Bagian Kedua

Ketika Nabi Muhamad SAWW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, sebuah peristiwa historis tengah bergulir dan sebuah gerakan besar sedang menyeruak membelah langit peradaban manusia. Sejak saat itu, Madinah menjadi salah satu kota paling penting, bukan hanya untuk para pengikut agama Islam, tetapi juga untuk seluruh ummat manusia di dunia. Di kota inilah peradaban Islami mulai ditata. Karena pentingnya nilai historis kota ini, hampir tidak ada peziarah Baitullah yang tidak mengunjungi Madinah saat mereka melakukan ibadah haji, meskipun ziarah ke Madinah bukanlah bagian dari ibadah haji.
Di hari-hari sebelum dan sesudah pelaksanaan ibdah haji, suasana spiritual yang kental sangat terasa di kota Madinah, khususnya di Masjid Nabawi, tempat dimakamkannya Rasulullah SAWW. Kaum muslimin secara berkelompok dan bergiliran menziarahi makam Rasul yang suci ini. Mereka berupaya keras memperoleh berkah dari pusara Rasulullah SAWW. Salah seorang peziarah pusara Rasulullah SAWW bernama Husaini menuturkan pengalamannya sebagai berikut.
“Saat aku menginjakkan kaki di kota Madinah, aku langsung merasakan segarnya semilir angin kedamaian yang sangat semerbak. Di sinilah tempat dimakamkannya makhluk termulia di alam semesta, yaitu Nabi Muhammad SAWW. Dialah manusia yang bukan saja telah mengajarkan kepada kita akhlak yang mulia, melainkan dia sendiri yang memberikan contoh dan suri tauladan tentang bagaimana caranya menjadi manusia yang baik. Karenanya, menyaksikan dari dekat pusara beliau memberikan suasana tersendiri yang sangat impresif.
“Siapa saja yang mendatangi pusara beliau, hatinya pasti tergetar, kecuali jika hati mereka memang sudah diliputi oleh hawa nafsu dan bisikan setan. Saya sendiri melihat betapa banyak orang yang datang untuk berziarah ke makam beliau dengan hati yang diliputi oleh rasa keagungan yang dipancarkan oleh makam Rasulullah. Banyak orang yang tanpa terasa meneteskan air mata kerinduan abadi kepada Rasul yang mulia ini. Ketika adzan menggema dari menara Masjid Nabawi, segera terbayang masa-masa indah saat Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat dekat Rasulullah, melantunkan suara emasnya membacakan adzan dalam rangka memanggil kaum muslimin untuk menghadap Allah”.
Memang, meskipun sudah belasan abad lamanya berlalu dari masa hidup Nabi, kehidupan beliau dan sahabat-sahabatnya yang setia tetap terbayang hingga kini begitu kita memasuki kota Madinah Al-Munawwarah. Itu semua disebabkan sangat mulianya kehidupan masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah. Semuanya tersimpan sebagai kenangan di kota itu. Terbayang pula bagaimana dulu Rasulullah tidak pernah berhenti memberikan nasihat kepada ummatnya, dan nasehat beliau itu masih sangat relevan dengan kondisi ummatnya di masa kini. Dengarkanlah salah satu petikan nasehat beliau yang dicatat oleh para ahli hadits berikut ini.
“Wahai kaum muslimin, berhati-hatilah, jangan sampai kalian melepaskan persatuan dan kebersamaan yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kalian. Janganlah kalian berpecah belah, saling membunuh, dan kalian kembali ke masa jahiliah dulu. Aku sangat mengkhawatirkan bahwa hal itu akan terjadi kepada kalian sepeninggalku nanti. Ingatlah, aku telah meninggalkan buat kalian dua pusaka yang akan membuat kalian tetap bersatu padu. Keduanya adalah Kitabullah danitrah-ku, keluargaku”.
Hampir semua ulama dan cendekiawan muslim sedunia menyepakati fakta bahwa kaum muslimin saat ini menghadapi salah satu problema besar, yaitu persatuan yang sangat rapuh. Berbagai fakta di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, dan hal-hal lainnya menunjukkan bahwa sebagian besar bangsa muslim dunia lebih suka menjalin persaudaraan dengan pihak luar daripada dengan saudara-saudara seagama mereka. Padahal, justru masalah persatuan inilah yang saat ini sering menjadi faktor paling menentukkan dalam menyelesaikan berbagai problema yang dihadapi ummat Islam.
Saat ini, ummat Islam di manapun mereka berada, pastilah tengah menghadapi berbagai problema yang pelik. Dalam beberapa tahun terakhir ini, masalah yang dihadapi seakan bertambah rumit dan menyakitkan, terutama setelah kaum arogan dunia menggelar gerakan yang mereka namakan dengan program pemberantasan terorisme dengan sasaran kelompok-kelompok Islam dunia. Jelas sekali bahwa ada agenda tersembunyi di balik program itu. Hal-hal yang tersembunyi itu kini semakin terungkap. Bangsa-bangsa muslim dunia juga semakin menyadari konspirasi busuk negara-negara arogan itu. Akan tetapi, kesadaran tersebut masih baru pada tahap awal karena belum terimplementasikan dalam bentuk gerakan-gerakan kongkrit untuk melawan kesewenang-wenangan yang ditimpakan kepada kuammuslimin. Hal ini menunjukkan bahwa ada hal lain yang harus dimiliki kaum muslimin agar kesadaran itu bisa menghasilkan hal-hal yang kongkret dan positif. Hal yang hilang, dan harus diwujudkan itu adalah masalah persatuan.
Di sisi lain, bangsa-bangsa muslim juga adalah pemilik cadangan energi minyak dan gas terbesar di dunia. Jumlah penduduk kaum muslimin juga termasuk yang terbesar. Akan tetapi, mengapa semua potensi itu belum bisa mengantarkan ummat Muhammad ini menjadi kaum yang memiliki peranan signifikan di panggung internasional. Tentu saja, banyak sebabnya. Akan tetapi, hampir semua cendekiawan muslim sepakat bahwa salah satu faktor penghalang tampilnya kaum muslimin di dunia adalah tidak adanya persatuan di antara mereka.
Ketika kita melihat ibadah haji yang dilakukan oleh jutaan ummat Islam dari seluruh dunia, dan kemudian kita mengingat kembali problema sangat rapuhnya persatuan dan kebersamaan di antara kaum muslimin, kita akan langsung menghubungkan kedua masalah ini. Bukankah Allah SWT berfirman dalam Al-Quran bahwa salah satu tujuan diperintahkannya ummat Islam melakukan ibadah haji ini dalah supaya mereka memperoleh manfaatnya? Bukankah saat melakukan ibadah haji itu, para peziarah Rumah Allah itu menujukkan persatuan dan kebersamaan mereka? Mengapa kebersamaan indah yang ditunjukkan oleh parahujjajitu tidak bisa ditransformasikan ke dalam bentuk kebersamaan kaum muslimin di seluruh dunia?
Tidak bisa diragukan lagi bahwa optimisme mengenai akan terwujudnya persatuan di antara kaum muslimin dunia akan kita rasakan saat kita melihat kaum muslimin melakukan ibadah haji. Inilah yang dirasakan oleh sejumlah orang. Kini, kita simak penuturan Nyonya Zainab Kobold, seorang cendekiawan Barat yang baru saja memeluk agama Islam, dan ia juga sempat melakukan ibadah haji ke Mekah.
“Haji memberikan pengaruh yang sangat besar kepada saya. Jutaan ummat manusia datang dari delapan penujuru dunia. Secara bersama-sama, mereka melafazhkan pujian kepada Allah. Semua itu adalah pemandangan yang sangat menggetarkan. Tentu saja, berada di tengah-tengah massa yang menampilkan pemandangan kolosal seperti ini akan menjadi kenangan tersendiri yang tidak akan mungkin dilupakan. Berat dan jauhnya perjalanan akan terlupakan. Keragaman pemikiran dan perbedaan pendapat juga menjadi hilang musnah ditelan oleh agungnya kebersamaan ini. Keagungan persatuan, kebersamaan, dan persaudaraan inilah yang menjadi salah satu penyebab masuknya saya kepada agama suci ini”.