Bagian Keempat

Musim haji telah tiba. Jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tanah suci Makkah Al-Mukarramah. Semua datang mewakili berbagai bangsa, berbagai warna kulit, dan berbagai ras di dunia, dengan membawa identitas yang sama, yaitu Islam. Mereka juga mengenakan pakaian serupa sambil mengucapkan berbagai kalimat pujian kepada Allah. Mereka secara serentak berseru, “Labbaik, Allahumma labbaik!” Betapa agungnya kumpulan manusia ini. Sepanjang sejarah, tidak akan pernah kita dapati pemandangan indah dan agung seperti yang ditunjukkan oleh kaum muslimin saat mereka melakukan ibadah haji. Akan tetapi, justru kaum muslimin inilah yang saat ini menjadi komunitas yang paling menderita di dunia.
Ketika kaum muslimin untuk pertama kalinya menunaikan ibadah haji secara bebas, Rasulullah SAWW memerintahkan para sahabat setianya agar menunjukkan keagungan Islam ini secara demonstratif. Kaum muslimin disuruh meneriakkan kalimat-kalimattalbiahdengan suara lantang. Gerakan-gerakanthawafdansa’iyjuga diminta agar dilakukan dengan penuh gairah. Melihat hal tersebut, kaum musyrikin Mekah yang untuk sementara waktu menyingkir ke atas bukit-bukit batu di sekeliling kota, sontak tertegun. Ibadah haji kaum muslimin adalah manuver yang berisikan pesan kehebatan kekuatan ummat Muhammmad di depan berbagai kekuatan lainnya. 
Sampai batas-batas tertentu, kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji saat ini juga bisa dikatakan telah menunjukkan keagungan agama ini kepada ummat manusia di dunia. Bagaimanapun juga, kesamaan pakaian ihram, kalimahtalbiah, dan tata cara peribadatan, telah memberikan kesan yang sangat kuat bahwa kaum muslimin memang memiliki fondasi yang kuat untuk bersatu. Akan tetapi, fakta yang ada menunjukkan bahwa keagungan yang ditunjukkan jamaah haji itu belum sampai pada tahap sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan ummatnya dulu. Jika tidak, tentulah musuh-musuh Islam itu sudah lama tidak berani melakukan represinya kepada ummat Muhammad ini, dan nasib ummat Islam tidaklah seperti sekarang ini. Lihatlah apa yang menimpa kaum muslimin di Irak, Palestina, Afghanistan, dan kawasan-kawasan lainnya. AS, Zionis, dan sekutu-sekutunya telah menimbulkan penderitaan berkepanjangan pada kaum muslimin di kawasan-kawasan itu.
Begitu transparannya kekejaman negara-negara arogan dunia, terutama AS, hingga sewasa ini, opini umum dunia memandang AS sebagai pemerintah yang haus kekuasaan, unilateral, dan konfrontatif yang berencana menguasai dunia dan merampok sumber-sumber kekayaan negara lain, khususnya negara-negara muslim.  Atas alasan ini, sebelum didudukinya Irak oleh AS dan Inggris, sempat timbul penentangan luas dari masyarakat dunia. Masyarakat dunia tidak mempercayai klaim AS bahwa invasi mereka ke Irak adalah demi menolong rakyat Irak dan menegakkan demokrasi di negara tersebut. Kini, AS telah berubah menjadi rezim yang paling dibenci di dunia yang telah membuat ketidakamanan dan kekerasan yang menyebar luas di negeri-negeri muslim.
Setelah kejadian 11 September, Gedung Putih melakukan aksi imperialisme dan perampokannya terhadap negara-negara muslim secara terang-terangan dan  penuh kekerasan. Negara ini telah menghidupkan kembali periode imperialisme kuno. Hal inilah yang kini tengah terjadi di Irak dan Afghanistan. Tentara AS secara langsung menyerang dan menduduki kedua negara tersebut. Sementara pasukan AS sibuk menyerang penduduk sipil, perusahaan-perusahaan minyak AS juga tak henti-hentinya menguras sumber minyak di Irak untuk dijual ke luar negeri.
Pada saat yang sama, jaringan raksasa media massa AS tak henti-hentinya melancarkan propaganda negatif terhadap kaum muslimin. Dengan tujuan untuk mengubah opini dunia yang membenci aksi invasi AS, di satu sisi, media massa AS berusaha menjustifkasi dengan slogan-slogan penegakan demokrasi. Di sisi lain, media massa Barat juga berusaha menciptakan opini bahwa kaum muslimin adalah teroris, pencinta kekerasan, serta berniat untuk menghancurkan peradaban Barat. Peristiwa 11 September dimanipulasi sedemikian rupa untuk menyerang Islam dan kaum muslimin. Tak pelak lagi, berbagai propaganda anti Islam ini justru menimbulkan kebencian dari kaum muslimin dunia terhadap AS.
Dukungan total yang ditunjukkan AS terhadap rezim Zionis merupakan salah satu konspirasi kotor yang membuat penderitaan kaum muslimin bertambah panjang. Rezim Zionis telah merebut tanah air milik bangsa Palestina dan mendirikan sebuah negara ilegal di atasnya. Tiap harinya, rezim ini melakukan penyerangan, pembantaian, dan penghancuran atas rumah dan ladang milik bangsa Palestina. berbagai kejahatan itu mendapatkan dukungan dari AS, baik dengan bantuan politik, ekonomi, militer, maupun propaganda. Karena dukungan terang-terangan yang ditunjukkan oleh AS terhadap Israel yang merupakan musuh dunia Islam, tak heran bila masyarakat muslim di seluruh dunia membenci AS dan menganggapnya sebagai musuh. 
Selepas keruntuhan Uni Sovyet tahun 1991 dan berakhirnya Perang Dingin, AS menjadi satu-satunya kekuatan adidaya di dunia. Sejak itu pula AS semakin agresif dalam menjalankan politik unilateralnya. Dengan berbagai cara, AS berusaha menanamkan pengaruhnya di berbagai negara dengan tujuan untuk meraih keuntungan ekonomi dan politik. Dengan menjalin kronisme dengan para penguasa di berbagai negara muslim atau melakukan tekanan-tekanan politik, perusahaan-perusahaan AS meraih keuntungan yang sangat besar dalam eksplorasi kekayaan alam di negara-negara tersebut. AS juga mendalangi berbagai konflik politik di banyak negara, yang ujung-ujungnya, pihak yang meraih keuntungan dari konflik tersebut adalah AS.
Pasca Serangan 11 September 2001, AS  semakin terang-terangan dalam melancarkan serangan dan tekanan terhadap kaum muslimin sedunia. Isu-isu terorisme senantiasa dimunculkan oleh para pejabat AS dan disebarluaskan oleh jaringan media massa negara ini. Akibatnya, kaum muslimin di AS dan Eropa banyak yang menjadi korban dari sikap kebencian di kalangan masyarakat Barat terhadap Islam. Mereka dilecehkan, diserang, atau bahkan dipenjarakan tanpa alasan yang jelas.  
Kini, bukan hanya masyarakat muslim dunia yang menyadari kebusukan AS itu, namun juga masyarakat Barat, termasuk rakyat AS sendiri. Berbagai demonstrasi yang marak terjadi di negara-negara Barat, termasuk di dalam negeri AS sendiri, membuktikan adanya kesadaran opini umum dunia atas kejahatan rezim Washinton ini.  Namun demikian, satu-satunya cara untuk menghentikan kejahatan AS di atas bumi adalah dengan persatuan di antara seluruh kaum muslimin yang telah tersadarkan akan wajah asli AS sebagai sebuah negara imperialis di abad modern.
Bertemunya kaum muslimin pada musim haji jelas merupakan kesempatan sangat bagus untuk mempererat persatuan ini. Jamaah haji dari seluruh dunia, khususnya kaum cendekiawan mereka, harus menyadari bahwa kedatangan mereka ke Mekah adalah atas undangan Allah SWT. Kini, ummat Islam yang menyembah Allah sedang berada dalam kesulitan besar akibat konspirasi AS dan sekutu-sekutunya. Karena itu, dengan sangat mudah kita bisa memahami bahwa salah satu perintah yang diberikan oleh Allah kepada kita semua adalah menyelesaikan segala problema yang dihadapi oleh kaum muslimin itu, dan haji merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk menjalankan perintah Allah itu.
Para jamaah haji di Mekah tentulah akan bertemu dengan saudara-saudara mereka dari Irak, Afghanistan, Palestina, Bosnia, negara-negara Afrika, atau bangsa-bangsa muslim lainnya. Akanlah sangat aneh jika para jamaah haji itu tidak terusik hatinya untuk setidaknya bertanya mengenai penderitaan yang mereka alami di negara masing-masing. Itulah hal yang minimalnya harus dimanfaatkan oleh jamaah haji dari ibadah yang sedang mereka jalani tersebut. Lebih jauhnya lagi, mereka bisa berbincang-bincang dan bertukar pikiran mengenai hal-hal yang harus dilakukan untuk menanggulangi berbagai penderitaan itu. Meskipun mungkin saja perbincangan yang sekilas itu tidak bisa diharapkan untuk melahirkan solusi praktis bagi problema yang ada, akan tetapi setidaknya dari perbincangan itu bisa timbul kebersamaan, kesadaran, dan rasa senasib sepenanggungan di antara sesama ummat Islam sedunia.