Jumlah Akses:551
Jumlah Komentar:0

5 Dzulhijjah 1434 Hijriah

بسم الله الرحمن الرحيم
والحمد لله ربِّ العالمين والصلوه والسلام علي سيد الانبياء و المرسلين و علي آله الطيبين و صحبه المنتجبين
 
Tibanya musim haji harus dijadikan hari raya umat Islam. Kesempatan baik yang muncul di hari-hari sangat berharga bagi umat Islam setiap tahun ini, adalah sebuah eliksir mukjizat, yang jika kapasitasnya diketahui dan dimanfaatkan dengan tepat, maka banyak bahaya dan kerentanaan dunia Islam yang akan teratasi.
 
Haji, adalah sumber pancaran keagungan Allah Swt. Masing-masing Anda para jemaah haji yang berbahagia, sekarang telah mendapatkan keberuntungan besar ini untuk membasuh dengan seksama hati dan jiwa kalian dalam amalan dan manasik yang penuh dengan kesucian dan spiritualitas ini, untuk mengumpulkan bekal hidup kalian dari sumber rahmat, kemuliaan dan kekuatan ini. Kekhusyukan dan pasrah di hadapan Allah yang Maha Pengasih; komitmen terhadap tanggung jawab di pundak umat Muslim; semangat, gerakan dan aksi dalam urusan agama dan dunia; kasih sayang dan kesabaran dalam berinteraksi dengan saudara; keberanian dan kepercayaan diri menghadapi peristiwa sulit; harapan atas bantuan dan pertolongan Allah Swt di setiap tempat dan dalam segala hal; ringkas berucap; dan pembentukan manusia dalam timbangan Muslim di sektor pendidikan dan bimbingan ilahi ini, dapat kalian persiapkan untuk diri kalian dan membawa serta diri yang telah terhiasi dengan perhiasan ini sebagai oleh-oleh untuk negara kalian, bangsa kalian dan pada akhirnya untuk umat Islam.
 
Dewasa ini, lebih dari segala hal, umat Islam sangat membutuhkan manusia-manusia yang menyiapkan pemikiran dan amal di samping iman, kesucian, keikhlasan dan muqawama di hadapan musuh-musuh pendendam selain pembinaan diri secara spiritual dan mental. Ini adalah satu-satunya jalan menyelamatkan masyarakat besar Muslim dari berbagai bencana baik yang jelas-jelas dari musuh dan atau yang telah menimpa karena kelemahan tekad, iman dan pemikiran dalam diri mereka sendiri.
 
Tidak diragukan, era sekarang adalah era kebangkitan dan pencarian identitas umat Muslim; hakikat ini juga dapat disaksikan dengan jelas di antara berbagai tantangan yang dihadapi negara-negara Muslim. Tepat dalam kondisi seperti inilah semangat dan tekad yang bersandarkan pada iman, tawakal, pemikiran dan manajemen, dapat memenangkan dan membanggakan bangsa-bangsa Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, serta menyematkan kemuliaan dan kehormatan dalam nasib mereka. Front lawan yang tidak dapat menahan diri di hadapan kebangkitan umat Muslim, dengan segenap daya terjun ke medan dan mengerahkan seluruh sarana keamanan, psikologis, militer, ekonomi dan propaganda untuk mereaksi dan menumpas umat Islam serta menyibukkannya. Pandangan sekilas terhadap kondisi negara-negara di Asia barat mulai dari Pakistan dan Afghanistan hingga Suriah, Irak dan Palestina, serta negara-negara Teluk Persia, juga negara-negara di Afrika  utara termasuk Libya, Mesir, Tunisia hingga Sudan, serta banyak negara lain, mengungkap banyak fakta. Perang saudara, fanatisme buta terhadap agama dan mazhab, instabilitas politik, perluasan terorisme sadis, munculnya kelompok-kelompok dan gerakan ekstrimis yang dengan cara-cara kaum buas dalam sejarah seperti membelah dada manusia dan menggigit jantung mereka, orang-orang bersenjata yang membunuh anak-anak dan perempuan; memenggal kepala para lelaki, memperkosa dan bahkan dalam sejumlah kasus mereka melakukan kejahatan memalukan dan menjijikkan ini atas nama dan di bawah panji agama. Semuanya adalah hasil dari rencana setan dan imperialis dinas-dinas intelijen asing beserta antek-antek pemerintahan sekutu mereka di kawasan, yang mungkin terjadi di berbagai sektor potensial dalam negeri di banyak negara, serta menyuramkan nasib bangsa-bangsa dan menggetirkan lidah mereka. Yang pasti dalam kondisi dan situasi seperti ini tidak bisa diharapkan negara-negara Muslim, dapat memulihkan kekosongan materi dan spiritualitas mereka dan dapat menggapai keamanan, kesejahteraan, kemajuan ilmiah serta kekuatan internasional berkat kebangkitan dan juga identitas. Kondisi menyedihkan ini, dapat memandulkan Kebangkitan Islam dan menyia-nyiakan kesiapan mental yang tumbuh di dunia Islam, dan sekali lagi, akan menyeret bangsa-bangsa Muslim pada stagnansi, isolasi dan degradasi selama bertahun-tahun, serta membuat sejumlah masalah krusial dan penting mereka seperti penyelamatan Palestina dan bangsa-bangsa Muslim dari interferensi Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel akan terlupakan.
 
Solusi fundamental dan krusialnya dapat dirangkum dalam dua kalimat yang masing-masingnya merupakan pelajaran utama haji:
 
Pertama: persatuan dan persaudaraan umat Muslim di bawah panji Tauhid.
 
Kedua: mengenal musuh dan menghadapi rencana dan cara-cara mereka.
 
Pengokohan semangat pesaudaraan dan solidaritas adalah pelajaran besar haji. Di sini bahkan dilarang untuk berdebat atau bersesumbar dengan orang lain. Busana yang sama dan amalan yang sama, gerakan yang sama dan berkasih sayang di sini, berarti persamaan dan persaudaraan bagi semua mereka yang meyakini dan mencintai poros ketauhidan ini. Ini adalah jawaban tegas Islam terhadap pemikiran, keyakinan dan seruan yang menyebut satu kelompok dari umat Islam dan orang-orang yang meyakini Ka’bah dan tauhid telah keluar dari lingkup Islam. Anasir-anasir Takfiri yang dewasa ini menjadi alat politik orang-orang zalim Zionis dan para pendukung Baratnya dan melakukan berbagai kejahatan berat dan menumpahkan darah umat Muslim dan orang-orang tak berdosa, serta pihak-pihak yang mengklaim diri beragama dan mereka yang berbusana sebagai ruhaniwan yang mengobarkan api perselisihan antara Syiah dan Ahlussunnah, dan semacamnya, mereka harus tahu bahwa hembusan nafas ritual haji, membatilkan klaim-klaim mereka.
 
Saya sama seperti banyak ulama Islam dan orang-orang yang peduli terhadap umat Islam, kembali menyatakan bahwa segala ucapan dan amal yang mengobarkan perselisihan antarumat Islam dan juga penistaan terhadap sakralitas masing-masing kelompok Muslim atau pengkafiran salah satu mazhab Islam, adalah pengkhidmatan terhadap kamp kekafiran dan kesyirikan, serta pengkhianatan terhadap Islam, dan haram secara syariat.
 
Mengenal musuh dan cara-caranya adalah rukun kedua. Pertama, tidak boleh lengah dan melupakan eksistensi musuh pendendam, dan beberapa kali ritual melempar Jumrah dalam haji adalah indikasi simbolik dari kesadaran konstan ini. Kedua, jangan sampai keliru dalam mengenal musuh utama yang dewasa ini tidak lain adalah kubu imperialis dunia dan jaringan kriminal Zionisme, dan ketiga, cara-cara musuh dalam menebar perpecahan antarumat Islam, menyebar-luaskan dekadensi politik dan akhlak, ancaman dan jebakan terhadap para tokoh elit, tekanan ekonomi terhadap bangsa-bangsa, dan menciptakan keragu-raguan dalam keyakinan terhadap Islam, harus ditentukan dengan baik, serta para afiliasi dan anasir mereka baik secara sadar atau tidak, harus diidentifikasi melalui cara ini.
 
Pemerintah-pemerintah imperialis dan pemimpin mereka Amerika Serikat, dengan bantuan sarana media yang luas dan maju, menutupi wajah asli mereka dan dengan klaim mendukung hak asasi manusia dan demokrasi, mereka sedang bertingkah tipu muslihat di hadapan opini umum bangsa-bangsa. Ketika mereka sedang berkoar tentang hak, bangsa-bangsa Muslim lebih dari masa sebelumnya, sedang merasakan kobaran api fitnah mereka dengan jiwa dan raganya. Wajah asli para pemimpin sistem imperialis ini dapat ditunjukkan kepada semua orang dengan pandangan sekilas terhadap bangsa tertindas Palestina yang setiap hari selama puluhan tahun terluka akibat berbagai kejahatan rezim Zionis dan para pendukunya; atau terhadap Afghanistan, Pakistan dan Irak, yang terorisme hasil politik imperialis dan antek-antek mereka di kawasan telah menggetirkan kehidupan rakyat mereka; atau terhadap Suriah yang karena dosanya mendukung gerakan muqawama anti-Zionis, menjadi sasaran dendam para penjajah internasional dan antek-antek regional mereka, serta terjebak dalam perang berdarah di dalam negeri; atau terhadap Bahrain atau Myanmar yang masing-masingnya entah bagaimana, umat Muslim yang tertindas telah terlupakan dan musuh-musuh mereka mendapat dukungan; atau terhadap bangsa-bangsa lain yang secara bertubi-tubi diancam dengan serangan militer atau sanksi ekonomi, atau pengacauan keamanan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
 
Para elit politik, budaya dan agama di semua titik dunia Islam harus berkomitmen untuk mengungkap fakta-fakta ini. Ini adalah tugas akhlak dan agama kita semua. Negara-negara Afrika utara yang sangat disayangkan sekali sekarang sedang mengalami perselisihan internal mendalam, harus lebih memperhatikan tugas besar ini, yaitu mengenal musuh, cara-cara dan trik-trik mereka. Berlanjutnya perpecahan di antara gerakan-gerakan nasional dan kelengahan dari bahaya perang internal di negara-negara itu, merupakan bahaya besar yang kerugiannya bagi umat Islam tidak dapat ditebus dalam waktu singkat.
 
Meski demikian, kami tidak meragukan bahwa bangsa-bangsa yang bangkit di wilayah itu yang telah merealisasikan Kebangkitan Islam, dengan izin Allah mereka tidak akan membiarkan jarum waktu bergerak mundur dan era para penguasa korup, dependen dan diktator terulang, akan tetapi lengah terhadap rencana kekuatan-kekuatan imperialis dalam menyulut fitnah dan intervensi destruktifnya, akan mempersulit upaya mereka serta akan menarik kebelakang era kemuliaan, keamanan dan kesejahteraan selama bertahun-tahun. Dari lubuk hati yang terdalam kami meyakini kemampuan bangsa-bangsa dan kekuatan yang telah diberikan Allah Yang Maha Bijaksana dalam tekad, iman dan kesadaran rakyat, dan kami telah menyaksikannya langsung selama lebih dari tiga dekade di Republik Islam Iran dan kami telah mengujinya dengan wujud kami; tekad kami, adalah seruan bagi semua bangsa Muslim terhadap pengalaman saudara-saudara mereka di negara terhomat dan tanpa lelah ini.
 
Saya memohon dari Allah Swt kebaikan kondisi umat Islam dan penolakan makar musuh-musuh, serta haji yang diterima, keselamatan jasmani dan rohani, dan bekal penuh spiritualitas bagi Anda semua para jemaah haji Baitullah.
 
Wassalamualaikum
Sayid Ali Khamenei
5 Dzulhijjah 1434