Bagian Kelima

Matahari semakin merangkak ke atas langit. Panasnya menyengat hingga ke ubun-ubun. Pada hari itu, sejarah tengah menjadi saksi perjalanan sangat menentukan seorang utusan Allah bernama Ibrahim a.s. Ia bersama istrinya yang bernama Hajar dan anaknya yang masih menyusui bernama Ismail, sedang melintasi hamparan padang pasir yang sangat luas. Ibrahim sedang menjalankan perintah Allah. Ia ditugaskan untuk pergi dari Tanah Syam ke sebuah tempat yang dijanjikan bernama Mekah.
Hanya ketawakalan tingginya kepada Allah yang membuatnya mau menjalani tugas berat ini. Di tengah-tengah perjalanan, saat ia menemui kawasan-kawasan yang agak teduh dan memiliki pepohonan atau air, ia berharap semoga itulah tempat yang dijanjikan oleh Allah. Ibrahim berharap demikian karena di tempat  yang dijanjikan tersebut, ia harus meninggalkan anak dan istrinya. Akan tetapi, ternyata bukan tempat-tempat seperti itulah yang dikehendaki oleh Allah.
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan yang sangat jauh, sampailah tiga manusia pilihan itu di sebuah lembah yang kering, tanpa air dan tanpa rerumputan sedikitpun. Di tempat itulah Ibrahim diperintahkan untuk berhenti. Inilah tempat yang diisyaratkan oleh Allah akan menjadi rumah-Nya. Akan tetapi, dalam tahap awal, kawasan tanpa tanda-tanda kehidupan itu harus dibuka oleh Hajar dan anaknya saja. Sedangkan Ibrahim, untuk sementara waktu diharuskan pulang kembali ke Syam. Untuk itulah, sesuai dengan perintah Allah, segera setelah sampai di lembah gersang tersebut, Ibrahim langsung pamitan untuk segera pergi.
Hajar memandang lekat ke wajah Ibrahim sambil berkata, “Wahai Ibrahim suamiku, Betulkah engkau akan meninggalkan kami di tempat seperti ini? Tidakkah engkau melihat bahwa ini adalah tempat yang betul-betul asing bagi kami, tanpa air dan tanpa tanaman? Ke mana engkau hendak pergi? Kepada siapakah engkau serahkan nasib aku dan anakmu yang masih bayi ini?”
Mendengar perkataan Hajar itu, Ibrahim meneteskan air mata. Sambil matanya memandang kedua orang yang sangat disayangnya itu, ia menjawab, “Allah yang telah memerintahkanku untuk meninggalkanmu di sini”.
Sejenak Hajar terdiam. Lalu ia berkata, “Kalau demikian, pergilah wahai Ibrahim. Allah yang Maha Pengasih tidak akan mungkin menelantarkan kami sendirian”.
Ibrahim kemudian bersiap-siap untuk pergi. Sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk berdoa dengan hati yang tulus, doa yang terekam dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 37. “Ya Allah, wahai Tuhan kami, aku telah meninggalkan sebagian dari anak keturunanku di sebuah lembah gersang tanpa tanaman, yang menjadi rumah-Mu, agar mereka mendirikan shalat di sini. Jadikanlah hati sebagian manusia agar cenderung kepada mereka. Ya Allah, berikan mereka rizki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu”.
Ibrahim pun pergi meninggalkan Hajar dan Ismail. Inilah saatnya bagi Hajar dan Ismail untuk menjalani ujian yang sangat berat. Beberapa waktu kemudian, persediaan air dan makanan mereka habis. Ke manakah mereka harus mencari makanan dan minuman untuk menyambung nafas dan hidup? Dalam kondisi seperti itu, Hajar yang saat itu berada di sebuah bukit kecil bernama Shafa, matanya tertumbuk pada bayangan kamuflase air di  bukit kecil lainnya bernama Marwah. Ketika sampai di Marwah dan tidak didapatinya air, ia malah melihat bayangan kamuflase air itu di bukit Shafa.
Setelah tujuh kali berlari-lari dari Shafa ke Marwah dalam rangka mencari air, Hajar tiba-tiba mendengar tangisan bayinya, Ismail. Rasa putus asa meliputi jiwanya. Ia sendiri saat itu merasakan kehausan yang membakar tenggorokannya. Ia tidak tahu, apa yang akan diberikan kepada bayinya yang menangis itu. Ia kemudian berlari mendatangi bayinya. Betapa terkejutnya ketika ia melihat bayinya itu tengah menjejak-jejakkan kakinya di atas tanah yang basah. Tak lama kemudian, mengalirlah air jernih dan segar dari bawah kaki Ismail. Dengan rasa gembira yang luar biasa, Hajar meminum air tersebut. Puji dan syukur ia panjatkan kepada Allah. Semakin yakinlah ia bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan hambanya sendirian.
Ternyata, tepat di bawah kaki Ismail terdapat sumber mata air yang hingga kini, setelah ribuan tahun berlalu dari ditemukannya tempat itu, masih terus memancarkan air. Keberadaan mata air yang kemudian diberi nama “Zamzam” itulah yang membuat para musafir tidak pernah melewatkan untuk tinggal sejenak di tempat itu. Lama-lama, nadi kehidupan semakin berdenyut di lembah Mekah itu, dan terkabullah doa Nabi Ibrahim, yang meminta kepada Allah agar orang-orang memiliki kecenderungan untuk mendatangi kawasan yang tadinya sangat gersang tersebut. Beberapa tahun kemudian, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, Ibrahim kembali ke Mekah. Bersama anaknya, Ismail, ia membangun Ka’bah, rumah Allah yang kemudian tiap tahun didatangi oleh para peziarah.
Ribuan tahun berlalu. Generasi demi generasi datang silih berganti. Berbagai peradaban di sejumlah belahan dunia muncul dan tumbang. Puluhan utusan Allah diturunkan oleh-Nya ke berbagai kaum. Ka’bah, rumah Allah itu, masih tegak berdiri. Mata air Zamzam yang dulu ditemukan oleh Hajar dan Nabi Ismail juga masih terus mengalirkan mata air yang segar. 571 tahun setelah lahirnya Nabi Isa a.s., sebuah peritiwa paling fenomenal dalam sejarah ummat manusia, bahkan mungkin paling fenomenal di seluruh alam semesta, kembali berlangsung di lembah Mekah yang saat itu sudah makin ramai. Seorang Nabi terakhir dan makhluk paling sempurna di alam semesta lahir di kota ini.
Nabi bernama Muhamad SAWW yang juga merupakan keturunan Nabi Ibrahim ini, kemudian menyebarkan agama paling sempurna bernama Islam. Lewat ajaran agama ini, Rasulullah SAWW menyampaikan perintah Allah kepada ummatnya yang mampu, untuk menunaikan ibadah haji dengan cara mendatangi kota Mekah. Mereka diperintahkan untuk berihram, wukuf di Arafah, singgah di Muzdalifah, melempar jumrah, dan bermalam di Mina. Kaum muslimin juga diperintahkan untuk berthawaf bahkan melakukan napak tilas dengan apa yang telah diperbuat oleh Hajar dahulu, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa.
Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah dan menggetarkan. Mekah yang kini bukan lagi lembah yang gersang, di hari-hari terakhir ini dipenuhi oleh jutaan ummat Muhammad. Mereka berpakaian sama dan melantunkan kalimah-kalimah pujian kepada Allah yang serupa. Mereka semua meniru apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya ribuan tahun yang lalu. Mereka melakukan rangkaian ibadah yang di dalamnya tersimpan berbagai konsep kebaikan seperti semangat persamaan, persatuan, ketawakalan pada Allah, kesederhanaan, kesadaran sosial, pengorbanan, semangat memerangi hawa nafsu, dan cinta kepada Allah.
Lihatlah padang Arafah. Jutaan manusia melakukan wuquf di padang ini, di bawah sengatan terik mentari. Tidak ada yang mereka kerjakan sejak siang hari hingga tenggelamnya matahari itu kecuali berzikir, beribadah, dan menumpahkan kerinduan kepada Allah. Manakala mentari tenggelam, secara serentak mereka bergerak ke arah Muzdalifah. Di sini, di sepanjang keheningan malam, mereka ber-khalwatdengan Allah yang Maha Pengasih. Ya Allah, apakah gerangan yang berada dalam benak jutaan manusia itu, hingga secara bersama-sama mereka melewatkan malam yang dingin di Muzdalifah dengan hanya bermunajat kepada-Mu”.
Muzdalifah ternyata bukan tempat tujuan akhir. Sambil bermunajat, mereka juga menyiapkan batu-batu sebagai alat perang. Besok, mereka akan melakukan pengorbanan. Tapi, sebelum itu, mereka pasti akan bertempur terlebih dahulu dengan setan di Mina. Ketika fajar menyingsing dan adzan shubuh berkumandang, jutaan ummat manusia itu melakukan ibadah shalat shubuh. Kemudian mereka bergerak ke Mina. Di sana, saat perjalanan mereka dihadang oleh setan, dengan gagah berani mereka bunuh syetan dan mereka hancurkan hawa nafsu yang ada pada diri mereka. Setelah mampu melewati godaan setan, para jamaah haji itu menyembelih hewan kurban.  Berbahagialah mereka yang memiliki kemampuan dan kemudian memenuhi panggilan Allah untuk melakukan ibadah haji ini.