Jumlah Akses:515
Jumlah Komentar:0

Dzulhijjah 1424 Hijriah

Bismillahirrahmanirrahim
Umat Islam saat ini, sekali lagi menggelar pertemuan besar tahunan mereka dan memenuhi panggilan“wa adzdzin fin naasi bil hajj”.Kewajiban yang tak ada taranya ini, sama sebagaimana kewajiban Ilahi lainnya, merupakan kotak tabungan rahmat Allah yang pada saatnya nanti akan dibuka bagi hamba-hamba-Nya. Ibadah haji juga merupakan kesempatan untuk memanfaatkan karunia dan rahmat-Nya yang tak terbatas.
          Dilihat dari sisi ini, ibadah haji adalah tiada tara dan bandingnya. Setiap hati dan jiwa akan mendapatkan kecemerlangan dan setiaphujjajakan mendapatkan curahan hujan rahmat sesuai dengan niat dan kapasitas masing-masing. Di sisi lain, pada ibadah haji ini, umat Islam yang terdiri dari berbagai bangsa, berbagai kawasan dan berbagai kebudayaan, akan mencapai persatuan, kewibawaan, keberanian, kebangkitan dan kesadaran yang tinggi dalam menempuh kehidupan ini. Inilah yang sangat diperlukan oleh umat Islam dewasa ini.
          Dunia Islam selama ini terlelap dalam tidur panjang yang sangat merugikan, karena ketidaksadaran ini telah mengakibatkan berkuasanya politik dan kebudayaan asing, sementara sumber-sumber materi dan SDM-nya malah tersalurkan untuk perkembangan dan kekuatan musuh-musuh. namun, kini mereka telah mulai sadar dan secara perlahan tapi mantap membentuk front dalam menghadapi para perampok dan penjajah asing.
          Angin sejuk kebangkitan Islam telah bertiup di segenap penjuru dunia Islam, dan langkah Islam menuju kancah aktivitas, telah muncul dalam bentuk tuntutan-tuntutan serius akan hak-hak mereka. Teori “Islam politik” telah mendapatkan posisi yang tinggi dalam benak para pakar, dan dalam pandangan mereka, telah terbuka ufuk cerah yang memberikan optimisme. Dengan tenggelamnya ideologi-ideologi impor yang hanya ramai dengan slogan-slogan kosong seperti sosialisme dan marksisme, terutama setelah robeknya tirai penipu dan penyesat yang selama ini menutupi demokrasi liberal Barat, maka wajah keadilan dan kemerdekaan yang disuguhkan oleh Islam semakin terang dan tanpa lawan. Wajah ini telah memenuhi hati para pendamba keadilan dan penuntut kemerdekaan, serta para pemikir dan cerdik pandai.
          Banyak sekali pemuda dan mereka yang berjiwa muda di negara-negara muslim, kini menolehkan wajah mereka kepada Islam. Sambil mengharap akan tegaknya keadilan Islam, mereka meminati jihad politik, kebudayaan dan sosial, serta meningkatkan semangat perlawanan menghadapi pemaksaan kekuasaan pihak-pihak asing. Di berbagai kawasan dunia Islam, terutama di di kawasan Palestina yang teraniaya, kaum lelaki dan perempuan yang tak terhitung jumlahnya, menciptakan semangat kepahlawanan untuk selamanya. Setiap hari mereka korbankan jiwa di bawah bendera Islam dengan syiar kemerdekaan, kemuliaan, dan independensi. Keberanian dan tekad perjuangan mereka itu telah membuat kekuatan-kekuatan duniawi bercerai berai.Dari sini, kita bisa melihat bahwa kebangkitan Islam telah memporak-porandakan seluruh perhitungan para arogan, dan telah mengubah semua rencana yang diinginkan oleh para penguasa dunia.
          Dari sisi lain, kemunculan dan perkembangan ide-ide Islam yang baru dalam kerangka dasar-dasar dan pondasi Islam, demikian pula berbagai inovasi di kancah politik dan keilmuan, telah membuktikan kekuatan dan superioritas agama Islam. Kebangkitan nilai-nilai Islam ini telah membuka hamparan yang sangat luas di hadapan para pemikir dan cendekiawan dunia Islam. Para imperialis masa lalu dan para arogan saat ini, yang bercita-cita menjerumuskan dunia Islam dengan politik-politik liciknya ke dalam pertentangan selamanya antarajumuddantahajjurdari satu sisi, dan keputusasaan serta kebodohan dari sisi lain, kini melihat bahwa mereka sendiri merasa terjepit menghadapi semangat juang pemikiran Islam yang sangat kokoh ini.
          Di dunia Islam, dinamika ide, iman, dan amal saleh, tengah berada dalam proses pertumbuhan, penguatan dan pemberian hasil. Fenomena yang penuh berkah ini membuat pusat-pusat kekuatan arogan merasa ketakutan.  Karena itu, saat ini umat Islam harus mempersiapkan diri untuk menghadapi sejumlah reaksi marah dan jahat, yang akan ditunjukkan oleh pusat-pusat kekuatan arogan itu terhadap fenomena agung ini.
          Tak diragukan lagi bahwa dalam pertentangan antara haq dan batil, kemenangan akan berada di pihak kebenaran, sedangkan kegagalan dan kemusnahan merupakan bagian tak terpisahkan dari kebatilan. Akan tetapi, yang demikian itu dengan syarat bahwa front kebenaran harus memanfaatkan kekuatan materi dan spiritualnya dengan baik dan benar. Kemenangan hak juga mensyaratkan kewaspadaan dan upaya dengan ketabahan yang tinggi yang disertai optimisme dan tawakkal kepada Allah serta rasa percaya diri. Dengan demikian, maka pertolongan Ilahi merupakan kepastian, sebagaimana yang dijanjikan di dalam Al-Quranul Karim,“Annal ardlo yaritsuhaa ‘ibaadiyas shoolihuun”, (Sesungguhnya, dunia ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh).
          Jaringan akar-akar kanker Zionisme dan para pejabat jahat pendamba perang AS, yang hari ini merupakan pusat arogan yang paling berbahaya, telah bangkit untuk menghadapi umat Islam dengan menggunakan berbagai cara, mulai dari perang urat syaraf dan propaganda, sampai kekerasan, teror, dan serangan militer. Dalam rangka melindungi interes ilegal mereka, para arogan ini tak akan segan melakukan kejahatan apa pun. Jika dilihat secara singkat berbagai kejahatan rezim Zionis yang sangat mengerikan di tanah pendudukan Palestina yang mendapat dukungan dari AS, demikian pula tingkah laku para penjajah di Irak dan Afganistan, maka akan tampak dengan jelas sekali kedalaman kekejaman mereka itu yang memenuhi dunia dengan slogan-slogan kosong pembelaan HAM, demokrasi, dan kemerdekaan. Dengan slogan pemberantasan terorisme, mereka justru telah menciptakan teror dalam bentuknya yang paling tragis. Dengan mengatasnamakan pembebasan bangsa-bangsa lain, mereka malah memaksakan kediktatoran dan kekuasaan mereka terhadap bangsa-bangsa tersebut. Dengan tegas sekali AS menyatakan bahwa ia berhak mengagresi negara dan bangsa-bangsa lain.
        Para pejabat Zionis dengan terang-terangan menyatakan akan meneror tokoh-tokoh Palestina. Kaum Zionis di Palestina, tiap hari mengucurkan darah orang tua, anak-anak, lelaki dan perempuan warga Palestina serta menghancurkan rumah-rumah mereka. Tentara AS dan Inggris di Irak menyerang warga yang berdemonstrasi, padahal warga tersebut tidak bersenjata. Tak lupa mereka juga melanggar kehormatan rumah-rumah muslimin warga Irak dan menginjak-menginjak kemuliaan mereka. Ketika api yang mereka kobarkan ini masih belum padam, mereka sudah menjanjikan api lain yang akan mereka nyalakan di negara-negara Islam lainnya.
          Tingkah laku emosional dan penuh kejahatan mereka ini, lebih banyak timbul dari kondisi ketakutan dan kekalangkabutan mereka, dari pada berpijak pada kekuatan dan sikap percaya diri. Mereka merasakan kebangkitan Islam, dan merasa sangat takut kepada tersebarnya ide “Islam politik” dan kekuasaan Islam. Mereka ketakutan memikirkan bahwa suatu hari, umat Islam akan bersatu padu dan bangkit menguasai dunia. Di hari itu, dengan kekayaan alam serta warisan kebudayaan dan sejarah yang agung, juga dengan luasnya kawasan geografi dan besarnya SDM, umat Islam tidak akan membiarkan kekuatan-kekuatan arogan yang selama 200 tahun telah menghisap darah mereka serta menginjak-injak kemuliaan umat Islam, untuk melanjutkan kejahatan-kejahatannya.
          Kini para pemikir dan cendekiawan dunia Islam, memikul tugas berat. Mereka bertugas menyebarkan pesan kemerdekaan Islam dengan cara yang sekuat dan semantap mungkin ke telinga dan hati rakyat mereka. Mereka harus menjelaskan “identitas Islam” bangsa-bangsa muslimin. Hendaklah mereka memaparkan ajaran-ajaran Islam berkenaan topik-topik seperti HAM, kemerdekaan, demokrasi, hak-hak perempuan, perjuangan terhadap dekadensi, penghapusan diskriminasi, pemberantasan kemiskinan, dan penanganan ketertinggalan ilmu pengetahuan terutama bagi kalangan muda. Hendaklah mereka menjelaskan kepada semua orang hakekat propaganda barat yang menyesatkan, tentang pembarantasan terorisme dan penghapusan senjata pemusnah massal.
          Saat ini, negara-negara Baratlah yang seharusnya menghadapi semua permasalahan itu dan harus bertanggung jawab atas semua itu di hadapan opini dunia. Dunia Barat harus bertanggungjawab atas pembunuhan anak-anak di bawah umur Palestina, tentang hak-hak kaum perempuan dan penjagaan kehormatan mereka, tentang hak-hak tiap bangsa untuk menentukan nasib dan memanfaatkan kekayaan sendiri, bahkan dalam kemerdekaan bangsa mereka (negara-negara Barat) sendiri. Tidakkah larangan hijab dan busana muslimah di sejumlah negara Eropa membuktikan kepalsuan keyakinan mereka kepada kebebasan individu?
Para pejabat politik dan pemerintahan di negara-negara Islam pun memikul tugas besar di pundak mereka. Penyandaran diri kepada rakyat dan menutup pintu-pintu ketamakan kekuatan-kekuatan arogan yang tiada habisnya, adalah tugas terpenting mereka. Mereka harus menampilkan identitas agung “umat Islam” yang mampu membuka jalan bagi penyelesaian segala macam kesulitan. Dalam masalah-masalah dunia Islam, kemaslahatan umat Islam dan pemeliharaan kemuliaan mereka hendaklah dijadikan sebagai tolok ukur dalam mengambil tiap keputusan.
Sekarang ini, banyak sekali tantangan yang harus ummat Islam. Di Irak, ummatIslam dihadapkan kepada tantangan terkait dengan pengusiran kaum penjajah dari dan penguatan kedaulatan nasional. Di Afghanistan, ummat Islam dunia dihadapkan kepada tantangan pengusiran pasukan militer asing, penekanan nilai-nilai Islam, serta kemerdekaan negara ini. Di Palestina yang teraniaya, kita semua harus bahu-membahu memberikan bantuan, serta mnguatkan materi dan spiritual mereka yang bangkit mempertahankan jiwa, harta, kemuliaan dan kemerdekaannya. Di tempat-tempat lainnya di dunia, kita memiki kewajiban untuk menyebarkan syiar-syiar agama dan iman.
Sementara itu secara sosial politik, kita semua harus melakukan pendekatan yang semakin kuat diantara negara-negara Islam serta penyelesaian semua perselisihan di antara mereka, pengaktifan Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan pengupayaan hak veto organisasi ini di Dewan Keamanan PBB, Oleh sebab itu, segenap upaya pemerintahan Islam harus dipusatkan kepada yang demikian itu, dan semua rakyat serta para cendekiawan hendaklah menuntut hal itu dari pemerintah mereka.
          Bangsa dan negara Iran, yang di hari-hari ini tengah merayakan ulang tahun yang ke 25 berdirinya pemerintahan Islam, memiliki banyak pengalaman di atas jalan yang mulia ini yang dapat dijadikan teladan amat berharga bagi bangsa-bangsa lain. Dengan bertawakkal kepada Allah yang Maha Kuasa, dan dengan memanfaatkan kekuatan bangsa yang berbekal iman dan pengetahuan, kami tengah mengejar cita-cita mulia dan dengan langkah-langkah yang mantap, kami tengah menuju ke sana. Hingga kini kami masih terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi, disertai nilai-nilai maknawi, kemerdekaan, dan kemandirian serta dengan keterikatan kepada batas-batas agama dan demokrasi yang bersumber dari ajaran Al-Quran. Selama ini, negara kami menerima ancaman-ancaman terbesar dari para arogan dunia. Akan tetapi, selama itu pula bangsa kami telah memperoleh iman yang paling berharga dan ketegaran serta kebanggaan yang paling bernilai. Kami berpengalaman dalam mempraktekkan ajaran Al-Quran yang mengatakan,“Inna kaidasy syaithani kaana dha’iifaa”, (Sesungguhnya tipu daya setan itu sangat lemah). Juga Ayat yang berbunyi,“Innallaha ma’al ladziinat taqau wal ladziina hum yuhsinuun”, (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat baik). Allah juga berfirman,“Wa innallaha ‘alaa nashrihim laqadiir”, (Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk menolong mereka).
          Kami memandang ufuk yang cerah di hadapan bangsa kami dan dunia Islam. Dengan kepercayaan yang kuat kepada janji-janji Ilahi, maka dengan teguh dan kokoh, kami melanjutkan jalan yang telah digariskan oleh pemimpin kami, Imam Khomaini ra.Wal ‘aaqibatu lil muttaqiin.
Sayid Ali Khamenei