ORANG YANG PEKERJAANNYA SAFAR (PERJALANAN) ATAU MEMERLUKAN SAFAR

 
SOAL 641:
Apakah orang yang pekerjaannya memerlukan perjalanan harus melakukan shalat secaratamam(sempurna) dalam perjalanannya, ataukah hal itu (kewajiban shalat sempurna) hanya berlaku atas orang yang memang pekerjaannya adalah perjalanan? Apa yang dimaksud dengan ucapan marja seperti Imam Khomeini (qs), orang yang pekerjaannya adalah perjalanan? Dan apakah ada di antara kita orang yang menjadikan perjalanan itu sendiri sebagai pekerjaan ? Sebab penggembalaan adalah kerja penggembala, pengendaraan adalah pekerjaan sopir, pelayaran adalah pekerjaan pelayar (pelaut) dan seterusnya. Pada dasarnya, tidak ada orang yang menetapkan untuk menjadikan perjalanan sebagai pekerjaan.
JAWAB:
Jika orang yang pekerjaannya memerlukan perjalanan mondar mandir selama 10 hari sedikitnya satu kali dari dan ke tempat kerjanya untuk keperluan kerja, maka ia harus melakukan shalat secara utuh (tamam) dan sahlah puasanya.
Yang dimaksud dengan orang yang pekerjaannya adalah perjalanan dalam perkataan para ahli fiqh (ra) ialah orang yang pekerjaannya tidak bisa berdiri sendiri tanpa perjalanan, seperti pekerjaan-pekerjaan yang telah anda sebutkan dalam soal di atas.
SOAL 642:
Apa pendapat YM tentang shalat dan puasa orang-orang yang menetap di sebuah kota untuk kerja dalam batas waktu tertentu lebih dari 1 tahun, atau para prajurit yang menetap di sebuah kota selama satu atau dua tahun untuk menunaikan wajib militer? Apakah mereka wajib berniat menetap 10 hari setelah setiap kali melakukan perjalanan agar dapat melakukan shalat secara utuh dan berpuasa, ataukah tidak? Bila mereka berniat untuk menetap kurang dari 10 hari, maka apakah hukum shalat dan puasa mereka?
JAWAB:
Dalam kasus yang ditanyakan di atas, mereka diperlakukan secara hukum sebagaimana musafir lainnya berkenaan dengan meng-qashrshalat dan ketidak-absahan puasa apabila mereka tidak berniat untuk menetap selama 10 hari.
SOAL 643:
Apa hukum shalat dan puasa para pilot pesawat tempur yang hampir setiap hari melakukan penerbangan dari pangkalan-pangkalan udara dan menempuh jarak jauh lebih panjang dari (masafah) syariy, lalu kembali lagi?
JAWAB:
Mereka dalam kasus demikian diperlakukan sebagaimana para pengendara mobil, pelaut dan pilot berkenaan dengan (kewajiban) melakukan shalat secara utuh (tamam)dan keabsahan puasa dalam perjalanan.
SOAL 644:
Para kabilah (suku) yang berpindah-pindah selama 1 atau 2 bulan dari tempat tinggalnya, namun mereka menetap pada sisa tahun pada musim panas atau musim dingin. Apakah kedua tempat musim panas dan musim dingin digolongkan sebagaiwathan(tempat tinggal) mereka? Dan apa hukum perjalanan-perjalanan yang mereka lakukan selama menetap di kedua tempat tersebut berkenaan dengan hukumqashrdantamam-nya shalat?
JAWAB:
Jika mereka menetapkan untuk terus berpindah-pindah dari tempat musim panas ke tempat musim dingin, dan sebaliknya, untuk menghabiskan hari-hari mereka dalam setiap tahun di salah satu tempat itu sedangkan hari-hari lainnya di tempat yang lain, dan memilih kedua tempat tersebut untuk menjalani kehidupan secara permanen, maka kedua tempat tersebut dianggap sebagaiwathandan di kedua tempat tersebut berlaku hukumwathanatas mereka. Jika jarak antara kedua tempat tersebut mencapaimasafahsyariy, maka dalam perjalanan dari satuwathankewathanyang lain mereka diperlakukan secara hukum sebagaimana para musafir.
SOAL 645:
Saya adalah pegawai di sebuah instansi pemerintah di kota Simnan. Jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja saya kira-kira 35 Km. Setiap hari saya menempuh jarak ini untuk mencapai tempat kerja. Bagaimana saya wajib shalat ketika saya harus menyelesaikan pekerjaan khusus dan saya bermaksud untuk menetap di kota tempat saya bekerja selama beberapa malam? Apakah saya wajib melakukan sahalat secaratamam(utuh) ataukah tidak?
JAWAB:
Jika perjalanan yang Anda lakukan itu tidak dalam rangka kerja yang biasanya anda lakukan setiap hari, maka hukum perjalanan untuk keperluan kerja tidaklah berlaku atas perjalanan itu. Namun, bila perjalanan tersebut untuk keperluan kerja itu sendiri, dan di pertengahannya anda melakukan hal-hal tertentu seperti mengunjungi kerabat dan rekan, dan kadang kala Anda menginap satu atau beberapa malam di sana, maka hukum perjalanan demi pekerjaan tidaklah berobah dan anda shalat secaratamam(utuh) dan tetap berpuasa.
SOAL 646:
Jika saya melakukan pekerjaan pekerjaan pribadi di tempat dinas seusai waktu dinas kantor dimana saya melakukan perjalanan untuk keperluan tersebut, misalnya dari pukul 7 pagi sampai pukul 2 siang saya melakukan pekerjaan kantor, sedangkan dari pukul 2 saya melakukan pekerjaan pribadi. Apakah hukum shalat dan puasa saya?
JAWAB:
Melakukan pekerjaan pribadi dalam perjalanan dinas kantor setelah usai dinas tidak mengubah hukum perjalanan untuk tugas kantor.
SOAL 647:
Apa hukum shalat dan puasa para prajurit yang mengetahui bahwa mereka akan menetap di sebuah tempat lebih dari 10 hari, hanya saja keputusan tidak berada di tangan mereka? Kami mohon Anda YM menerangkan juga fatwa Imam Khomaini ?
JAWAB:
Dalam kasus yang ditanyakan di atas, karena mereka yakin akan menetap di satu tempat 10 hari atau lebih, mereka diwajibkan shalat secara utuh dan tetap berpuasa. Fatwa Imam Khomaini (qs) juga demikian.
SOAL 648:
Apa hukum shalat dan puasa para personel tentara dan pasukan pengawal revolusi yang menetap lebih dari 10 hari di kamp-kamp dan daerah-daerah perbatasan? Kami mohon juga penjelasan fatwa Imam Khomaini ?
JAWAB:
Bila mereka memutuskan untuk menetap 10 hari atau lebih di suatu tempat, atau bila mereka tahu akan hal itu, mereka wajib melakukan shalat secaratamamdi sana, dan berpuasa. Fatwa Imam Khomaini (qs) juga demikian.
SOAL 649:
Dalam buku pedoman fatwa (risalah amaliyah) Imam Khumainiy (qs), bab shalat musafir, kasus ke 1306, disebutkan syarat ketujuh sebagai berikut:
Sopir di selain perjalanan pertama wajib melakukan shalat secara utuh (tamam), sedangkan pada perjalanan pertama, wajib shalat secaraqashr, meskipun lama.
Apakah yang dimaksud dengan perjalanan pertama ialah awal perjalanan dariwathan(tempat tinggal) sampai kembali lagi, meskipun memakan waktu satu bulan atau lebih, kendati bila ia memindahkan barang-barang sepuluh kali atau lebih dari kota ke kota lainnya yang bukan merupakanwathanasal selama waktu tersebut?
JAWAB:
Perjalanannya yang pertama berakhir pada saat ia sampai ke tempat tujuan yang ia tuju sejak keluar dari tempat tinggal (wathan) atau tempat ia menetap untuk menaikkan penumpang, atau untuk mengangkut barang ke tujuan tersebut. Kepulangan ke tempat awal bukanlah bagian dari perjalanan pertama, kecuali jika perjalanannya ke tempat tujuan adalah untuk mengangkut para penumpang atau barang-barang dari situ ke tempat awal keberangkatan.
SOAL 650:
Jika mengendarai mobil bukanlah pekerjaan tetapnya, namun dalam jangka waktu pendek, itu menjadi tugasnya, seperti para tentara yang ditugaskan untuk mengendarai mobil-mobil di barak-barak atau kamp-kamp dan sebagainya, apakah mereka dihukumi sebagai musafir, ataukah mereka wajib shalat secaratamamdan tetap berpuasa?
JAWAB:
Jika mengendarai mobil dianggap sebagai pekerjaan mereka menurut pandangan masyarakat umum (urf) dalam waktu yang bersifat sementara itu, maka dalam melakukan pekerjaan tersebut mereka diperlakukan secara hukum sebagaimana para sopir mobil lainnya.
SOAL 651:
Jika mobil yang dikendarai oleh sopir mogok, lalu ia melakukan perjalanan ke sebuah kota untuk membeli suku cadang dalam rangka memperbaikinya, apakah ia (wajib) shalat secaratamam(utuh) ataukah secaraqashr(terpenggal) selama perjalanan tersebut, padahal ia tidak sedang mengendarai mobilnya?
JAWAB:
Jika pekerjaannya dalam perjalanan tersebut bukan mengendarai mobil, maka ia diperlakukan secara hukum sebagaimana musafir lainnya.
PERJALANAN PELAJAR
SOAL 652:
Apa hukum mahasiwa-mahasiswa yang melakukan perjalanan paling sedikit dua (2) hari dalam seminggu untuk kuliah atau pegawai-pegawai yang bepergian setiap minggu demi pekerjaan, padahal mereka, meski setiap minggu melakukan perjalanan, kadangkala menetap di tempat tinggal (wathan) asalnya selama 1 bulan karena kuliah atau kerja mereka libur, sehingga mereka tidak melakukan perjalanan selama masa itu? Apakah setelah usai libur 1bulan ini, karena akan memulai perjalanan lagi, shalat mereka dalam perjalanan pertama, sesuai kaidah dilakukan secaraqashr, sedangkan berikutnya dilakukan secaratamam?
JAWAB:
Mereka yang bepergian untuk kuliah wajib melakukan shalat secaraqashr, dan tidak sah berpuasa, baik perjalanan mereka mingguan maupun harian. Sedangkan orang yang bepergian untuk tujuan kerja, baik dinas atau wiraswasta, apabila melakukan perjalanan pulang dan pergi sedikitnya satu kali dalam setiap 10 hari antara tempat tinggal (wathan) atau tempat ia menetap dan tempat kerjanya, maka ia melakukan shalat secaratamamdalam perjalanan kedua untuk kepentingan kerja, dan sahlah puasanya. Jika ia menetap selama 10 hari di tempat tinggal (wathan)nya atau di tempat lain di antara dua perjalanan kerja, maka pada perjalanan pertamanya setelah itu (setelah menetap selama 10 hari) ia melakukan shalat secaraqashr, dan tidak berpuasa.
SOAL 653SOAL 654:
Jika pelajar agama berniat untuk menjadikan dakwah (tabligh) sebagai pekerjaannya, dalam kondisi demikian apakah ia boleh melakukan shalat secara utuh (tamam), dan juga boleh berpuasa ataukah tidak? Dan apa hukum shalat dan puasanya apabila ia melakukan perjalanan tidak untuk berdakwah, bimbingan (irsyad) atau amr makruf dan nahi munkar?
JAWAB:
Jika berdakwah dan memberikan bimbingan (irsyad) dan amr maruf dan nahi munkar merupakan pekerjaannya menurut pandangan masyarakat umum (urf), maka dalam perjalanan yang dilakukannya untuk hal-hal itu ia dihukumi sebagaimana orang lain yang bepergian untuk tujuan kerja. Jika suatu saat ia bepergian tidak untukirsyaddan tabligh, maka ia diperlakukan secara hukum sebagaimana musafir lainnya berkenaan dengan mengqashrshalat dan ketidak-absahan puasanya.
SOAL 655:
Apa hukum shalat dan puasa orang-orang yang bepergian selama waktu yang tidak tertentu seperti para penuntut ilmu agama yang berdatangan ke pusat-pusat studi Islam (hawzah-hawzah) untuk belajar, atau para pegawai negeri yang dikirim untuk dinas di sebuah kota dalam jangka waktu yang tidak ditentukan?
JAWAB:
Selama berada di tempat studi atau dinas, mereka diperlakukan secara hukum sebagaimana musafir-musafir lainnya berkenaan dengan kewajiban meng-qashrshalat dan ketidak-absahan puasa bila tidak berniat untuk menetap 10 hari atau lebih, kecuali jika keberadaan mereka di tempat studi atau dinas berlangsung lama sehingga tempat dimana mereka tinggal dianggap sebagaiwathan-nya menurut pandangan masyarakat umum (urf)
SOAL 656:
Jika seorang pelajar agama hidup di sebuah kota yang bukanwathan-nya, dan sebelum berniat menetap selama 10 hari, ia telah lebih dulu mengetahui atau memutuskan untuk pergi setiap minggu ke masjid yang terletak di pinggiran kota, apakah ia dapat berniat untuk menetap selama 10 hari (iqamah) ataukah tidak?
JAWAB:
Keinginan untuk keluar dari tempat menetap (iqamah), saat memutuskan untukiqamah, selama 1 jam atau lebih hingga sepertiga siang, atau sepertiga malam ke sebuah tempat yang tidak mencapai jarak (masafah) syariy tidaklah merusak keabsahan niatiqamah. Urusan menentukan apakah tempat yang akan dituju termasuk bagian dari tempatiqamahataukah tidak terserah pada pandangan masyarakat umum (urf).
KEINGINAN MENEMPUH MASAFAH DAN NIAT MENETAP 10 HARI
SOAL 657:
Saya bekerja di sebuah tempat yang jauhnya dari kotaterdekat tidak mencapai jarak (masafah)syariy. Karena kedua tempat tersebut bukanlahwathansaya, maka saya berniat untuk menetap (iqamah) di tempat kerja selama 10 hari, agar saya dapat melakukan shalat secaratamam(utuh) dan dapat berpuasa di sana. Ketika memutuskan untuk menetap selam 10 hari di tempat kerja, saya tidak berniat untuk keluar dari tempat tersebut ke kota terdekat selama 10 hari dan seterusnya.
Apa hukum syariy dalam situasi-situasi sebagai berikut:
1. Jika saya keluar menuju kota tersebut sebelum menyempurnakan 10 hari karena suatu peristiwa atau karena keperluan suatu pekerjaan, dan menetap di sana sekitar 2 jam lalu kembali ke tempat kerja?
2. Jika saya keluar setelah menyelesaikan 10 hari menuju kota tersebut dengan tujuan akan pergi ke kawasan tertentu, dan perjalanan saya ini tidak melampaui batasmasafahsyariy, dan saya menetap di tempat tersebut satu malam sebelum kembali ke tempat tinggal lagi?
3. Jika setelah menyempurnakan 10 hari, saya meninggalkan tempat kerja ke kota itu dengan tujuan mengunjungi sebuah kawasan tertentu. Namun, setelah sampai di situ, saya mengubah keputusan dengan berniat pergi ke kawasan lain yang jaraknya dari tempat kerja saya melampaui batasmasafahsyariy?
JAWAB:
1- 2- Apabila hukum (kewajiban shalat)tamamtelah berlaku di tempatiqamah, meski dengan melakukan shlalatrubaiyah(shalat yang terdiri dari empat rakaat) di tempat tersebut sedikitnya satu kali, maka keluar ke tempat yang jauhnya tidak mencapai batasmasafahsyariy tidak bermasalah, kendati menghabiskan waktu lebih dari 1 atau 2 jam dalam 1 (satu) atau beberapa hari di sana, baik setelah atau sebelum menetap selama 10 hari, melainkan ia (wajib) shalat secaratamamdan berpuasa hingga ia memulai perjalanan baru.
3. Setelah memutuskan untuk melakukan perjalanan ke suatu tempat yang jauhnya mencapaimasafahsyariy dari tempat di mana ia mengubah niat kemudian kembali ke tempatiqamah, setelah menempuhmasafahtersebut, maka hukumiqamahyang telah ia jalani sebelumnya tidak berlaku lagi atas dirinya. Dan setelah kembali ke tempatiqamah-nya, ia harus memperbarui niat untuk menetap (iqamah).
SOAL 658:
Bila musafir yang telah meninggalkanwathanmelewati sebuah jalan dimana ia mendengar suara adzan dariwathanasalnya, atau ia melihat dinding bangunan-bangunan di dalamnya, apakah hal itu merusak safarnya menempuhmasafah?
JAWAB:
Hal itu tidak merusak perjalanannya menempuhmasafahselama ia tidak melintasiwathan-nya dan, dengan demikian, perjalanannya tidak terputus. Namun, selama ia masih berada di sana, hukum safar tidak berlaku atas dirinya.
SOAL 659:
Tempat kerja yang saya tempati sekarang bukanlah tempat tinggal (wathan)asal saya. Jarak antar keduanya melebihi batas syariy. Sampai sekarang saya tidak menjadikan tempat saya bekerja sebagaiwathan, boleh jadi saya akan menetap di sana untuk beberapa tahun saja. Kadang kala saya keluar dari tempat itu untuk perjalanan dinas selama 2 atau 3 hari dalam sebulan. Ketika keluar dari kota tempat menetap dalam jarak yang melampaui batas syariy dan kembali, apakah saya wajib berniat untuk menetap 10 hari ataukah hal itu tidak perlu? Dan jika saya wajib berniat untuk menetap selama 10 hari, jarak berapakah yang boleh saya tempuh di pinggir-pinggir kota?
JAWAB:
Jika Anda telah bepergian dari kota tempat menetap menuju (tempat yang jauhnya mencapai)masafahsyariyah, maka ketika kembali kesana dari safar, Anda perlu memperbarui niat untuk menetap (iqamah) selama 10 hari lagi. Jika Anda telah berniat untuk menetap 10 hari secara benar, dan hukum (kewajiban shalat)tamamberlaku atas diri Anda, meski dengan cara melakukan shalatrubaiyahsedikitnya 1 kali, maka kepergian Anda dari tempatiqamahsetelah itu menuju suatu tempat yang jaraknya tidak mencapaimasafahsyariy tidaklah merusak hukum tentangiqamah.
Begitu pula niat untuk keluar menuju kebun-kebun dan ladang-ladang di (pinggiran) kota tempatiqamahtersebut pada rentang waktu 10 hari tidak merusak niat untuk menetap (iqamah).
SOAL 660:
Seseorang selama beberapa tahun berada di sebuah tempat yang berjarak 4 KM dari (wathan)-nya. Setiap minggu ia pulang ke rumahnya. Jika ia pergi ke suatu tempat yang berjarak 25 KM dariwathan-nya dan dari tempat belajarnya (selama beberapa tahun) 22 KM, apakah hukum shalatnya?
JAWAB:
Jika ia bermaksud untuk menempuh jarak dari tempat belajar ke tempat tujuan yang tidak mencapai batasmasafahsyariy, maka hukum safar tidaklah berlakua atas dirinya. Namun, bila ia berniat menuju ke tempat tujuan dariwathan-nya, maka hukum safar berlaku atasnya.
SOAL 661:
Seseorang bertujuan untuk pergi ke suatu tempat yang berjarak 3 farsakh, tapi sejak semula ia berencana untuk menyimpang ke jalur cabang (keluar dari jalur utama) sejauh satu farsakh untuk menyeselesaikan pekerjaan tertentu, kemudian kembali ke jalur utama guna melanjutkan perjalananya, apa hukum shalat dan puasa musafir ini?
JAWAB:
Hukum musafir tidaklah berlaku atas dirinya. Keluarnya ke jalur cabang dan kembalinya ke jalur utama tidak cukup digabung untuk menyempurnakan (hitungan)masafah.
SOAL 662:
Dengan memperhatikan fatwa Imam Khomaini (qs) tentang kewajiban mengqashrshalat dan membatalkan puasa (ifthar) dalam safar jika mencapai 8 farsakh, apabila keberangkatan kami tidak mencapai 4 farsakh, namun ketika pulang, karena tidak adanya mobil dan hambatan-hambatan di jalan, kami harus menempuh jalan lain yang berjarak lebih dari 6 farsakh, apakah dalam kondisi demikian, kami meng-qashrshalat dan membatalkan puasa (ifthar) ataukah tidak?
JAWAB:
Jika keberangkatan Anda kurang dari 4 farsakh, dan jalan pulang dengan sendirinya- tidak mencapaimasafahsyariy, maka Anda menyempurnakan shalat dan berpuasa.
SOAL 663:
Seseorang pergi dari tempat tinggalnya ke tempat lain yang berjarak kurang darimasafahsyariy, dan dalam seminggu ia pergi beberapa kali dari tempat tersebut ke tempat-tempat lain, sehingga total jarak yang ditempuhnya lebih dari 8 farsakh. Apa tugasnya?
JAWAB:
Jika saat keluar (meninggalkan) rumah tidak bertujuan menempuhmasafah, dan jarak pemisah antara tujuan pertama dan tempat-tempat tujuan lainnya tidak mencapaimasafahsyariyah, maka hukum safar tidaklah berlaku atasnya.
SOAL 664:
Jika seseorang meninggalkan negerinya menuju sebuah tempat dan selama di situ ia keliling ke sana-sini, apakah kelilingnya ditambahkan dalammasafahyang telah ia tempuh dari rumahnya?
JAWAB:
Kelilingnya di tempat tujuan tidak terhitung dalammasafah.
SOAL 665:
Apakah ketika berniat (untukiqamah) saya boleh meniatkan untuk keluar setiap hari dari tempatiqamahsaya ke tempat kerja yang berjarak kurang dari 4 farsakh.
JAWAB:
Berniat keluar dalam 10 hari -ketika niat untukiqamah- ke suatu tempat yang tidak mencapaimasafahhanya akan merusak keabsahan niatiqamahapabila urf (pandangan umum masyarakat) menganggap tindakan keluar (dari tempatiqamah) tersebut merusak artiiqamahselama 10 di suatu tempat seperti keluar dari tempatiqamahsehari penuh, lebih-lebih setiap hari. Namun, jika tidak, seperti keluar selama beberapa saat di siang hari hingga sepertiga siang, atau di malam hari hingga sepertiga malam sekali atau beberapa kali yang total masa seluruhnya tidak lebih dari sepertiga siang atau malam, maka berniat demikian tidak menggugurkan keabsahan niatiqamah.
SOAL 666:
Dengan memperhatikan bahwa mondar-mandir dari tempat tinggal ke tempat kerja yang jarak antara keduanya melebihi 24 Km menyebabkan (kewajiban) shalat secaratamam. Jika saya keluar dari kota tempat saya bekerja ke luar batasnya atau ke kota lain yang jaraknya tidak mencapaimasafah, lalu kembali ke tempat kerja sebelum atau setelah dhuhur, apakah shalat saya dilakukan dengantamamjuga?
JAWAB:
Hukum shalat dan puasa Anda tidak berubah di tempat kerja hanya karena Anda keluar ke tempat yang jaraknya tidak mencapaimasafah, meskipun kepergian itu tidak bersangkutan dengan pekerjaan sehari-hari, dan tidak ada beda antara Anda kembali sebelum atau sesudah dhuhur.
SOAL 667:
Saya penduduk kota Isfahan. Sejak beberapa waktu saya bekerja di sebuah Universitas yang terletak di kota Syahin Syahr yang merupakan daerah pinggiran Isfahan. Jarak antarahad at-tarakkhushkota Isfahandan pintu gerbang Syahin Syahr tidak mencapaimasafahperjalanan (kira-kira 20 Km). Namun, jarak antara Isfahan dan Universitas yang terletak dipinggiran kota melebihimasafahperjalanan, kira-kira 25 Km. Mengingat Universitas tersebut terletak di Syahin Syahr, dan jalan saya melewati tengah kota, hanya saja tujuan utama saya adalah Universitas, apakah saya termasuk musafir ataukah tidak?
JAWAB:
Jika jarak antara kedua kota tersebut tidak mencapai 4 farsakh syariy, maka hukum safar tidaklah berlaku.
SOAL 668:
Saya bepergian setiap minggu ke kota Qomuntuk berziarah ke makam As-sayidah Al mashumah (as) dan melakukan amalan-amalan di masjid Jamkaran. Apakah saya shalat secaratamamataukahqashrdalam perjalanan tersebut?
JAWAB:
Anda dalam perjalanan demikian diperlakukan secara hukum sebagaimana seluruh musafir berkenaan dengan kewajiban meng-qashrshalat.
SOAL 669:
Kota kelahiran saya adalah Kasymar. Sejak tahun 1345 H Syamsiah hingga 1369 saya tinggal di Teheran. Dan sejak 3 tahun lalu saya bersama keluarga datang ke pelabuhan Bandar Abbas dalam rangka dinas. Setelah beberapa waktu, kurang dari setahun, saya akan kembali kewathan(tempat tinggal), Teheran. Mengingat saya selama waktu berada di pelabuhan Bandar Abbas mungkin sewaktu-waktu pergi untuk dinas ke kota-kota yang berada di wilayah Bandar Abbas dan menetap beberapa waktu di sana, dan saya tidak bisa meramalkan sampai kapan tugas kedinasan ini dibebankan pada saya. Karena itulah saya mohon Anda menerangkan:
1. Apa hukum shalat dan puasa saya?
2. Karena saya sering atau beberapa bulan dalam setahun berada dalam tugas selama beberapa hari, apakah saya tergolong (orang) yang banyak bepergian?
3. Mohon penjelasan hukum syariy berkenaan dengan shalat dan puasa isteri saya, mengingat ia adalah ibu rumah tangga dan lahir di Teheran yang kini datang ke pelabuhan Bandar Abbas dan menetap bersama saya?
JAWAB:
Hukum shalat dan puasa Anda di tempat dinas sekarang yang bukan merupakanwathanAnda ialah hukum shalat dan puasa musafir berkenaan denganqashrshalat dan ketidakabsahan puasa. Kecuali jika Anda berniat menetap selama 10 hari di sana, atau jika Anda melakukan perjalanan berulang kali dari tempat dinas ke tempat yang mencapai batasmasafahsyariy paling sedikit sekali dalam 10 hari untuk tujuan kerja yang bertautan dengan tugas Anda.
Sedangkan isrti yang menyertai Anda ke tempat kerja, jika ia berniat menetap 10 hari di sana, maka ia (wajib) shalattamamdan tetap berpuasa. Jika tidak, maka ia wajib mengqashrshalat, dan puasanya tidak sah di sana.
SOAL 670:
Ada seseorang yang berniat menetap selama 10 hari dikarenakan ia mengetahui bahwa ia memang akan tinggal selama itu atau berkeputusan untuk itu. Kemudian ternyata ia akan melakukan safar setelah sebelumnya hukum (shalat)tamamberlaku atas dirinya dengan melakukan shalatrubaiyah, padahal perjalanannya tidaklah penting. Apakah ia boleh melakukan hal demikian?
JAWAB:
Tidak ada larangan bepergian meskipun tidak penting.
SOAL 671:
Jika seseorang bepergian untuk berziarah ke makam imam Ridha (as) dan mengetahui bahwa ia akan menetap kurang dari 10 hari, namun ia berniat menetap selama 10 hari di sana agar shalatnya menjaditamam, apakah hukumnya?
JAWAB:
Jika ia tahu bahwa dirinya tidak akan menetap di sana selama 10 hari, maka niatnya untuk menetap 10 hari tidaklah berarti dan berpengaruh sedikitpun, sebaliknya ia (wajib) shalat secaraqashr.
SOAL 672:
Para pegawai yang bukan dari warga kota (pendatang) dan tidak menetap di kota selama 10 hari kapanpun. Hanya saja, perjalanan mereka kurang darimasafahsyariy. Apa tugas mereka berkenaan dengan hukum shalatqashrdantamam?
JAWAB:
Jika jarak antarawathandan tempat tugas mereka tidak mencapaimasafahsyariy, meski dengan cara penggabungan (talfiq), maka hukum musafir tidak berlaku atas mereka. Jika orang yang jarak antarawathandan tempat kerja mencapaimasafahsyariy dan ia mondar-mandir antara kedua tempat tersebut selama 10 hari, meskipun hanya sekali paling sedikit, maka ia wajib melakukan shalat secara utuh (tamam). Jika tidak, maka dalam perjalanan pertama setelah menetap 10 hari ia diperlakukan secara hukum sebagaimana para musafir lainnya.
SOAL 673:
Bagaimana kewajiban shalat orang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat dan tidak tahu sampai kapan ia akan menetap di tempat itu 10 hari atau lebih sedikit?
JAWAB:
Ia wajib shalat secaraqashrsampai berlalu 30 hari, dan setelah itu ia harus sholattamam, walaupun hari itu juga akan pergi.
SOAL 674:
Apa hukum shalat dan puasa orang yang sedang berdakwah di dua tempat sementara ia berniat menetap di daerah itu selama 10 hari?
JAWAB:
Jika kedua tempat itu, menurut pandangan umum masyarakat, memanglah dua tempat, maka niatnya untuk menetap di kedua tempat tersebut sekaligus atau di salah satu dari keduanya, dengan bermaksud untuk mondar-mandir ke tempat yang lain selama 10 hari, tidaklah sah.
BATAS TARAKHKHUSH
SOAL 675:
Di Jerman dan sebagian negara Eropa, jarak pemisah antara kota-kota (yakni, jarak antara papan tanda keluar kota dan papan tanda masuk kota berikutnya) terkadang tidak mencapai 100 meter, sedangkan rumah-rumah dan jalan-jalan kedua kota benar-benar bersambung. Apa had tarakhkhush dalam kondisi demikian?
JAWAB:
Jika kedua kota tersebut bersambung satu dengan yang lain sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan di atas, maka dua kota semacam itu dihukumi sebagai dua kawasan dari satu kota, dimana keluar dari salah satunya menuju ke kota yang lain tidak dianggap sebagai safar hingga terdapat batas tarakhkhush.
SOAL 676:
Tolok ukur batas tarakhkhush ialah mendengar suara adzan dan melihat dinding-dinding kota. Apakah kedua hal tersebut diwajibkan atau cukup salah satunya?
JAWAB:
Berdasarkanahwath, (mustahab) memperhatikan kedua tanda tersebut, meskipun tidak jauh (la yabud) bahwa tidak terdengarnya adzan cukup dalam penentuan batas tarakhkhush.
SOAL 677:
Apakah tolok ukur dalam batas tarakhkhus adalah terdengarnya suara adzan dari rumah-rumah kawasan yang pertama kali dimasuki oleh musafir atau dari tengah-tengah kota?
JAWAB:
Tolok ukur batas tarakhkhush ialah terdengarnya adzan dari bagian akhir (ujung) kota dari arah keluar atau masuknya musafir.
SOAL 678:
Ada perbedaan pandangan antara warga sebuah daerah berkenaan dengan masalahmasafahsyariy. Sebagian berpendapat, tolok ukurnya adalah dinding rumah terakhir yang bersambungan satu dengan yang lain. Sebagian mengatakan, wajib menghitungmasafahdari pabrik-pabrik dan desa-desa yang bertebaran setelah rumah-rumah penduduk. Pertanyaannya, apakah batas akhir (ujung) kota itu?
JAWAB:
Penentuan batas akhir kota bergantung pada pendapat umum (urf). Jika menurut pandangan umum pabrik-pabrik dan desa-desa yang bertebaran di sekeliling kota tidak dianggap dari bagian kota tersebut, makamasafah syar'iyharus dihitung dari akhir kota.