat pada awal waktu dan shalat jamaah, hendaknya pekerjaan-pekerjaan kantor diatur sedemikian rupa sehingga dapat melaksanakanfaridhah ilahiyahini secara berjamaah dengan waktu yang sesingkat mungkin.
SOAL 553:
Apa pendapat Anda tentang melakukan amalan-amalan mustahab, seperti shalat mustahab atau doa tawashshul, dan doa-doa panjang yang dilakukan sebelum atau sesudah atau saat sedang shalat jamaah di instansi-instansi pemerintah dan diadakan di mushalla kantor yang sampai memperpanjang waktu shalat jamaah?
JAWAB:
Doa-doa dan amalan-amalan mustahab yang melebihi pelakasanaanfaridhah ilahiyahdalam bentuk berjamaah yang merupakan salah satu syiar Islam ini, Jika menyebabkan terbuangannya jam kerja dan terlambat melakukan kewajiban-kewajiban, maka hal itu (dianggap) bermasalah.
SOAL 554:
Apakah sah mendirikan shalat jamaah lain di tempat diselenggarakannya shalat jamaah dalam jumlah besar yang berjarak 50 atau 100 meter sehingga suara adzan daniqamahnya (bisa) terdengar?
JAWAB:
Tidak ada masalah mendirikan shalat jamaah lain. Hanya saja sepantasnya orang-orang mukmin berkumpul satu tempat dan semuanya menghadiri shalat dalam satu jamaah demi mengagungkan upacara-upacara keagamaan shalat jamaah.
SOAL 555:
Ketika shalat jamaah dilaksanakan di masjid, seseorang atau sejumlah orang melakukan shalat sendiri-sendiri dengan tujuan melemahkan dan dan menganggap fasiq imam jamaah. Apa hukum perbuatan demikian?
JAWAB:
Perbuatan itu bermasalah (isykal), sebab tidak boleh melemahkan shalat jamaah, menghina dan melecehkan imam jamaah yang diyakini oleh orang-orang sebagai orang yang adil (tidak fasiq).
SOAL 556:
Di sebuah daerah terdapat sejumlah masjid yang seluruhnya dijadikan sebagai tempat pelaksanaan shalat jamaah. Ada sebuah rumah terletak di antara dua masjid dan berjarak dari salah satunya sepuluh rumah dan dari yang lain dua rumah. Di rumah itu didirikan shalat jamaah. Apa hukumnya?
JAWAB:
Mendirikan shalat jamaah sepatutnya menjadi sarana persatuan dan kerukunan, bukan dasar untuk menciptakan iklim perselisihan dan perpecahan. Mendirikan shalat jamaah di rumah yang berdampingan dengan masjid, selama tidak menyebabkan perpecahan dan perselisihan, tidak apa-apa.
SOAL 557:
Apakah boleh seseorang, tanpa memperoleh izin dari imam tetap (ratib) masjid yang direkomendasi oleh Pusat Urusan Masjid, mendirikan shalat jamaah di masjid tersebut?
JAWAB:
Mendirikan shalat jamaah tidak bergantung pada izin dari imam tetap, namun, lebih baik untuk tidak mengganggu imam tetap tersebut ketika berada di masijd pada waktu shalat untuk mendirikan shalat jamaah di situ, bahkan boleh jadi haram mengganggunya jika menyebabkan timbulnya fitnah dan sebagainya.
SOAL 558:
Jika imam jamaah kadang kala berbicara atau bergurau dengan cara yang tidak wajar dan tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang ulama. Apakah hal ini menggugurkan sifat adil-nya?
JAWAB:
Masalah ini terserah pada penilaian para mushalli (jamaah shalat). Jika tidak bertentangan dengan syariah dan tidak bertolakan kehormatan (muru ah), maka tidak menodai sifat adil.
SOAL 559:
Apakah boleh bermakmum dengan imam jamaah tanpa dasar pengetahuan yang sebenarnya tentang dia?
JAWAB:
Jika makmum dengan suatu cara telah mendapatkan kepastian bahwa orang itu adil, maka boleh bermakmum dengannya, dan shalat jamaah sah hukumnya?
SOAL 560:
Jika seseorang yakin bahwa si fulan adalah seorang yang adil dan bertaqwa, namun juga yakin bahwa ia mendzaliminya dalam kasus-kasus tertentu, apakah boleh menganggapnya adil secara umum?
JAWAB:
Sebelum memastikan bahwa perbuatan orang yang dianggap zalim itu dilakukan atas dasar pengetahuan, keinginan, dan kehendak, dan tanpa alasan pembenaran syari, maka ia tidak boleh menghukuminya sebagi fasik.
SOAL 561:
Apakah boleh bermakmum dengan imam jamaah yang dapat melakukan amar maruf dan nahi munkar, namun tidak melakukannya?
JAWAB:
Meninggalkan amar maruf yang dimungkinkan akibat alasan yang dapat diterima dalam pandangan mukallaf, tidak menodai ke-adil-annya, dan tidak ada larangan bermakmumdengannya.
SOAL 562:
Apa arti adalah (ke-adil-an) itu menurut Anda YM!
JAWAB:
Ia adalah kondisi psikologis yang mendorong untuk menetapi ketaqwaan dan mencegah dari keterlibatan dalam perbuatan-perbuatan yang diharamkan secara syari. Untuk memastikannya, cukup dengan mengetahui kebaikan lahiriah yang menyingkap dugaan adanya adalah tersebut.
SOAL 563:
Kami, sejumlah pemuda, duduk bersama di diwaniyah-diwaniyah dan husainiyah-husainiyah dan ketika tiba waktu shalat, kami meyuruh salah seorang yang adil untuk menjadi imam shalat (jamaah). Namun sebagian teman mempermasalahkan shalat tersebut dan berkata, bahwa Imam Khomaini (qs) mengharamkan shalat di belakang selain ulama. Apa kewajiban kami?
JAWAB:
Jika saudara-saudara yang mulia dapat melaksanakan dengan mudah shalat faridhah dibelakang ulama (yang terbukti layak dijadikan imam jamaah) hendaknya tidaak bermakmum kepada selain ulama.
SOAL 564:
Apakah dua orang boleh melaksanakan shalat jamaah?
JAWAB:
Jika yang anda maksud adalah pelaksanaan shalat jamaah yang terdiri atas satu imam dan satu makmum, maka tidak ada masalah (la isykal).
SOAL 565:
Seorang makmum membaca Al-fatihah dan surah dalam shalat dhuhur dan ashar ketika melaksanakan shalat jamaah, padahal kewajiban (membaca Al-fatihah dan surah) itu gugur dalam shalat jamaah. Namun, ia melakukannnya demi menjaga konsentrasi dan agar pikirannya tidak melayang. Apa hukum shalatnya?
JAWAB:
Makmum dalam shalatikhfatiyahseperti dhuhur dan ashar wajib diam (tidak membaca) ketika imam sedang membaca Al-fatihah dan surah. Ia tidak boleh membaca, meskipun dengan tujuan menjaga konsentrasi pikirannya.
SOAL 566:
Jika imam shalat jamaah menggunakan sepeda motor untuk menuju (tempat) shalat jamaah dengan tetap mematuhi peraturan lalu lintas, apa hukumnya?
JAWAB:
Hal itu tidak menggugurkan sifat adil dan tidak mengganggu keabsahan menjadi imam.
SOAL 567:
Jika kami tidak sempat mengikuti shalat jamaah karena sudah memasuki bagian akhir, dan untuk memperoleh pahala berjamaah, kami melakukan takbiratul ihram dan duduk dalam posisi berjauhan (kedua lutut tidak menyentuh tanah) dan bertasyahhud bersama imam, dan seusai imam melakukan taslim (membaca salam), kami berdiri dan memulai shalat dari rakaat pertama. Yang kami tanyakan, apakah boleh melakukan cara demikian dalam tasyahhud rakaat kedua dari shalat yang berjumlah empat rakaat?
JAWAB:
Cara tersebut hanya (berlaku) pada tasyahhud terakhir shalat imam jamaah dalam rangka meraih pahala berjamaah.
SOAL 568:
Apakah boleh imam jamaah mengambil upah atas sholat yang dilakukannya?
 
JAWAB:
Tidak boleh, kecuali upah tersebut untuk muqadimah kedatangan dia ke tempat tersebut.
SOAL 569:
Apakah imam jamaah boleh mengimami dua shalat Ied atau dua shalat apapun dalam satu waktu?
JAWAB:
Tidak ada masalah (la isykal) mengulangi shalat jamaah sekali lagi untuk makmum-makmum lain dalam shalat-shalat wajib harian, bahkan hal itu dianjurkan (mustahab), sedangkan dalam shalat Ied, hal itu bermasalah.
SOAL 570:
Ketika imam jamaah sedang berada pada rakaat ketiga atau keempat shalat isya, sedangkan makmum berada pada rakaat kedua, apakah makmum wajib membaca Al-fatihah dan surah dengan suara luar (jahr)?
JAWAB:
Ia wajib membaca Al-fatihah dan surah dengan suara dalam (ikhfat).
SOAL 571:
Jika setelah melaksanakan shalat jamaah (setelah mengucapkan salam) ayat shalawat atas Nabi (saw) dikumandangkan lalu disambut dengan tiga kali shalawat oleh jamaah dan disusul dengan takbir yang diakhiri dengan yel-yel ploitik (yaitu doa-doa dan pernyataan berlepas diri atauattabarri) yang diteriakkan oleh orang-orang mukmin dengan sura lantang, apakah hal demikian bermasalah secara syari?
JAWAB:
Membaca ayat shalawat dan membaca shalawat atas nabi dan keluarganya bukan saja tidak bermasalah, melainkan sangat dianjurkan dan diutamakan serta mengundang pahala. Di samping itu, meneriakkan secara rutin slogan-slogan Islam dan slogan revolusioner seperti takbir dan rangkaian-rangkaiannya yang mengingatkan akan misi dan tujuan-tujuan Revolusi Islam yang agung juga dianjurkan.
SOAL 572:
Apabila seseorang sampai ke masjid ketika jamaah shalat sudah berada pada rakaat kedua, dan karena tidak mengerti hukum tentang masalah yang dialami, ia tidak melakukan tasyahhud dan qunut yang harus dilakukan pada rakaat berikutnya, apakah shalatnya sah?
JAWAB:
Shalatnya sah, meskipun ia wajib mengqadha tasyahhud dan melakukan dua sujud sahwi.
SOAL 573:
Apakah kerelaan orang yang diikuti (dijadikan imam) merupakan syarat dalam shalat jamaah? Dan apakah sah menjadikan seorang makmum sebagai imam jamaah?
JAWAB:
Kerelaan imam jamaah bukanlah syarat keabsahan bermakmum (iqtida). Bermakmum dengan makmum saat shalat tidaklah sah.
SOAL 574:
Ada dua orang yang melaksanakan shalat jamaah, salah satu menjadi imam dan lainnya makmum, kemudian orang ketiga datang dan mengira orang kedua (makmum) sebagai imam lalu bermakmum dengannya. Usai shalat, terbukti bahwa orang kedua itu adalah makmum, bukanlah imam. Apa hukum shalat orang ketiga tersebut?
JAWAB:
Bermakmum (iqtida) degan makmum tidaklah sah. Tetapi apabila ia tidak tahu lalu bermakmum dengannya, maka jika ia melakukan tugas orang yang shalat sendiri (munfarid, tidak berjamaah) dalam ruku dan sujudnya, tanpa menambah atau mengurangi rukun secara sengaja atau lupa, maka sahlah shalatnya.
SOAL 575:
Apakah sah bagi orang-orang yang hendak shalat isya bermakmum dengan jamaah yang melakukan shalat maghrib?
JAWAB:
Tidak ada larangan.
SOAL 576:
Apakah batal shalat orang-orang yang tidak memperhatikan keharusan imam berada di tempat yang tidak lebih tinggi dari pada makmum?
JAWAB:
Jika tempat berdiri imam lebih tinggi melebihi batas yang ditolerir (mafu) dari tempat berdiri makmum, maka hal itu menyebabkan batalnya shalat jamaah.
SOAL 577:
Suatu ketika satu barisan (shaf) dalam jamaah shalat diisi seluruhnya oleh orang-orang yang melakukan shalat secaraqhasr(dua rakaat), sedangkan barisan di belakang terdiri dari jamaah yang melakukan shalat secaratamam(sempurna). Jika orang yang berada di barisan depan shalat dua rakaat dan mereka segera bangkit untuk bermakmum lagi pada dua rakaat berikutnya, apakah dua rakaat terakhir shalat orang yang berada di belakang mereka tetap terhitung sebagai shalat jamaah?
JAWAB:
Jika diasumsikan bahwa setiap orang yang berada di barisan depan melakukan shalat secaraqashr, maka, dalam kasus yang ditanyakan, keabsahan shalat jamaah mereka yang berada di barisan belakang bermasalah. Berdasarkanahwathbarisan-barisan yang di belakang wajib memisahkan diri dari jamaah setelah jamaah shaf pertama duduk untuk membaca salam.
SOAL 578:
Jika makmum berdiri di pinggir kanan dan kiri shaf pertama shalat, apakah ia dapat memulai shalat sebelum para makmum lain yang menjadi penghubung antara dia dan imam?
JAWAB:
Apabila makmum-makmum yang menjadi penghubung antara dia dan imam telah bersiap-siap memulai shalat setelah imam jamaah terlebih dahulu memulainya, maka ia dapat memasuki shalat dengan niat berjamaah.
SOAL 579:
Seseorang yang bergabung dalam jamaah shalat pada rakaat ketiga dan, karena mengira bahwa imam sedang berada pada rakaat pertama, ia tidak membaca apapun (Al-fatihah dan surah). Apakah ia wajib mengulangi shalatnya?
JAWAB:
Jika sadar akan hal itu sebelum memulai ruku, maka ia wajib melaksanakanqiraah. Jika sadar setelah melakukan ruku, maka shalatnya sah dan tidak menanggung kewajiban apapun, meskipun berdasarkan ahawath dianjurkan melakukan dua sujud sahwi karena meninggalkanqiraah.
SOAL 580:
Demi menyelenggarakan shalat jamaah di instansi-instansi pemerintah dan sekolah-sekolah-sekolah, maka keberadaan seorang imam jamaah sangat dibutuhkan. Karena tidak ada ulama selain saya di daerah dimana saya tinggal, maka saya terpaksa menjadi imam jamaah tiga atau empat kali di beberapa tempat berbeda untuk satu shalat fardhu. Dan karena shalat kedua diperbolehkan oleh para marja, maka apakah pada selebihnya boleh meniatkan shalat qadha untuk kehati-hatian (ihtiyath)?
JAWAB:
Menjadi imam dengan (melaksanakan) shalat qadhaihtiyatihiyah(untuk kehati-hatian) tidaklah sah.
SOAL 581:
Salah satu universitas mendirikan shalat jamaah bagi para pegawainya di salah satu gedung universitas yang bersebelahan dengan salah satu mesjid kota yang juga menjadi tempat pelaksanaan shalat jamaah pada saat yang bersamaan. Apa hukumnya bergabung dalam shalat jamaah di universitas?
JAWAB:
Bergabung dalam shalat jamaah yang -dalam pandangan makmum- memenuhi syarat-syarat syari keabsahan bermakmum dan berjamaah tidak ada masalah, meskipun berdekatan dengan masjid yang juga menjadi tempat shalat jamaah pada waktu yang sama.
SOAL 582:
Apakah sah melakukan shalat dibelakang imam yang bekerja sebagai hakim, padahal ia bukanlah seorang mujtahid?
JAWAB:
Jika pekerjaannya dalam mengadili berdasarkan pengangkatan oleh orang yang layak mengangkat, maka tidak ada larangan bermakmum dengannya.
SOAL 583:
Apa hukum muqallid Imam Khomaini (qs) dalam masalah musafir bermakmum kepada imam jamaah yang tidak bertaqlid kepada Imam dalam masalah tersebut, terutama ketika bermakmum dalam shalat Jumat?
JAWAB:
Perbedaan dalam bertaqlid tidak menjadi kendala bagi keabsahan bermakmum. Namun, tidak sah bermakmum dalam shalat yang menurut fatwa marja taqlid makmum dianggapqashrsementara menurut fatwa marja taqlid imam jamaah dianggaptamam.
SOAL 584:
Jika imam jamaah melakukan ruku setelah takbirotul ihram karena lupa, apakah tugas makmum?
JAWAB:
Jika makmum sadar akan hal itu setelah bergabung dalam shalat jamaah, maka ia wajib infirad (memisahkan diri) dan membaca Al-fatihah dan surah.
SOAL 585:
Jika sejumlah siswa sekolah yang belum baligh berdiri di shaf setelah shaf ketiga atau keempat untuk melakukan shalat jamaah, sedangkan pada shaf berikutnya diisi oleh orang-orang mukallaf (akil baligh), maka apakah hukum shalat dalam keadaan demikian?
JAWAB:
Tidak ada masalah dalam kasus yang disebutkan.
SOAL 586:
Apakah tayammum sebagi ganti dari mandi bagi imam jamaah karena berhalangan (madzur) cukup untuk melaksanakan shalat jamaah ataukah tidak?
JAWAB:
Jika ia berhalangan secara syari, maka ia dapat menjadi imam dengan bertayammum sebagai ganti mandi janabah, dan tidak ada masalah bermakmum dengannya.