Jumlah Akses:621
Jumlah Komentar:0

Zulhijjah 1426 Hijriah

فاذا قضيتم مناسنككم فاذكروالله كذكركم ابائكم او اشد ذكرا
“Ketika kalian sudah menunaikan manasik-manasik (haji) kalian, maka ingatlah kepada Allah sebagaimana kalian mengingat orang-orang tua kalian, atau lebih dari itu.”
Saudara dan saudari umat Islam sekalian, musim haji adalah hari-hari yang penuh harapan. Di musim haji, keagungan solidaritas antar sesama tamu Rumah Tauhid akan menumbuhkan harapan dalam hati mereka, sebagaimana kesegaran jiwa mereka berkat zikir kepada Ilahi akan membukakan pintu-pintu belas kasih Ilahi.
Walaupun manasik-manasik haji sarat dengan rahasia haji dan merupakan zikir khuyu' itu sendiri, tetapi seusai menunaikan manasik-manasik itu para jamaah haji masih diseru lagi untuk berzikir. Zikir diserukan sedemikian rupa karena mengingat Allah dapat mengurai ketegangan batin serta mengalirkan cahaya iman dan pengharapan.  Hati akan menjadi sedemikian penuh harap dan keimanan sehingga dapat memberdayakan seseorang dalam meniti jalan kehidupan yang sarat tantangan dan mendaki puncak kesempuranaan materi dan spiritual.
Zikir kepada Allah adalah spritualitas haji. Ia adalah ruh yang tersemayam dalam setiap amalan haji. Dan ia merupakan sumber mata air yang harus tetap mengalir deras dan dilestarikan seusai hari-hari pelaksanaan haji.
Dalam berbagai gelanggang kehidupan, manusia banyak yang menjadi korban kelalaiannya. Dimanapun ada kelalaian, di situ ada pula keruntuhan moral, penyelewengan pemikiran, dan kehancuran spiritual. Semua ini dampaknya bukan saja berupa kehancuran dalam skala pribadi, tetapi juga kehancuran berskala bangsa dan peradaban.
Ibadah haji adalah salah satu strategi Islam dalam menghadapi kelalaian. Internasionalisasi ibadah haji adalah penjabaran pesan bahwa di tengah kebersamaannya dan di luar kewajiban pribadinyapun umat Islam tetap diseru untuk mengatasi kelalaian.
Ibadah dan manasik haji membukakan kesempatan bagi kita untuk sementara waktu meninggalkan kerangkeng dan keterbelengguan kita kepada nafsu dan kenikmatan jasmani. Ihram, tawaf, solat, sa’i, dan wukuf akan menghanyutkan kita kepada dzikrullah, mendekatkan kita kepada nuansa Ilahi, serta menyematkan kenikmatan dalam hati kita akan rasa tentram di sisi Allah.  
Lebih dari itu, keagungan pertemuan akbar yang tiada taranya dalam ibadah haji juga akan menyadarkan kita kepada realitas umat Islam dalam skup lintas bangsa, suku, warna kulit, dan bahasa. Dalam ibadah haji terjadi pertemuan dan pembauran secara koordinatif, ketergiringan aneka bahasa dalam satu bahasa lantunan zikir, ketertujuan jiwa-jiwa dan raga-raga pada satu kiblat, serta kedatangan manusia-manusia dari puluhan negara dan bangsa. Ini semua terkait dengan satu kesatuan dan komunitas yang besar yang bernama umat Islam.
Adalah realitas bahwa umat Islam telah melintasi masa kelalaian yang berkepanjangan. Keterbelakangan umat Islam sekarang di bidang iptek serta ketertinggalan di gelanggang politik, industri, dan ekonomi adalah hasil kelalaian. Namun, dengan adanya perubahan besar yang telah dan atau akan terjadi di dunia, umat Islam harus bisa menebus ketertinggalan.  Kebetulan, sejumlah fenomena yang muncul sekarang ini menyuguhkan harapan untuk memulai gerakan penebusan tersebut.
Harus diakui pula, kaum adidaya dunia memandang kebangkitan, persatuan, dan kemajuan bangsa-bangsa Muslim di bidang iptek, politik, dan inovasi sebagai kendala terbesar bagi hegemoni mereka atas dunia. Karena itu mereka gigih memerangi kebangkitan umat Islam. Pengalaman era imperialisme dan neo-imperialisme sudah  menerpa kita bangsa-bangsa Muslim. Sekarang yang merupakan era imperialisme post-modernitas, kita harus mengambil banyak pelajaran dari pengalaman-pengalaman itu agar hegemoni para adidaya yang berkepanjangan atas nasib kita jangan sampai terulang lagi.
Di era kelam itu kekuatan-kekuatan besar Barat telah menggunakan semua perangkat budaya, ekonomi, dan militernya untuk melemahkan negara dan bangsa-bangsa Muslim dan memecah belah umat Islam. Kelalaian, kemalasan, dan lemahnya mentalitas sejumlah besar politisi kita serta tidak adanya rasa tanggungjawab sebagian besar budayawan kita telah membantu pekerjaan kekuatan-kekuatan besar tersebut. Akibatnya, harta kekayaan kita terampas, martabat kita terhina, identitas kita musnah, dan kemerdekaan kita hancur. Kita bangsa-bangsa Muslim kian hari kian lemah, sedangkan kaum penjarah dan pemburu kekuasaan semakin kuat.
Sekarang, pengorbanan para pejuang serta keberanian para pemimpin di sejumlah titik dunia Islam, telah melebarkan gelombang kebangkitan Islam. Kaum muda, rakyat, dan para tokoh masyarakat di sejumlah besar negara Islam sudah tampil ke permukaan. Wajah kotor para pemburu kekuasaan sudah terungkap di mata para politisi dan pemimpin umat Islam. Namun, saat itu pula para pemimpin kaum arogan berusaha mendesain dan menerapkan trik-trik baru untuk melanjutkan dan memperkuat dominasinya atas dunia Islam.
Dewasa ini, Setan Besar, AS, yang merupakan manifestasi segala keburukan dan kekejaman terhadap kemanusiaan sedang mengibarkan bendera HAM dan menyerukan kepada bangsa-bangsa Timteng agar mengamalkan demokrasi. Namun, demokrasi yang dimaksud AS di negara-negara Timteng tak lain adalah keadaan melonggarkan para antek AS untuk menjalankan konspirasi, praktik suap, dan manipulasi publik agar dapat berkuasa melalui pemilu yang secara artifisial demokratis tetapi secara esensial disetir oleh AS, agar dapat merealisasikan ambisi-ambisi kotor para didaya.
Bangsa-bangsa Muslim kini harus bersiaga penuh. Para ulama, pemuka agama, intelektual, akademikus, penulis, penyair, seniman, pemuda, tokoh masyarakat, serta seluruh anggota bangsa-bangsa Muslim harus waspada dan bertindak tepat pada waktunya demi menggagalkan misi AS untuk membuka lagi era imperialismenya atas Dunia Islam.
Slogan-slogan demokrasi yang dikumandangkan oleh kekuatan-kekuatan ambisius yang sudah bertahun-tahun membeking rezim-rezim diktator di Asia, Afrika, dan benua Amerika sama sekali tidak bisa diterima. Klaim-klaim perang melawan kekerasan dan terorisme yang didengungkan oleh pihak-pihak yang justru memarakkan terorisme Zionis dan melakukan berbagai aksi kekerasan berdarah di Irak dan Afghanistan adalah klaim yang sangat terkutuk dan memuakkan.
Para pelaku kejahatan di kamp Guantanamo, penjara Abu Ghraib, dan penjara-penjara rahasia di Eropa, para penista martabat bangsa Irak dan Palestina, dan para pengayom kelompok-kelompok teroris yang atas nama Islam telah menghalalkan darah umat Islam di Irak dan Afghanistan, tidak berhak bertitah tentang HAM. Pemerintah AS dan Inggris yang menghalalkan penyiksaan para tersangka dan bahkan pembantaian mereka di jalan-jalan, dan bahkan membolehkan penyadapan percakapan telefon warganya tanpa keputusan hukum pengadilan tidak berhak menampilkan diri sebagai pembela hak-hak sipil.
Pemerintah yang telah mengelamkan sejarah modern dengan produksi dan penggunaan senjata nuklir dan bom kimia tidak berwenang mengatur urusan pencegahan proliferasi nuklir.
Umat Islam sekalian! Dunia sekarang, khususnya Dunia Islam, sedang meniti era yang sangat vital. Gelombang kebangkitan terus merebak di seantero Dunia Islam, dan di saat yang sama, tabir tipu daya dan kemunafikan tersibak dari wajah-wajah kotor AS dan para arogan lainnya. Gerakan penelusuran kembali idenditas dan kekuatan sudah bermula di sebagian kawasan Dunia Islam. Di negara Islam sebesar Iran, tunas-tunas iptek sudah bersemai secara mandiri dan mempribumi, dan rasa percaya diri yang telah mengubah habitat politik dan sosial kini merambah ke lingkungan ilmu pengetahuan dan pembangunan. Di saat yang sama, garis-garis keretakan dan kelemahan dalam konstalasi politik dan militer pihak-pihak musuh sudah terlihat. Irak, Palestina, dan Lebanon kini menjadi panggung yang memperlihatkan lemahnya kekuatan AS dan Zionisme yang gemar menebar klaim. Proyek politik AS di Timteng sudah terbengkalai sejak langkah-langkah awalnya, dan kegagalan ini menjadi bomerang bagi para desainernya.
Bangsa dan negara-negara Muslim kini mampu membuat inisiatif sendiri dan memulai pekerjaan besar. Membantu bangsa tertindas Palestina, mendukung bangsa Irak yang sedang bangkit, memagari stabilitas dan kemerdekaan Lebanon, Suriah, dan negara-negara regional lainnya adalah tugas bersama. Dalam hal ini, tugas para tokoh politik, agamawan, budayawan, tokoh nasional, para pemuda, dan kaum terdidik lebih berat daripada yang lain. Seruan yang harus mereka utamakan antara lain ialah persatuan dan solidaritas antar penganut mazhab Islam demi menghindari pertikaian partisan, sebagaimana mereka juga harus mengutamakan penggalakan upaya-upaya di bidang ilmu pengetahuan, politik dan kebudayaan, serta memobilisasi semua kekuatan pada upaya-upaya ini.
Untuk demokrasi dan HAM, Dunia Islam tidak memerlukan referensi Barat yang sudah menyimpang dan berkali-kali dilanggar oleh Barat sendiri. Kerakyatan adalah salah satu nilai yang paling diprioritaskan dalam ajaran Islam. Memang, ilmu pengetahuan harus dipelajari dari siapapun pemilik dan dimanapun tempatnya. Namun, Dunia Islam harus tergerak untuk tidak selamanya menjadi murid. Dunia Islam harus mengerahkan segenap potensi dan hasratnya untuk dapat berinovasi, berkreasi, dan memproduksi ilmu pengatahuan.
Nilai-nilai Barat yang telah menimbulkan dekadensi moral, memarakkan pemuasan syahwat dan kekerasan, melegalkan hubungan seksual dengan sesama jenis, dan sederet kebobrokan lainnya sama sekali tidak patut ditiru. Islam memiliki nilai-nilai agung sebagai sumber kebahagiaan manusia. Nilai-nilai inilah yang harus dikaji lebih jauh dan disebar-luaskan oleh para pemuka bangsa-bangsa Muslim.
Terorisme yang kini dijadikan bahan oleh pasukan pendudukan di Irak untuk menyerang Islam dan umat Islam sekaligus sebagai dalih untuk melanjutkan aksi pendudukan militer adalah tindakan yang sangat dikutuk oleh ajaran Islam. Pihak yang pertama kali harus bertanggungjawab atas maraknya kejahatan itu adalah tentara AS dan dinas-dinas rahasia AS dan Israel yang gigih berupaya memengaruhi proses pembentukan pemerintahan Irak.
Tawakkal kepada Allah, beriman kepada janj-janji pasti Al-Quran, dan memperkuat persatuan Islam akan menjamin semua aspirasi besar umat Islam. Dan pelaksanaan ibadah haji yang sarat dzikrullah di tengah lautan umat dalam setiap manasiknya adalah momen yang dapat menjadi titik start kebangkitan ini. Dalam ibadah haji, berlepas diri dari para pemimpin kaum kafir dan mustakbirin dalam kata dan amal perbuatan adalah pedoman untuk langkah pertama dalam gerakan kebangkitan ini.
Kita berharap segenap para jemaah mendapat taufik Ilahi, dan segenap umat Islam tersirami berkah doa Hazrat Waliyullah al-A’dham.
Wassalam
Sayid Ali Khamene’i
Dzulhijjah 1426