Jumlah Akses:566
Jumlah Komentar:0

5 Zulhijjah 1423 Hijriah

Bismillahirrahmanirrahim
Pertemuan jutaan umat Islam di musim haji adalah peristiwa besar dan memukau perhatian. Dalam beberapa hari ini, segenap bangsa Muslim dari berbagai pelosok dunia dan dari berbagai elemen masyarakat tumpah ruah di sekitar Baitullah dan di tanah tempat lahirnya Islam dan Nabi Besar Muhammad SAWW untuk menunaikan ritus-ritus ibadah haji yang sarat dengan rahasia itu.  Dalam syiar-syiar akbar dan penuh makna ini, segenap umat Islam ditempa dengan pelajaran tentang keterikatan hati manusia dengan Allah Yang Maha Besar, keterikatan hati manusia satu dengan yang lain, gerakan yang berorientasikan Tauhid, perjuangan yang universal, pelemparan terhadap syaitan, pembebasan-diri dari thaghut, pembekalan diri dengan zikir, ratapan, dan kekhusyuan di depan Allah, serta kesadaran akan kehormatan dan keagungan di bawah panji Islam. Dalam manasik haji tergambar secara utuh semangat kasih sayang dan keharmonisan hidup bersaudara, ketangguhan di depan musuh, pembebasan diri dari praktik pemberhalaan diri, dan semangat untuk mengarungi samudera keagungan Ilahi.
 Haji adalah simbol umat Islam dan merupakan sebuah pendidikan tentang bentuk perilaku yang harus dipraktikkan oleh umat ini demi tercapainya kesejahteraan. Ibadah haji bisa disimpulkan sebagai gerakan yang bervariasi namun terarah dan penuh kesadaran kepada satu tujuan. Inti gerakan ini ialah zikrullah dan kesehatian antar sesama hamba Allah, sedangkan tujuannya ialah terbangunnya basis spiritual yang kokoh bagi kesejahteraan hidup umat manusia. Allah SWT berfirman:
 جعل الله الكعبة البيت الحرام  قياما للناس والشهرالحرام  والهدى والقلائد. . . .
 â€œAllah telah menjadikan Kaabah (yaitu) Rumah Allah yang suci, sebagai pusat kebangkitan bagi manusia, dan (demikian pula) bulan suci, pemberian korban…..”
 Umat Islam sekarang sedang memerlukan gerakan yang masif dan terarah dalam realitas kehidupan mereka. Segenap umat Islam, baik pemerintah maupun rakyatnya, sama-sama bertanggungjawab melakukan gerakan ini.
 Dalam satu abad terakhir, negara-negara Islam banyak menanggung beban keburukan yang amat fatal. Yang paling tertimpa badai imperialisme dan kolonialisasi orang-orang Barat  adalah bangsa-bangsa Muslim. Bangsa-bangsa ini beserta harta benda dan sumber-sumber kekayaan mereka telah menjadi sesaran serangan multidimensional negara-negara imperialis. Akibatnya untuk umat Islam ialah ketertawanan politik dan ekonomi serta keterbelakangan ilmu pengetahuan dan materi, sedangkan untuk kaum imperialis ialah eksploitasi mereka terhadap sumber-sumber daya alam dan manusia umat Islam serta melimpahnya harta kekayaan dan kekuasaan mereka melalui perampasan, kezaliman, dan peperangan.
 Setelah masa berjalan sekian lama, bangsa-bangsa Muslim mulai menyadari dirinya sehingga muncullah kebangkitan umat Islam dan berkibar pula bendera-bendera perjuangan menuntut kebenaran dan keadilan di seantero Dunia Islam, dan dengan demikian terbukalah cakrawala cerah di depan mereka. Pada puncaknya, Islam di Iran meraih kemenangan yang menghasilkan tegaknya pemerintahan Republik Islam serta bermulanya era baru bagi Dunia Islam.
 Sudah barang tentu, sentra-sentra kekuasaan dunia tidak mungkin akan menyerah dengan mudah kepada kebenaran. Bangsa-bangsa Muslim masih harus menempuh perjalanan yang panjang dan terjal namun penuh berkah dan sangat menjanjikan kebahagiaan. Jika mereka yang menempuh perjalanan ini terus bergerak dengan istiaqamah, maka baik mereka sendiri maupun para generasi mereka di masa yang akan datang pasti akan bebas dari keterhinaan, keterbelakangan, dan keterpasungan politik, ekonomi, kebudayaan, dan akan menikmati kesejahteraan hidup di bawah naungan Islam.
 Perjalanan tersebut ialah perjuangan di bidang keilmuan, politik, dan pertahanan teguh atas kebenaran. Di gelanggang perjuangan ini, umat Islam harus mempertahankan kehormatan, martabat, dan hak-haknya yang telah dinistakan. Keinsafan jiwa dan hati nurani manusia adalah juri cerdas dan jujur yang pasti mendukung perjuangan ini, sedangkah sunnatullah juga memastikan kemenangan untuk mereka.
اذن للذين يقاتلون بانهم ظلموا وان الله على نصرهم لقدير
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang yang diperangi karena dizalimi dan sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk menolong mereka.”
 Para kekuatan besar dunia, yaitu jaringan rumit kartel-kartel minyak dan senjata serta zionisme internasional dan negara-negara bonekanya pasti mengendus bahaya kebangkitan umat Islam untuk mereka, dan karena itu mereka gigih melancarkan serangan masif. Serangan yang berdimensi politik, propaganda, militer, dan teror ini sekarang tercermin jelas dalam perilaku dan kata-kata berbau kekerasan yang ditunjukkan oleh kaum militer yang berkuasa di AS dan rezim Zionis.
 Adalah Palestina yang selalu teraniaya, mandi darah, dan setiap hari menjadi korban aksi kekerasan rezim penjajah Zionis. Bangsa Palestina harus menerima segala bentuk bencana pembunuhan, perampasan, perusakan, penyiksaan, dan penghinaan hanya karena dosa keberanian mereka menuntut haknya yang sudah dinistakan sejak setengah abad silam.
 Di saat yang sama, bangsa Irak sedang menerima ancaman perang hanya karena penguasa AS merasa perlu bercokol di Irak untuk mendominasi aliran minyak dan menjarah sumber-sumber minyak yang tersisa di kawasan ini sekaligus bercokol di tempat yang berbatasan dengan Palestina, Iran, Suriah, dan Arab Saudi. Rezim AS ingin mencengkram nasib Irak sebelum kemudian nasib negara-negara Timteng lainnya.  Dengan alasan serupa, bangsa Afganistan sejak setahun beberapa bulan silam harus mengenyam bencana bom dan senjata-senjata perusak massal AS dan Inggris serta intervensi mereka yang sangat menghina dan berbau kolonialisme.
 Keserakahan jaringan arogan dan tak berperikemanusiaan ini sama sekali tidak mengenal batas. Kalau pada setengah abad silam AS menginginkan dirinya sebagai pemegang kekuasaan di negara-negara Amerika Latin, maka pada setengah abad belakangan ini AS merasa dirinya sebagai penguasa dan diktator mutlak atas semua negara Islam. Berbagai target dan proyek destruktif yang dijalankan AS dalam skala internasional adalah bukti klaim-klaim arogan sekaligus bodoh tersebut.
 Tidak bisa tidak, AS dan para sekutunya pasti akan gagal dan dunia akan menyaksikan lagi ambruknya sebuah imperium yang kuat tapi mabuk, sebagaimana mereka mabuk lantas keliru dalam membuat pertimbangan di Afganistan dan di Palestina. Namun, jika umat Islam, baik pemerintah maupun rakyatnya, tidak mengambil keputusan secara cerdas, berani, dan tepat pada waktunya, maka mereka akan kembali menanggung kerugian yang besar dan lama proses penyembuhannya.
 Dalam babak baru gerakannya yang kalap pasca tragedi 11 September yang sangat misterius itu, AS melancarkan serangan propaganda yang mengacungkan bendera demokrasi dan semangat anti teror di ujung tombak, dan untuk merongrong bangsa-bangsa Muslim, AS memekikkan kutukan terhadap senjata destruksi massal dan kimia. Apakah penguasa AS tidak memikirkan kemungkinan umat Islam akan bertanya-tanya:
 â€œ Negara-negara dan perusahaan-perusahaan manakah yang mereka serahkan ke tangan rezim Ba’ats Irak?  Sembilanbelas ribu (19.000) bom kimia yang kalian katakan bahwa rezim Ba’ats Irak menyimpannya di gudang-gudang, dan tigabelas ribu (13.000)  darinya telah dijatuhkan di atas kepala rakyat Iran, berarti masih ada sisa sebanyak enam ribu (6000) buah bom. Dan dengan alasan inilah kalian menjustifikasi serangan kalian terhadap Irak. Darimanakah sejumlah besar senjata dan bahan-bahan kimia tersebut sampai ke tangan rezim Irak? Adakah selain kalian dan sekutu kalian, turut serta dalam kejahatan tragis ini?
 Apakah mereka tidak berpikir bahwa klaim pemberantasan terorisme dan tuduhan sejumlah kelompok tak dikenal, tidak akan dapat menipu bangsa-bangsa muslim,  karena justru pemerintahan dukungan AS, yaitu rezim Israel, termasuk sebagai teroris dunia yang paling kejam? Dengan gerakan propaganda berbiaya besar dan gila-gilaan, kini AS tampil di mata bangsa-bangsa muslim sebagai tukang dusta dan penipu besar.
 Sang arogan AS tidak berhasil mencapai tujuan-tujuannya di Palestina dan Afganistan, dan biaya besar materi dan maknawi itu, tidak mendatangkan apa pun selain kerugian. Untuk seterusnya pun, AS akan mengalami yang seperti itu, insya Allah.    
 Di Irak pun AS mengklaim bahwa tujuannya ialah menyingkirkan Saddam dan rezim Ba’ats. Tentu saja, kali ini pun ia berbohong. Karena tujuan AS yang sebenarnya ialah mencengkeram OPEC dan menelan minyak kawasan ini serta mendukung secara lebih besar rezim zionis, juga untuk merancang berbagai konspirasi terhadap Republik Islam Iran, Suriah dan Arab Saudi. Diyakini bahwa jika AS berhasil menguasai Irak, baik dengan perang maupun tanpa perang, maka korban pertama dari penjajahan angkara murka ini ialah bangsa Irak, kemuliaan, harga diri, kehormatan dan kekayaan bangsa bersejarah ini. Jika bangsa dan negara-negara tetangga Irak sadar akan hal ini, maka insya Allah, AS pun tidak akan mencapai tujuan-tujuannya ini.
 Kekuatan arogan menyadari bahwa sumber perlawanan bangsa-bangsa dan pemerintahan-pemerintahan muslimin ialah Islam dan ajaran-ajarannya yang menyerukan kemerdekaan. Oleh karena itu, AS memulai perang mental besar-besaran terhadap Islam dan muslimin. Setelah peristiwa teror 11 September, dimana berbagai gelagat yang tak terhitung jumlahnya mengindikasikan keterlibatan organisasi-organisasi bawah tanah dan jaringan-jaringan zionis, AS dengan segera memasukkan nama sejumlah muslimin dan Islam ke dalam daftar para tertuduh.    
 AS menawan, memenjarakan, dan menyiksa dengan sadis sebagian orang Islam dari AS, Afganistan, dan negara-negara lainnya. Padahal, tuduhan atas mereka tidak terbukti dan tidak ada para tersangka beridentitas jelas yang jatuh ke tangan orang-orang Amerika. Namun, perang urat saraf terhadap umat dan agama Islam tetap tidak berhenti dan nampaknya tidak secepat itu terhenti.
 Islam adalah agama kebebasan, keadilan, dan kebenaran. Kerakyatan yang sejati adalah kerakyatan religius yang dikemukakan dengan dukungan iman dan tanggungjawab keagamaan. Dan sebagaimana yang terlihat di Republik Islam Iran, kerakyatan tersebut jauh lebih meyakinkan, lebih tulus, dan lebih merakyat ketimbang demokrasi seperti yang ada di AS. Demokrasi yang dikatakan AS dan akan disodorkan kepada negara-negara Islam dan Arab itu sama bahayanya dengan peluru, bom, dan rudal AS. Pihak musuh, seandainya pun memberi kita sebuah kurma, kita tetap tidak akan bisa yakin apakah kurma itu tidak dibubuhi dengan racun. Hal ini sudah berulangkali dialami oleh umat Islam di Afrika, Timteng, dan Asia Barat, termasuk selama beberapa tahun terakhir ini.
 Dalam situasi sedemikian krusial dan berbahaya ini, dibanding masa-masa sebelumnya, umat Islam sekarang jauh lebih dituntut bisa mengambil pelajaran dari ibadah haji, yaitu tentang gerakan dan kebangkitan yang cerdas, bervariasi,  komprehensif, dan terarah kepada tujuan-tujuan Qurani dan berjalan di atas jalan Islam yang lurus. Allah SWT berfirman:
 الذين امنوا يقاتلون في سبيل الله والذين كفروا يقاتلون في سبيل الطاغوت فقانلوا اولياء الشيطان ان كيدالشيطان كان ضعيفا
 â€œOrang-orang yang beriman berperang di atas jalan Allah, sedangkan yang kafir berperang di atas jalan taghut, maka perangilah para pengikut syaitan, sesungguhnya tipu daya syaitan itu amat lemah.”
 وقال موسي لقومه استعينوا بالله واصبروا ان الارض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين.  صدق الله العلي العظيم.
 â€œDan Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mintalah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, dan kemenangan adalah untuk orang-orang yang bertakwa.’”
 Maha benar Allah dengan segala firman-Nya
 Wassalamualaikum
Sayid Ali AlHusaini AlKhamenei
 5 Zulhijjah 1423