PERJALANAN DOSA (MAKSIAT)

 
SOAL 679:
Jika seseorang tahu bahwa ia dalam perjalanan akan terjerumus dalam maksiat dan hal-hal yang haram, apakah harus mengqashratau melakukan shalat secaratamam?
JAWAB:
Jika tujuan perjalanannnya bukanlah untuk meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang haram, maka ia dihukumi sebagaimana musafir lainnya berkenaan dengan (kewajiban) mengqashrshalat.
SOAL 680:
Jika seseorang bepergian tidak untuk melakukan maksiat, namun di tengah jalan ia bertujuan melanjutkan perjalanan untuk melakukan maksiat, apakah ia wajib shalat secaraqashratautamam? Dan apakah sah shalat-shalatqashryang telah dilakukannya dalam perjalanan, ataukah tidak?
JAWAB:
Ia wajib melakukan shalat secaratamamsejak saat ia bertujuan melanjutkan perjalanan untuk maksiat. Sedangkan shalat-shalatqashryang telah dilakukannya setelah melanjutkan perjalanan demi maksiat wajib diulangnya secaratamam.
SOAL 681:
Apa hukum perjalanan untuk rekreasi, atau untuk membeli keperluan-keperluan hidup, padahal tempat untuk shalat dan pendahuluannya tidak tidak tersedia dalam perjalanannya?
JAWAB:
Jika ia tahu bahwa dalam perjalanan ia akan mengalami situasi yang membuatnya meninggalkan sebagian kewajiban dalam shalat, maka wajib, berdasarkanahwathmengurungkan perjalanan demikian, kecuali jika tidak dilakukan, akan menimbulkan kerugian (bahaya) atau kesulitan. Ala kulli hal dalam semua keadaan sholat tidak boleh ditinggalkan.
WATHAN (TEMPAT TINGGAL)
SOAL 682:
Saya kelahiran kota Teheran. Kedua orang tua saya berasal dari kota Mehdi Syahr. Karena itulah, keduanya melakukan perjalanan berulang kali dalam setahun ke Mehdi Syahr. Karena mengikuti mereka, sayapun bepergian bersama mereka. Apa hukum shalat dan puasa saya, padahal saya tidak berencana untuk kembali dan menetap di kota kelahiran orang tua saya tersebut, namun bertekat untuk tinggal di Teheran.
JAWAB:
Dalam kasus yang anda sebutkan, maka hukum shalat dan puasa anda diwathanasal kedua orang tua anda adalah hukum shalat dan puasa musafir.
SOAL 683:
Dalam 1 tahun saya tinggal selama 6 bulan di sebuah kota dan 6 bulan berikutnya di kota lain yang merupakan tempat kelahiran saya dan tempat tinggal keluarga dan saya juga. Namun, keberadaan saya di kotapertama tidaklah bersinambungan, namun terputus-putus. Misalnya, tinggal 2 minggu atau 10 hari atau kurang di sana, kemudian kembali ke kampung halaman dan tempat tinggal keluarga saya. Yang saya tanyakan ialah, ketika berniat menetap tidak sampai 10 hari di kota pertama, apakah saya dihukumi sebagai musafir ataukah tidak?
JAWAB:
Jika kota itu bukanwathanAnda, dan Anda tidak bermaksud menjadikannyawathan(tempat tinggal) juga, maka Anda selama waktu menetap kurang dari 10 hari di sana dihukumi sebagai musafir.
SOAL 684:
Sejak kira-kira 12 tahun saya menetap di sebuah kota tanpa bermaksud untuk bertempat tinggal secara permanen di sana.Apakah kota ini menjadiwathan(tempat tinggal) saya? Dan berapakah batas waktu yang lazim yang diperlukan sehingga kota ini menjadiwathanbagi saya? Dan bagaimana memastikan bahwa urf (pandangan umum masyarakat) menganggap kota itu sebagaiwathansaya?
JAWAB:
Suatu tempat tidak menjadiwathanyang baru kecuali jika ditinggali dalam jangka waktu tertentu dengan didasari niat untuk menetap secara permanen di tempat tersebut, atau jika ditinggali, meski tidak dengan niat menetap secara permanen, dalam jangka waktu lama sedemikian rupa sehingga warga setempat menganggapnya sebagai warga tempat tersebut.
SOAL 685:
Seseorang bertempat tinggal (wathan)di Teheran. Kini ia akan memilih menetap di salah satu kota di dekat Teheran dan menjadikannya sebagaiwathan-nya. Karena tempat usaha dan kerja hariannya di Teheran, maka ia tidak dapat menetap di kota tersebut selama 10 hari, apalagi 6 bulan sehingga menjadiwathannya, sebaliknya ia pergi setiap hari ke tempat kerja dan pulang ke kotanya pada malam hari. Apa hukum shalat dan puasanya di kota tersebut?
JAWAB:
Setelah niat untuk bertempat tinggal dan menetap di suatu tempat, terwujudnyawathanbaru tidaklah disyaratkan dengan menetap selama 6 bulan di sana secara berturut-turut. Namun, ia cukup, setelah menempatkan keluarganya di sana, kembali setelah menyelesaikan pekerjaan sehari-hari ke keluarga dan menginap di sana sampai ia dianggap olehurf(pandangan umum masyarakat) sebagai penduduk tempat itu.
SOAL 686:
Tempat kelahiran saya dan isteri saya adalah kota Kasymar. Namun, setelah diperbantukan untuk kerja di sebuah instansi pemerintah, saya pindah ke kota Neisyabur. Namun, para orangtua kami masih menetap di kota kelahiran kami. Pada awal perpindahan ke Neisyabur, kami berpaling dari (melepaskan kewargaan)wathanasal kami, Kasymar. Tapi, setelah 15 tahun berjalan, kami berpaling dari hal itu. Karenanya, kami mohon Anda YM berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa tugas kami, saya dan isteri, berkenaan dengan shalat saat pergi ke rumah orangtua kami dan menetap di sana beberapa hari?
2. Apa tugas anak-anak kami yang lahir di tempat tinggal kami yang sekarang, Neisyabur dan yang kini sudah mencapai usia taklif (baligh) ketika mereka pergi bersama kami ke kota Kasymar dan menetap di sana beberapa hari?
JAWAB:
Setelah berpaling dariwathan(tempat tinggal) asal, Kasymar, hukumwathantidak berlaku atas Anda berdua, kecuali bila Anda berdua kembali untuk hidup di sana lagi, dan dengan tujuan tersebut, Anda berdua menetap di sana selama beberapa waktu. Tempat tersebut juga tidak ditetapkan secara hukum sebagaiwathanbagi anak-anak Anda. Karena itulah, kalian semua di kota ini dihukumi sebagai musafir.
SOAL 687:
Ada seseorang yang mempunyai duawathan(sehingga ia tentu shalat secara utuh dan berpuasa di kedua tempat tersebut). Kami mohon penjelasan; apakah isteri dan anak-anaknya yang diasuh dan dipelihara wajib mengikuti wali mereka berkaitan dengan masalah ini, ataukah mereka berhak menggunakan pendapat sendiri secara bebas?
JAWAB:
Isteri boleh untuk tidak menjadikanwathanbaru suaminya sebagaiwathan-nya. Namun anak-anak yang masih kecil dan belum mandiri dalam berkehendak dan hidup, atau yang mengikuti kehendak ayah dalam masalah ini, makawathanbaru ayah merupakanwathanmereka juga.
SOAL 688:
Jika rumah sakit bersalin terletak di luarwathanayah, sehingga ibunya harus berpindah ke rumah sakit selama beberapa hari untuk melahirkan, lalu, setelah bayinya lahir, kembali (ke rumahnya), manakahwathanbayi tersebut?
JAWAB:
Jika rumah sakit terletak diwathan(tempat tinggal) kedua orangtuanya yang memang hidup di situ, makawathanasli bayi tersebut adalahwathankedua orangtuanya. Jika tidak, maka sekedar kelahiran di suatu kota tidaklah cukup untuk menjadikan kota tersebut sebagaiwathan. Melainkanwathannya adalahwathankedua orangtuanya dimana ia pindah setelah terlahir dan hidup bersama mereka berdua di sana.
SOAL 689:
Ada seseorang yang menetap di kota Ahwaz sejak beberapa tahun. Namun ia tidak menjadikannya sebagaiwathannya yang kedua. Bila ia keluar dari kota itu menuju suatu tempat yang mencapai atau tidak mencapaimasafahsyariy, kemudian kembali lagi, apakah hukum shalat dan puasanya di sana?
JAWAB:
Setelah niat menetap (iqamah) di Ahwaz dan hukum (shalat secara)tamamdengan melaksanakan shalatrubaiyahpaling sedikit 1 kali berlaku atas dirinya, selama tidak meninggalkannya sampaimasafahsyariy, ia shalat sempurna dan berpuasa di sana. Jika ia keluar sampai ukuranmasafahatau lebih, maka ia diperlakukan secara hukum sebagaimana musafir lainnya.
SOAL 690:
Saya adalah warga Irak yang ingin berpaling darinya. Apakah saya (boleh) menjadikan Iran seluruhnya sebagaiwathan, ataukah hanya tempat yang saya tempati, ataukah saya harus membeli sebuah rumah sehingga berhak menjadikannya sebagaiwathansaya?
JAWAB:
Orang yang akan menjadikan sebuah tempat sebagaiwathannya yang baru disyaratkan berniat untuk bertempat tinggal (tawaththun) di sebuah kota tertentu dan menetap di sana selama beberapa waktu sehingga ia secaraurfdianggap sebagai salah seorang penduduknya. Namun tidak disyaratkan memiliki rumah atau lainnya.
SOAL 691:
Seseorang yang berhijrah dari tempat kelahiran ke kota lain sebelum menjadi baligh yang saat itu tidak mengetahui hukum tentang masalah berpaling dariwathan, dan kini telah mencapai usia taklif (baligh). Apa tugasnya berkenaan dengan shalat dan puasanya di sana?
JAWAB:
Jika ia berhijrah dari tempat kelahiran karena mengikuti ayahnya, sedangkan ayahnya tidak berencana untuk kembali hidup di sana, maka hukumwathantidak berlaku atasnya di tempat tersebut.
SOAL 692:
Jika seseorang mempunyai sebuahwathanyang kini tidak ditempatinya, namun kadangkala ia bersama isterinya mengunjunginya, apakah isterinya (wajib) shalat secaratamamdi sana sebagaimana dirinya, ataukah tidak? Dan jika ia pergi sendirian kesana, apakah hukum shalatnya?
JAWAB:
Hanya dikarenakan tempat tersebut adalahwathansuami, maka tidak cukup untuk menjadiwathanbagi isterinya sehingga hukumwathanberlaku atasnya.
SOAL 693:
Apakah tempat bekerja dihukumi sebagaiwathan?
JAWAB:
Bekerja di sebuah tempat tidak cukup untuk menjadikan tempat tersebut sebagaiwathan-nya. Namun, bila ia mondar mandir antara tempat tinggal dan tempat kerjanya yang jaraknya mencapai batasmasafahdalam 10 hari satu kali paling sedikit, maka hukumwathanberkenaan shalattamamdan keabsahan berpuasa berlaku atas dirinya di tempat kerja tersebut.
SOAL 694:
Apa yang dimaksud dengan seseorang yang berpaling dariwathannya? Apakah wanita yang kawin dan kepergiannya bersama suami ke mana saja dianggap sebagai (tindakan) berpaling ataukah tidak?
JAWAB:
Yang dimaksud ialah tindakan meninggalkanwathandengan keputusan tidak akan kembali untuk menetap lagi di sana. Hanya pergi ke rumah suami di kota lain tidaklah meniscayakan berpaling dariwathanasalnya.
SOAL 695:
Kami mohon penjelasan pandangan Anda YM seputar masalahwathanasli danwathankedua?
JAWAB:
Wathanasli adalah tempat kelahiran seseorang dimana ia menetap dan tumbuh selama beberapa waktu.
Wathankedua adalah tempat yang dipilih seorang mukallaf untuk ditempati secara permanen, meski hanya beberapa bulan dalam setiap tahun.
SOAL 696:
Kedua orangtua saya adalah warga kota Saweh. Keduanya sejak usia anak-anak telah datang ke Teheran dan bermukim disana. Setelah kawin, mereka berdua datang ke kota Calus lalu menetap di sana sebab itu tempat kerja ayah saya. Lalu, kini bagaimana saya (harus) shalat di Teheran dan Saweh, padahal saya lahir di Teheran, meski tidak bermukim di sana sama sekali ?
JAWAB:
Jika Anda tidak dibesarkan dan tidak tumbuh di Teheran setelah lahir, maka Teheran tidak termasukwathanasli Anda. Karenanya, jika Anda tidak menjadikan Teheran maupun Saweh sebagaiwathansetelah itu, maka hukumwathantidak berlaku di kedua tempat tersebut atas diri Anda.
SOAL 697:
Apa pendapat Anda YM tentang seseorang yang tidak berpaling dariwathan-nya dan kini bermukim di kota lain sejak 6 tahun? Ketika pulang kewathan-nya, apakah ia melakukan shalat secaratamamatauqashr, mengingat ia termasuk orang yang tetap bertaqlid kepada almarhum Imam Khomaini (qs)?
JAWAB:
Selama ia tidak berpaling dariwathannya yang dulu, maka hukumwathantetap berlaku atas dirinya. Ia shalat secaratamamdan sah berpuasa di sana.
SOAL 698:
Seorang mahasiswa menyewa sebuah rumah di kota Tabriz karena kuliah di universitas kota tersebut selama 4 tahun. Selain itu, ia berniat untuk menetap disana secara permanen jika memang memungkinkan. Kini di bulan Ramadhan, ia kadangkala mondar mandir kewathanasal-nya, apakah kedua kota tersebut dapat dianggap sebagaiwathannya ataukah tidak?
JAWAB:
Jika kini ia tidak bertekad bulat untuk menjadikan kota tempat kuliah sebagaiwathan, maka hukumwathantidak berlaku atas dirinya di tempat tersebut. Diwathanasli nya, hukumwathantetap beralaku atas dirinya selama ia tidak berpaling darinya.
SOAL 699:
Saya lahir di kota Kermansyah. Sejak 6 tahun lalu saya menetap di kota Teheran, namun saya tidak berpaling dariwathanasli saya. Saya juga telah berniat untuk bertempat tinggal secara permanen (tawaththun) di Teheran. Jika kami berpindah setiap 1 atau 2 tahun dari sebuah daerah ke daerah lain dalam kota Teheran, bagaimana hukum shalat dan puasa saya di sana? Karena kami tinggal di daerah baru dalam kota Teheran lebih dari 6 bulan, apakah hukumwathanberlaku atas kami ataukah tidak? Dan bagaimana shalat dan puasa kami ketika kami pergi dan pulang sepanjang siang ke berbagai penjuru Teheran?
JAWAB:
Jika Anda telah berniat untuk bertempat tinggal (tawaththun) di Teheran yang sekarang atau di sebuah kawasannya, maka seluruh kota Teheran menjadiwathananda, dan hukumwathanberkenaan dengan shalat secatatamamdan keabsahan berpuasa berlaku atas anda di seluruh penjuru Teheran yang sekarang. Sedangkan mondar mandir anda dalam kota Teheran yang sekarang tidak dikenai hukum safar.
SOAL 700:
Ada seorang warga desa yang kini bekerja dan menetap di Teheran. Kedua orang tuanya hidup di desa dan memiliki tanah dan property disana. Ia pergi ke sana untuk mengunjungi atau membantu mereka. Namun, ia sama sekali tidak bermaksud untuk menetap di sana, padahal disanalah ia dilahirkan. Bagaimana shalat dan puasanya selama berada di desa tersebut?
JAWAB:
Jika ia tidak berniat untuk kembali dengan tujuan menetap dan menjalani kehidupan di desa tersebut, maka hukumwathantidak berlaku atas dirinya di sana.
SOAL 701:
Apakah tempat kelahiran dianggap sebagaiwathan, meski tidak ditempati?
JAWAB:
Jika ia menetap di tempat tersebut selama beberapa masa dan tumbuh di sana, dan selama ia tidak berpaling darinya, maka hukumwathanberlaku atas dirinya. Jika tidak, maka hukumwathantidak berlaku atasnya.
SOAL 702:
Apa hukum shalat dan puasa orang yang bermukim di satu daerah yang bukanwathannya selama (9) tahun, dan kini ia dilarang kembali kewathannya, meski ia bertekad bahwa suatu saat akan kembali ke sana?
JAWAB:
Berkenaan dengan shalat dan puasa di tempat yang dihuninya sekarang, ia dihukumi sebagai musafir.
SOAL 703:
Saya telah melewatkan usia selama 6 tahun di sebuah desa dan 8 tahun di sebuah kota. Kini saya datang ke kota Masyhad untuk studi. Apa hukum shalat dan puasa saya di masing-masing tempat tersebut?
JAWAB:
Hukumwathanberlaku atas anda berkenaan dengan shalat dan puasa di desa tempat kelahiran selama anda tidak berpaling darinya. Selama di Masyhad, apabila Anda tidak bermaksud menjadikannyawathan, maka hukum musafir berlaku atas anda. Adapun kota yang anda tempati selama beberapa tahun, jika anda telah menjadikannya sebagaiwathandan selama tidak berpaling darinya, maka hukumwathanberlaku atas anda di sana. Jika tidak, maka anda disana dihukumi sebagai musafir.
IKUT SUAMI
SOAL 704:
Apakah isteri mengikuti suami berkenaan denganwathandaniqamah (bermukim)?
JAWAB:
Seorang istri tidak secara paksa mengikuti suami hanya disebabkan oleh hubungan perkawinan. Isteri boleh tidak mengikuti suami dalam memilihwathanmaupun dalam niat menetap (iqamah). Jika isteri tidak mempunyai kemandirian dalam kehendak dan hidup, namun tunduk pada kehendak suami dalam menentukanwathanatau berpaling darinya, maka tujuan (niat) suami cukup baginya dalam hal itu, sehingga setiap kota yang ditempati suami untuk menjalani kehidupan secara permanen dan menjadikannya sebagaiwathanjuga menjadiwathannya (isteri), begitu pula setiap kali suami berpaling dariwathanmereka berdua dan berpindah ke tempat lain, maka ia juga berpaling darinya. Perihal menetap selama 10 hari dalam safar, cukup baginya (isteri) mengetahui rencana suami untuk menetap (selama 10 hari), jika ia memang tunduk pada kehendak suaminya. Begitu juga jika ia dalam keadaan terpaksa menemani suami selama menetap di sana.
SOAL 705:
Seorang pemuda menikahi seorang wanita dari kota lain. Ketika (istri) pergi ke rumah orangtuanya, apakah ia melakukan shalat secaraqashratautamam?
JAWAB:
Selama ia tidak berpaling dariwathan-nya yang asli, maka ia melakukan shalatnya di situ secaratamam.
SOAL 706:
Apakah isteri atau anak-anaknya tercakup dalam masalah ke 1284 dalamrisalah amaliyahImam Khomaini (qs), bahwa safar mereka dapat terjadi tanpa mereka bertujuan melakukan safar juga? Apakahwathanayah juga menyebabkan setiap yang mengikutinya melakukan shalat secaratamam?
JAWAB:
Jika mereka mengikuti ayah dalam safar, meski terpaksa, maka pengetahuan akan tujuan ayah untuk menempuhmasafahcukup bagi mereka. Untuk menjadikan sebuah tempat sebagaiwathanatau untuk berpaling dari sebuahwathan, apabila mereka tidak mandiri dalam berekehendak dan hidup, sebaliknya mereka tunduk pada kehendaknya -sesuai apa yang terbayang dalam benak mereka -, maka mereka mengikuti ayah berkenaan dengan tindakan berapaling dariwathan, atau dalam menentukanwathanbaru yang dipilih setelah ia berpindah untuk menjalani kehidupan secara permanen di situ sebagaiwathanmereka.
HUKUM KOTA-KOTA BESAR
SOAL 707:
Bagaimana pendapat Anda YM tentang syarat-syarat dalam rencana seseorang untuk bertempat tinggal secara permanen (tawaththun) atau bermukim (iqamah) selama 10 hari di kota-kota besar?
JAWAB:
Tidak ada perbedaan dalam hukum musafir, niat bertempat tinggal secara permanen (tawaththun) dan dalam niat bermukim 10 hari antara kota-kota besar atau kota-kota biasa lainnya. Bahkan jika berniat untuk bertempat tinggal secara permanen (tawaththun) di sebuah kota besar, tanpa menentukan kawasan tertentu dan menetap selama beberapa waktu dalam kotatersebut, maka hukumwathanberlaku atas dirinya.
Begitu juga jika seseorang berniat untuk bermukim selama 10 hari di kota (besar) semacam ini, meski tanpa menentukan kawasan tertentu dalam kota tersebut, maka hukum berkenaan dengan (kewajiban) melakukan shalat secaratamamdan keabsahan puasa berlaku atas dirinya.
SOAL 708:
Jika seseorang tidak mengetahui fatwa Imam Khomaini (qs) yang menggolongkan Teheran dalam kota-kota besar, dan setelah Revolusi Islam, ia baru mengetahui fatwa Imam itu, apakah hukum shalat dan puasanya yang dilakukan dengan cara biasa?
JAWAB:
Jika ia sekarang tetap bertaglid kepada almarhum Imam (qs) dalam masalah ini, maka ia wajib mengulangi amal-amal ibadah yang dulu dilakukannya tidak sesuai dengan fatwa beliau, dengan cara mengqadha secaraqashrshalat-shalat yang semestinya dilakukan secaraqashrnamun ia laksanakannya secaratamam, dan mengqadha puasa yang dilakukannya dalam keadaan musafir.
SHALAT SEWAAN (ISTIJARAH)
SOAL 709:
Saya tidak mampu melakukan shalat. Apakah saya boleh menentukan seseorang untuk menggantikan saya dalam melakukannya? Dan apakah berbeda ketika pengganti meminta upah dan ketika tidak memintanya?
JAWAB:
Setiap mukallaf wajib secara syarIy selama masih hidup melaksanakan sendiri shalat-shalatnya yang wajib. Shalat pengganti tidaklah cukup baginya. Tanpa beda antara dengan ongkos maupun tidak.
SOAL 710:
Berkenaan dengan orang yang melakukan shalatistijarah, ada beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1.Apakah ia wajib melakukan adzan, iqamah dan membaca tiga salam dan empat tasbih secara sempurna?
2.Jika ia pada suatu hari melakukan shalat dhuhur dan ashar, misalnya, dan pada hari berikutnya melakukan shalat harian secara sempurna, apakah diharuskan melakukannya secara berurutan?
3.Apakah dalam shalatistijarahdisyarakan untuk menyebut ciri-ciri mayit ataukah tidak?
JAWAB:
Tidak diharuskan menyebut ciri-ciri mayit (orang yang telah wafat). Disyaratkan melakukan shalat dhuhur dan ashar secara berurutan, demikian pula dalam shalat maghrib dan isya saja. Selama dalam akad sewa tidak disyaratkan cara khusus atas orang yang disewa dan tidak ada cara yang baku dalam makna akad sewa (akad sewa yang dilakukan secaramuthlaq, tanpa batasan dalam maksudnya). maka ia (yang di sewa) harus melakukan shalat dengan bagian-bagiannya yang mustahab dengan cara yang lazim. Namun, ia tidak wajib melakukan adzan untuk setiap shalat.
SHALAT AYAT
SOAL 711:
Apakah shalat ayat itu? Dan apa sebab wajibnya secara syariy?
JAWAB:
Ia terdiri dari dua rakaat. Dalam setiap rakaat terdapat lima ruku dan dua sujud. Penyebab kewajibannya secara syariy adalah gerhana matahari dan bulan, meski hanya sebagian, gempa, dan setiap peristiwa yang menakutkan bagi manusia pada umumnya, seperti badai hitam, badai merah dan kuning yang luar biasa (tidak wajar), kegelapan yang sangat, goncangan, teriakan (dari langit), api yang terkadang muncul di langit.
Selain peristiwa-peristiwa mengerikan tidaklah tergolong sebagai sebab sebab kewajiban , kecuali dua gerhana dan gempa bumi, begitu pula ketakutan sebagian kecil orang tidaklah terhitung.
SOAL 712:
Bagaimana cara melakukan shalat ayat?
JAWAB:
Terdapat beberapa cara:
Cara pertama:
Setelah niat dan takbiratul ihram, membaca alfatihah dan satu surah, kemudian ruku dan bangun dari ruku, lalu membaca alfatihah dan satu surah dan kembali ruku serta bangun dari ruku, begitulah seterusnya sampai menyelesaikan lima kali ruku dalam rakaatnya dengan membaca alfatihah dan surah setiap sebelum ruku. Setelah itu melakukan dua kali sujud, kemudian bangkit untuk melakukan rakaat kedua dengan cara yang sama seperti rakaat pertama sampai selesai dua sujud. Dan mengakhiri dengan tasyahhud dan salam.
Cara kedua:
Setelah niat dan takbiratul ihram, membaca alfatihah dan membaca ayat dari sebuah surah, kemudian ruku dan bangun dari ruku, lalu membaca ayat lain dari surah tersebut dan kembali ruku serta bangun dari ruku dan membaca ayat lain dari surah yang sama, begitulah seterusnya sampai ruku kelima hingga menyempurnakan pembacaan surah -yang ayat-ayatnya ia baca- sebelum ruku yang terakhir, kemudian melaksankan ruku kelima dan sujud dua kali. Setelah itu bangkit (untuk rakaat kedua) dan membaca alfatihah dan ayat dari sebuah surah, lalu ruku, begitulah seterusnya sebagaimana rakaat pertama sampai tasyahhud dan salam. Pada cara ini dimana pada setiap sebelum ruku ia mencukupkan dengan membaca satu ayat dari surah, maka ia tidak boleh membaca alfatihah lebih dari satu kali pada awal rakaat.
Cara ketiga:
Menggunakan salah satu dari dua cara di atas pada salah satu rakaatnya dan menggunakan cara yang lain pada rakaat yang lain.
Cara keempat:
Menyelesaikan pembacaan surah yang sebagian ayatnya telah ia baca dalamqiyam(berdiri) pertama padaqiyamkedua, ketiga atau keempat, misalnya. Maka setelah mengangkat kepala dari ruku ia membaca alfatihah lagi padaqiyamberikutnya dan membaca sebuah surah, atau sebuah ayat jika ia berada pada sebelumqiyamyang kelima. Apabila sebelum qiyam kelima ia hanya membaca satu ayat dari sebuah surah maka ia wajib menyelesaikannya sebelum ruku kelima.
SOAL 713:
Apakah kewajiban melakukan shalat ayat hanya berlaku atas orang yang berada di kota kejadian, ataukah kewajibannya meliputi setiap mukallaf yang mengetahui peristiwa tersebut, meskipun tidak berada di tempat peristiwa?
JAWAB:
Kewajiban melakukan shalat ayat hanya berlaku atas orang yang berada di kotaayat(kota kejadian), termasuk orang yang berada di kota yang bersambuing dengannya sedemikian rupa sehingga lazim dianggap sebagai satu kota.
SOAL 714:
Apakah orang yang jatuh pingsan saat terjadi gempa lalu sadar setelah gempa tersebut berakhir wajib melakukan shalat ayat?
JAWAB:
Jika ia tidak tahu terjadinya gempa sampai saat sesudah kejadian, maka tidak wajib melakukan shalat ayat, namun, berdasarkanahwath, dianjurkan (mustahab) untuk melakukannya.
SOAL 715:
Setelah terjadi gempa bumi di sebuah kawasan, biasanya juga terjadi beberapa gempa ringan (susulan) dan goncangan bumi dalam waktu yang singkat. Apakah hukum shalat ayat dalam kondisi demikian?
JAWAB:
Wajib melakukan shalat ayat secara terpisah untuk setiap gempa tersendiri, keras maupun ringan.
SOAL 716:
Jika lembaga pemantauan gempa mengumumkan tentang terjadinya beberapa gempa ringan disertai dengan penyebutan jumlahnya di kawasan yang kami tinggali, namun kami tidak merasakannya sama sekali, apakah kami wajib melakukan shalat ayat ataukah tidak?
JAWAB:
Jika Anda tidak merasakan gempa saat kejadiannya atau sesaat segera setelahnya, maka Anda tidak wajib melakukannya.
SHALAT-SHALAT NAFILAH
SOAL 717:
Apakah shalat-shalat nafilah wajib dilakukan secarajahr(dibaca dengan suara luar) atau secaraikhfat(dengan suara dalam)?
JAWAB:
Dianjurkan (mustahab) melakukan shalat-shalat nafilah siang hari (nahariyah) denganikhfat, dan melakukan shalat-shalat nafilah malam hari (lailiyah) denganjahr.
SOAL 718:
Apakah boleh melakukan shalat-malam yang setiap shalatnya terdiri atas 2 rakaat- dengan menggabungkannya menjadi 4 rakaat sekaligus dua kali, lalu shalat dua rakaat, dan diakhiri dengan 1 rakaat shalat witr?
JAWAB:
Melakukan shalat nafilah-malam dengan empat rakaat sekaligus tidaklah sah.
SOAL 719:
Apakah wajib merahasiakan dalam melakukan shalat-malam, agar tidak diketahui orang lain, dan apakah wajib sholat di tempat gelap?
JAWAB:
Tidak disyaratkan melakukannya di kegelapan atau merahasiakannya dari orang lain. Memang benar, sikapriyatidaklah diperbolehkan.
SOAL 720:
Apakah melakukan nafilah dhuhur dan ashar setelah melakukan shalat wajib dhuhur dan ashar dan pada waktu nafilah harus dengan niat qadha ataukah lainnya?
JAWAB:
Berdasarakanahwath, ia wajib melakukannya dengan tujuan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah (swt) tanpa niatadamaupunqadha.
SOAL 721:
Kami mohon Anda menguraikan kepada kami cara shalat-malam secara rinci.
JAWAB:
Shalat malam terdiri dari 11 rakaat. 8 rakaatnya yang dilakukan dua rakaat dua rakaat disebut shalatul-lail dan dua rakaat berikutnya disebut shalat-syaf, semuanyanya dilakukan sebagaimana shalat subuh. Satu rakaat terakhir disebut dengan rakatul-witr yang di dalam qunutnya dianjurkan ber-istighfardan berdoa untuk orang-orang mukmin, dan memohon hajat dari Allah yang Maha Pemberi secara runut, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab doa.
SOAL 722:
Bagaimana bentuk shalatul- lail? Dengan kata lain, apakah ada cara tertentu yang wajib dilakukan dalam shalatul- lail seperti surah-surah, istighfar dan doanya?
JAWAB:
Tidak disyaratkan apa pun dari (pembacaan) surah, istighfar dan doa sebagai bagian dari shalatul-lail, juga tidak sebagai wajibtaklifi(kewajiban instruktif). Melainkan cukup dalam setiap rakaatnya, setelah niat dan takbir, membaca alfatihah, ruku, sujud, membaca zikir dalam ruku dan sujud, tasyahhud, dan salam.